Tuesday, 29 Ramadhan 1442 / 11 May 2021

Tuesday, 29 Ramadhan 1442 / 11 May 2021

Bergerak di Zona Hijau, IHSG Dibayangi Sentimen Negatif

Senin 27 Jul 2020 10:47 WIB

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Fuji Pratiwi

Karyawan mengamati layar pergerakan harga saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona hijau pada perdagangan Senin (27/7) meski masih dibayangi sentimen negatif.

Karyawan mengamati layar pergerakan harga saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona hijau pada perdagangan Senin (27/7) meski masih dibayangi sentimen negatif.

Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso
Peningkatan infeksi Covid-19 memunculkan kekhawatiran pemberlakukan lockdown.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona hijau pada perdagangan Senin (27/7). Pada pukul 10.00, indeks saham berada di posisi 5.096,58, menguat 0,27 persen dari posisi perdagangan sebelumnya di level 5.082,99.

Direktur Anugerah Mega Investama, Hans Kwee, mengatakan, pergerakan pasar saham pada pekan ini masih dipengaruhi oleh sentimen pandemi Covid-19. Meningkatnya infeksi menimbulkan kekhawatiran adanya kebijakan pengendalian seperti lockdown.

Pasar juga memperhatikan laba perusahaan dan potensi bisnis khususnya perusahaan teknologi. "Ketika laporan tidak sesuai harapan terutama perusahaan teknologi memberikan tekanan pada pasar," kata Hans. 

Baca Juga

Selain itu, Hans menambahkan, pasar juga memperhatikan data ekonomi Amerika Serikat (AS). Di antaranya klaim pengangguran mingguan yang meningkat. Saat ini pelaku pasar menanti rillis data PDB kuartal kedua dengan konsensus analis memperkirakan PDB AS turun 35 persen. 

Di samping itu, kelanjutan konflik China dan AS menjadi perhatian pelaku pasar menyusul aksi saling tutup konsulat kedua Negara di Houston dan Chengdu. Risiko jangka pendek terbesar saat ini adalah salah satu negara baik AS maupun China melangkah lebih jauh dan melanggar kesepakatan perjanjian fase Satu. 

"Hal ini dapat membuat berlanjutnya perang dagang kedua negara," kata Hans.

Sementara dari dalam negeri, Hans mengatakan pelaku pasar perlu hati-hati dengan sentimen positif vaksin karena masih butuh waktu untuk memastikan suksesnya vaksin tersebut. Selain itu masih ada potensi gagal pada pengujian vaksin fase 3. 

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA