Friday, 24 Zulhijjah 1441 / 14 August 2020

Friday, 24 Zulhijjah 1441 / 14 August 2020

Tahun Kematian Industri Penerbangan

Jumat 24 Jul 2020 18:08 WIB

Red: Joko Sadewo

Nidia Zuraya

Nidia Zuraya

Foto: republika
Lusinan Boeing hanya diparkir di lapangan penerbangan perusahaan

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Nidia Zuraya*

Kemunculan virus corona penyebab penyakit Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) yang bermula di Wuhan, China, kemudian menyebarluas ke berbagai tempat di belahan dunia membuat banyak negara melakukan pembatasan mobilitas publik, baik dalam skala domestik maupun antarnegara. Pembatasan mobilitas publik ini seiring dengan kebijakan karantina wilayah yang diterapkan oleh berbagai negara.

Kebijakan karantina wilayah membuat orang-orang terisolasi di rumah dan tidak bebas bepergian. Akibatnya, menurut International Air Transport Association (IATA), jumlah lalu lintas perjalanan global melalui jalur udara anjlok 95 persen pada April lalu jika dibandingkan April 2019. 

Anjloknya jumlah perjalanan udara membuat bisnis maskapai penerbangan dan pesawat terbang terdampak signifikan.

Direktur Jenderal dan CEO IATA Alexandre de Juniac, memperkirakan industri maskapai penerbangan dunia bakal mengalami kerugian hingga 84,3 miliar dolar AS pada tahun ini. Perkiraan kerugian tersebut dengan estimasi jumlah penumpang pesawat pada tahun ini sebanyak 2,2 miliar orang.

Saat pandemi lebih dari 5.000 pesawat tak mengudara dan dikandangkan. Pesawat yang dikandangkan terutama yang berbadan lebar, yakni Boeing 747 dan Airbus A380.

Pesawat jumbo yang mampu menampung hingga 366 penumpang ini harus berada di kandang sepanjang 2020. Banyak pihak memprediksi tahun ini merupakan tahun kematian bagi Boeing 747 dan Airbus A380.

Sinyal kematian Boeing 747, misalnya, datang dari maskapai penerbangan Inggris British Airways (BA). BA mengisyaratkan tak akan lagi menggunakan seluruh pesawat tipe Boeing 747 yang dioperasikannya. Padahal, BA merupakan salah satu operator penerbangan terbesar yang menjadi pelanggan Boeing.

Diantara pesawat yang digunakan, BA mengoperasikan 31 unit pesawat tipe Boeing 747. Jumlah tersebut menjadi sekitar sepersepuluh dari total armada yang digunakan BA saat ini.

Lufthansa juga memiliki 13 pesawat tipe Boeing 747, sementara Air China dan Air India juga masih mengoperasikan beberapa pesawat 747.

Penerbangan penumpang terakhir KLM dengan Boeing 747 berlangsung pada Maret 2020 lalu. Sedangkan penerbangan terakhir Qantas Airlines dengan Boeing 747 dijadwalkan pada pekan ini.

Jauh sebelumnya, maskapai Amerika Serikat seperti Delta dan United Airlines sudah memensiunkan Boeing 747 milik mereka beberapa tahun lalu. Air France melakukan hal yang sama pada tahun 2016.

Bagaimana dengan pemesanan pesawat baru?

Kelesuan pengiriman dialami pabrikan pesawat komersial asal Prancis, Airbus. Pengiriman pesawat Airbus turun menjadi hanya 196 unit pesawat pada paruh pertama 2020.

Padahal, di periode sama tahun lalu, Airbus mampu mengirim sebanyak unit 389 pesawat. Pandemi corona juga menghancurkan harapan produsen pesawat ini untuk menembus rekor produksi di tahun depan.

Bukan cuma Airbus, Boeing Co juga kehabisan ruang untuk menyimpan seri 787 Dreamliners yang baru saja dibangun. Dilaporkan, lusinan pesawat Boeing itu hanya diparkir di lapangan penerbangan perusahaan. Bahkan, setidaknya ada 50 pesawat Boeing menganggur di lapangan udara dekat pabrik Boeing di wilayah Washington dan South Carolina.

Penurunan drastis pada jumlah penumpang pesawat serta pemesanan armada baru pada akhirnya berdampak pada gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di industri penerbangan dunia. Maskapai penerbangan dunia dan pabrikan pesawat ramai-ramai mengumumkan soal rencana pengurangan jumlah pekerja.

Awal Juli lalu Air France mengumumkan akan mengurangi sebanyak 7.500 karyawan.  Sementara maskapai Emirates berencana mem-PHK 9.000 pegawainya. British Airways pada akhir April mengumumkan memangkas hingga 12.000 pekerjaan.

Menurut Air Transport Action Group yang berbasis di Jenewa, sekitar 1,2 juta orang di seluruh dunia bekerja di ruang angkasa sipil, termasuk insinyur, perancang pesawat terbang, dan pekerja pabrik. Lalu 9 juta lainnya bekerja untuk maskapai, bandara, dan penyedia layanan navigasi udara.

Kini maskapai global hanya menggantungkan nasibnya ke dukungan pemerintah (bailout). IATA memperkirakan dukungan yang dibutuhkan senilai 200 miliar dolar AS.

Mengutip The Economist, beberapa maskapai penerbangan global yang sudah disuntik oleh pemerintah antara lain maskapai penerbangan AS yang mendapat suntikan hibah dan pinjaman federal senilai 25 miliar dolar AS. Kemudian ada Air France-KLM dan Lufthansa yang masing-masing mendapat talangan sebesar 11 miliar dolar AS.

Virus Covid-19 tak bisa dianggap sepele. Makhluk hidup sekaligus benda mati berukuran ultra mikroskopik tersebut bisa menumbangkan industri yang berjaya di langit luas.

*) Penulis adalah redaktur Republika.co.id

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA