Monday, 20 Zulhijjah 1441 / 10 August 2020

Monday, 20 Zulhijjah 1441 / 10 August 2020

Ahli: Vaksin China dan Kalung Eucalyptus Beda Kelas

Selasa 28 Jul 2020 03:59 WIB

Rep: Zainur Mashir Ramadhan/ Red: Andri Saubani

Sejumlah pekerja mengemas serbuk hasil pengolahan laboratorium nano teknologi di Balitbangtan, Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian, Cimanggu, Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa (7/7/2020). (ilustrasi)

Sejumlah pekerja mengemas serbuk hasil pengolahan laboratorium nano teknologi di Balitbangtan, Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian, Cimanggu, Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa (7/7/2020). (ilustrasi)

Foto: ANTARA/ARIF FIRMANSYAH
Ahli biologi molekuler Ahmad Utomo memberikan penilaian terhadap vaksin Sinovac.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pakar biologi molekuler, Ahmad Rusdan Handoyo Utomo menilai, kualitas vaksin Covid-19 Sinovac asal China telah terbukti teruji klinis pada dua fase. Hal itu, berbeda dengan polemik kalung antivirus eucalyptus yang baru-baru ini ramai mencuat.

Baca Juga

"Karena kualitas sains China bukan kaleng-kaleng. Dibandingkan dengan kalung kemarin ya jauh kualitasnya,’’ ujar dia kepada Republika, Senin (27/7).

Menurutnya, pihak China melalui perusahaan yang mengurus vaksin memang bisa dikatakan bonafide. Pasalnya, setiap uji klinis melalui pantauan yang ketat.

Sehingga, dalam prosesnya tak ada korban jiwa dalam uji klinis tahap pertama dan kedua. Dan walaupun ada, kata dia, perusahaan itu tidak bisa atau bahkan mampu untuk menutup-nutupinya.

"Sekarang lebih susah bohong. Kita enggak bisa bohong terus-menerus, apalagi skala perusahaan besar,’’ kata dia.

Dalam uji coba itu, yang digunakan menurutnya, bukan virus murni. Sehingga, dalam uji klinis tahap ketiga pun tidak akan ada korban jiwa.

Terlebih, dalam setiap uji coba sebelumnya ada ratusan relawan yang ikut serta dan terbukti aman. "Saat ini memang boleh beda pandangan terhadap China, apalagi masalah Uighur. Tapi, kalau bicara vaksin jangan dicampur adukan,’’ tuturnya.

Peraih Postdoctoral Fellowship Harvard Medical School itu menambahkan, kelas penelitian China dan Indonesia memang sangat berbeda, bahkan ia sebut memiliki gap level yang jauh.

"Boleh benci pada sesuatu, termasuk China, tapi harus adil," katanya.

Menurutnya, vaksin memang masih akan selesai dalam waktu yang lama. Sehingga, pada pihak yang percaya konspirasi, ia menyarankan untuk tetap melakukan protokol kesehatan, dari mulai masker, pengurangan AC dan lainnya.

"Jadi walau bicara konspirasi, hindari kerumunan dan ngobrol secukupnya saja.’’ ungkap dia



BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA

 
 

TERPOPULER