Jumat 24 Jul 2020 23:46 WIB

IPC Tunda Ekspansi Pelabuhan Asing Akibat Ancaman Resesi

Ekspansi pelabuhan asing di review ulang karena terhantam resesi negaranya

Deretan mobil baru siap ekspor terparkir di PT Indonesia Kendaraan Terminal atau IPC Car Terminal, Cilincing, Jakarta.  PT Pelabuhan Indonesia II atau Indonesia Port Corporations (IPC) memutuskan untuk menunda ekspansi akuisisi pelabuhan asing akibat ancaman resesi global yang terjadi di sejumlah negara.
Foto: Antara/Aprillio Akbar
Deretan mobil baru siap ekspor terparkir di PT Indonesia Kendaraan Terminal atau IPC Car Terminal, Cilincing, Jakarta. PT Pelabuhan Indonesia II atau Indonesia Port Corporations (IPC) memutuskan untuk menunda ekspansi akuisisi pelabuhan asing akibat ancaman resesi global yang terjadi di sejumlah negara.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Pelabuhan Indonesia II atau Indonesia Port Corporations (IPC) memutuskan untuk menunda ekspansi akuisisi pelabuhan asing akibat ancaman resesi global yang terjadi di sejumlah negara.

“Ada beberapa pelabuhan di Vietnam dan Bangladesh, mereka terhantam cukup berat, kita review ulang,” kata Direktur Utama Pelindo II Arif Suhartono dalam diskusi virtual yang bertajuk “Diterpa Badai COVID, Mampukah Industri Pelabuhan Bertahan?” di Jakarta, Jumat (24/7).

Arif mengatakan pendapatan yang bisa diraup oleh perusahaannya tidak lebih dari Rp 13 triliun, berbeda dengan BUMN lainnya, contohnya PT Pertamina (Persero) yang bisa mencapai ratusan triliun. “Pendapatan IPC tidak lebih dari Rp 13 triliun, berbeda dengan Pertamina value business-nya bisa sampai ratusan triliun,” katanya.

Namun, menurut dia, dampak pandemi COVID-19 yang terjadi pada Pelindo II tidak separah jika dibandingkan dengan beberapa operator pelabuhan dunia lainnya. Contohnya trade import index India menurun 27 persen pada 2020 dibandingkan dengan 2019, Korea Selatan 27 persen, Jepang 26 persen, Turki 25 persen, China 24 persen, Vietnam 22 persen, Spanyol 19 persen, Jerman 18 persen, Brazil 13 persen dan Indonesia 13 persen.

Kendati pun, lanjut dia, Pelindo II tetap terimbas,terutama jumlah bongkar muat, yakni layanan kontainer turun 8,3 persen dari 3,6 juta TEUs pada 2019 menjadi 3,3 juta TEUS pada Juni 2020 setelah Corona.

Selain itu, layanan non-kontainer turun 11,8 persen dari 28,4 juta tonase menjadi 25,4 juta tonase, shipping call 13,9 persen dari 100,8 juta GT menjadi 88,5 GT dan penumpang 280 persen dari 552.000 orang menjadi 197.000 orang.

Sehingga, Arif mengatakan, perusahaan merevisi sejumlah target, di antaranya target layanan kontainer dari sebelum Corona 2020 yakni 8,05 juta TEUS, menjadisetelah Corona menjadi 6,82 juta TEUs. Layanan non-kontainer dari 65,69 juta tonase menjadi 52,65 tonase, shipping call dari 225,96 juta GT menjadi 180,53 juta GT dan penumpang dari 995.900 orang menjadi 397.200 orang.

Untuk itu, Arif mengatakan pihaknya akan berfokus untuk mengembangkan bisnis pelabuhan di ranah domestik. “Kita lakukan adjustment ulang. Lebih mencoba untuk memaksimalkan sisi domestik,” katanya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement