Friday, 24 Zulhijjah 1441 / 14 August 2020

Friday, 24 Zulhijjah 1441 / 14 August 2020

Jejak Raja Cirebon yang Telah Mangkat

Sabtu 25 Jul 2020 04:23 WIB

Red: Joko Sadewo

Agus Yulianto

Agus Yulianto

Foto: Yogi Ardhi/Republika
Raja Cirebon PRA Arief Natadiningrat menorehkan jejak positif di tanah Cirebon.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Agus Yulianto*

Innalillahi wa inna lillahi rojiun..., Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat, mangkat. Berita duka yang datang dari Keraton Kasepuhan Cirebon, Provinsi Jawa Barat itu, santer bermunculan di media sosial pasca-Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat wafat, Rabu (22/7) sekitar pukul 05.20 WIB.

Sultan Sepuh wafat saat tengah menjalani perawatan di Rumah Sakit Sentosa Bandung. Sultan didiagnosa mengidap penyakit kanker sejak beberapa waktu lalu.

Sultan Sepuh dimakamkan di pemakaman Astana Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, pada hari itu juga. Lokasi tersebut pun merupakan kompleks pemakaman Sunan Gunung Jati beserta keturunannya, termasuk para sultan dari Keraton Kasepuhan Cirebon.

Wafatnya Sultan Sepuh XIV Keraton Kasepuhan Cirebon, PRA Arief Natadiningrat memang meninggalkan duka yang mendalam bagi berbagai kalangan. Apalagi, almarhum adalah sosok orang tua yang menjadi panutan.

Mengenang nama Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat, pasti tidak akan lepas dari kepeduliannya yang begitu besar kepada masyarakat pesisir pantai utara (Pantura) Jabar dan sekitarnya. Tak hanya masalah keagamaan, tapi juga ekonomi kerakyatan, pendidikan, serta budaya.

Dalam bidang keagamaan, sudah tak diragukan lagi. Sejak zaman Wali Sanga Sunan Gunung Jati (Syekh Syarif Hidayatullah) yang bertahta dari 1478-1568, penyebaran agama Islam sudah cukup masih. Ribuan pesantren pun didirikan di wilayahnya, banyak tokoh ulama lahir di kota ini. Hingga akhirnya kita mengenal Cirebon dengan sebutan 'Kota Wali'.

Begitu dengan pembangunan ekonomi kerakyatan. Pada sektor ini, Sultan Sepuh XIV Keraton Kasepuhan Cirebon, PRA Arief Natadiningrat, mengajak semua lapisan masyarakat khususnya di Wilayah Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan) agar dapat menggerakkan ekonomi umat. Hal itu dimaksudkan agar kesejahteraan umat dapat meningkat dan membebaskan mereka dari cengkeraman para kapitalis.

Saat ini kemajuan di Wilayah Ciayumajakuning berkembang sangat pesat. Bahkan, Pemprov Jabar akan menjadikan wilayah ini sebagai Metropolitan Cirebon Raya. Ya, kemajuan Wilayah Ciayumajakuning itu tak terlepas dari dukungan berbagai infrastruktur yang  memadai. Seperti jalan tol, jalur kereta api double track, pelabuhan dan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) yang akan segera dioperasikan.

Dengan infrastruktur yang lengkap dan kemajuan yang pesat, Wilayah Ciayumajakuning banyak diincar para pengusaha untuk menanamkan investasinya. Begitu pula para wisatawan yang telah menjadikan wilayah ini sebagai salah satu tujuan wisata.

Di sisi lain, bersama sejumlah kalangan, Sultan pun mendirikan Koperasi Mandiri Indonesia Madani (MIM). Dari koperasi itu, kini sedang dirintis pula pendirian badan usaha distribusi center. Ini salah satu upaya agar warga Ciayumajakuning tidak tertinggal. Intinya, pembangunan ekonomi dan investasi di Cirebon juga bisa dinikmati warganya, dan tidak hanya sebagai penonton belaka.

Sedangkan di bidang budaya. Kota Cirebon pun terut berkomitmen melestarikan budaya Indonesia. Salah satunya adalah adat tradisi dan budaya keraton yang bernilai luhur.

Potensi itu yang kemudian dimanfaatkan oleh Kemenpar dengan mendukung Festival Keraton Nusantara (FKN). FKN itu sendiri berawal dari Festival Keraton se-Jawa yang diadakan di Solo pada tahun 1992. Kegiatan ini kemudian dikembangkan menjadi Festival Keraton Nusantara (FKN). FKN pertama kali diselenggarakan pada tahun 1995 di Yogyakarta.

Tak berselang lama, Cirebon pun menjadi tuan rumah pada FKN II tahun 1997 yang dibuka Wakil Presiden Try Sutrisno, kala itu. Penulis bahkan sempat meliput acara FKN di Yogyakarta dan Cirebon. Sungguh luar biasa ajang FKN ini dan pantas mendapat banyak sambutan dalam dan luar negeri.

Bahkan, FKN XI pun digelar di Cirebon. Festival yang digelar pada 15 hingga 20 September 2017 ini dimeriahkan oleh 50 keraton se-Indonesia dan 100 peninjau dari 150 keraton. Keraton Kasepuhan Cirebon yang menjadi tuan rumah FKN XI ini  menerima tamu lebih 10 ribu orang. Itu belum menghitung jumlah wisman dan wisnu yang mencapai ratusan ribu orang.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kemenpar Esthy Reko Astuti mengatakan tahun ini Kota Cirebon menjadi tuan rumah FKN yang kedua kalinya. Sebelumnya, Cirebon pernah menjadi tuan rumah pada FKN II tahun 1997 yang dibuka Wakil 

Selain itu, Sultan Supuh XIV pun terus berupaya melestarikan naskah kuno dengan digitalisasi, mengkaderisasi para seniman, hingga mendirikan pesantren yang melahirkan para penghafal Alquran.

Meskipun sebagian ada yang termakan rayap, ratusan naskah kuno telah dipreservasi dan digitalisasi yang dilakukan Perpustakaan Nasional, dilakukan selama tiga tahun pada 2013-2016 lalu. Penyelamatan naskah menjadi salah satu program prioritas begitu Sultan Arief yang pernah menjadi anggota DPD RI periode 2004-2009 jumeneng (bertakhta) tahun 2010.

Di bidang pendidikan pun, kiprah Sultan Sepuh XIV ini tak kalah hebat. Itu dicontohkan dengan didirikannya Pondok Pesantren Amparan Jati yang melahirkan para tahfizd Alquran. Keraton kasepuhan pun mendirikan SMK Caruban Nagari dengan jurusan otomotif. Sekolah ini gratis untuk yatim piatu dan fakir miskin.

Sosok Sultan Sepuh XIV Keraton Kasepuhan PRA Arief Natadiningrat memanag sosok enerjik yang penuh ide dan kreativitas. Bahkan, Gubernur Jawa Barat Ridwan pun mengenang almarhum sebagai sosok yang sopan, santun, bertutur bahasa halus dan memiliki akhlak yang baik.

Ini karena almarhum juga senantiasa mengajarinya tentang keikhlasan. Sultan Arief juga menasihatinya dan mengingatkannya mengenai jabatan di dunia yang hanya bersifat sementara. "Saya sangat kehilangan," tutur Emil saat bertakziah ke Keraton Kasepuhan Cirebon dan turut menyolatkan jenazah sultan.

Sultan Arief meninggalkan seorang istri, Raden Ayu Isye Natadiningrat, dan empat orang anak. Anaknya yang bernama PRA Luqman Zulkaedin merupakan putra mahkota yang akan meneruskan tahtanya.

Suksesi kepemimpinan di Keraton Kasepuhan Cirebon akan segera berganti pascawafatnya Sultan Sepuh XIV, Pangeran Raja Adipati (PRA) Arief Natadiningrat. Putra mahkota PRA Luqman Zulkaedin akan menggantikan tahta ayahnya sebagai Sultan Sepuh XV Keraton Kasepuhan.

Adik kandung almarhum Sultan Arief, Ratu Raja Alexandra Wuryaningrat, menyatakan, pergantian tahta di Keraton Kasepuhan Cirebon dari Sultan Arief kepada PRA Luqman, dilakukan sesuai tradisi yang berlangsung turun temurun. "Tetap dari garis laki-laki," kata Alexandra, Rabu (22/7).

PRA Luqman memang telah disiapkan untuk menggantikan kedudukan ayahnya, jauh sebelum Sultan Arief wafat. Luqman yang sebelumnya bergelar Pangeran Raja (PR), diberi gelar PRA.

Pangeran Arif Natadiningrat, dinobatkan sebagai Sultan Sepuh XIV pada 9 Juni 2010. Beliau menggantikan Sultan Sepuh XIII yang merupakan ayahandanya tepat 40 hari setelah wafatnya. Seperti dikutip dari laman resmi Keraton Kasepuhan, penobatan ini dilakukan dalam rangkaian acara “Jumenengan” di Keraton Kasepuhan Cirebon.

Aturan adat atau dalam bahasa Cirebon disebut pepakem mengenai pengganti sultan telah diatur dan dicontohkan semenjak didirikannya kesultanan Cirebon, menurut sejarah kesultanan Cirebon telah mencontohkan pengangkatan pemimpin atau sultan berdasarkan aturan Islam atau syariah. Semoga penerus tahta Kesultanan Cirebon berikutanya, juga memiliki sifat seperti sifat ayahandanya.

*) Penulis adalah redaktur Republika.co.id

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA