Sunday, 8 Rabiul Awwal 1442 / 25 October 2020

Sunday, 8 Rabiul Awwal 1442 / 25 October 2020

Mungkinkah Hidup Normal Lagi Setelah Ada Vaksin Covid-19?

Senin 27 Jul 2020 06:05 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Hiru Muhammad

Pejalan kaki bermasker melintas di psat bisnis Melbourne, Australia, Rabu (22/7). Pemerintah Australia melaporkan rekor baru kasus Covid-19 di Victoria dan memicu kekhawatiran gelombang kedua.

Pejalan kaki bermasker melintas di psat bisnis Melbourne, Australia, Rabu (22/7). Pemerintah Australia melaporkan rekor baru kasus Covid-19 di Victoria dan memicu kekhawatiran gelombang kedua.

Foto: James Ross/AAP Image via AP
Kehidupan mungkin bisa kembali seperti dulu bila dua hal terpenuhi.

REPUBLIKA.CO.ID MELBOURNE--Banyak orang yang berpikir kehidupan akan segera kembali seperti semula setelah vaksin Covid-19 ditemukan. Mungkinkah itu benar-benar terjadi?

Mungkin atau tidaknya kehidupan bisa kembali normal seperti dulu akan sangat bergantung pada seberaba bagus vaksin yang diciptakan. Kehidupan mungkin bisa kembali seperti dulu bila dua hal terpenuhi.

Hal yang pertama adalah vaksin Covid-19 yang diciptakan memiliki efektivitas lebih dari 90 persen. Hal yang kedua adalah lebih dari 90 persen populasi dunia mendapatkan vaksin tersebut sehingga tercipta herd immunity atau kekebalan kelompok. "Ini akan dengan efektif menjadi 'kartu untuk keluar dari penjara'," kata ahli epidemiologi dari Merlbourne University Profesor Tony Blakely, seperti dilansir New Zealand Herald.

Namun, kehidupan normal seperti dulu akan sulit dicapai bila yang terjadi adalah sebaliknya. Blakely mencontohkan, bila vaksin yang ditemukan hanya memiliki efektivitas sekitar 60 persen dan cakupan vaksinasinya hanya berkisar 50-70 persen, maka infeksi serta kematian akibat Covid-19 akan terus terjadi.

Bukan berarti vaksin seperti ini tidak berguna. Keberadaan vaksin akan tetap sangat membantu dalam upaya pengendalian Covid-19 dibandingkan tidak ada vaksin sama sekali. "Namun sekali Anda membuka perbatasan, Anda akan tetap terdampak oleh wabah, walaupun akan ada angka kematian yang lebih rendah," kata Blakely.

Kekhawatiran terkait cakupan vaksin Covid-19 yang tak sesuai cukup beralasan. Sebuah survei di Australia menunjukkan hanya 68 persen dari responden yang ingin mendapatkan vaksin Covid-19 setelah vaksin tersedia.

Ada skenario ketiga yang mungkin terjadi, lanjut Blakely. Skenario ketiga tersebut adalah bila vaksin tak berhasil dikembangkan, atau membutuhkan waktu terlalu lama untuk dibuat. Penantian yang terlalu lama dapat membuat orang-orang merasa tak lagi mampu untuk menunggu. Dalam kondisi ini, perbatasan mungkin akan kembali dibuka dan orang-orang akan bergantung pada sistem pengobatan yang lebih baik.

Ada pula skenario keempat yang mungkin menjadi opsi. Opsi tersebut adalah metode pengetesan yang lebih baik untuk mengidentifikasi infeksi dengan lebih akurat.

"Itu akan membuat kita lebih baik untuk mengendalikan dan mengatasi virus (SARS-CoV-2)," jelas Blakely.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA