Sunday, 3 Jumadil Awwal 1444 / 27 November 2022

Psikolog Ingatkan Orang Tua Jaga Kesehatan Mental Anak

Jumat 24 Jul 2020 02:02 WIB

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Andri Saubani

Perlindungan anak (ilustrasi).

Perlindungan anak (ilustrasi).

Foto: www.freepik.com
Anak yang sehat mental akan dapat menghadapi stres dengan baik.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Psikolog anak, Annelia Sari Sani menegaskan, kesehatan mental anak penting dijaga. Karena, anak yang memiliki kesehatan mental baik akan memiliki beberapa karakter positif.

"Seperti anak akan dapat beradaptasi dengan berbagai keadaan," katanya saat di konferensi video virtual Halodoc memperingati kesehatan mental anak di HAN, Kamis (23/7).

Baca Juga

Dengan tantangan kehidupan manusia yang saat ini semakin macam-macam, dia melanjutkan, kemampuan bisa beradaptasi sangat penting. Apalagi, dia melanjutkan, di periode pandemi virus corona SARS-CoV2 (Covid-19) ini sudah diterapkan adaptasi kebiasaan baru (new normal).

"Jadi kalau anak-anak kita tidak bisa adaptasi ya gimana ke depannya," katanya.

Selain itu, kemampuan resiliensi atau ketahanan anak juga diperlukan. Ia mengibaratkan bola ketika jatuh bisa kembali memantulkan ke atas.

Kemudian, dia melanjutkan, anak yang sehat mental dapat menghadapi stres dengan baik. Artinya, dia melanjutkan, anak ini dapat menjaga hubungan dengan baik dan dapat bangkit dari keadaan sulit.

Ia menegaskan, kesehatan mental anak penting untuk dijaga karena 15 persen anak remaja di negara berkembang pernah berpikiran bunuh diri.

"Berbagai riset menunjukkan 15 persen anak remaja di negara berkembang pernah berpikiran untuk bunuh diri. Tindakan ini menjadi penyebab kematian terbesar ketiga di dunia anak kelompok usia 15 hingga 19 tahun," ujarnya.

Tak hanya itu, dia melanjutkan, riset kesehatan dasar (riskesdas) 2018 juga menunjukkan adanya kenaikan gangguan mental emosional pada masa remaja usia 15 tahun menjadi 9,8 persen padahal di riskesdas 2013 hanya 6 persen. Jadi ia mengakui cukup tinggi kenaikannya terlebih di Indonesia dengan populasi banyak. 

"Ini jadi besar (jumlahnya). Misalnya kalau 8 persen atau 10 persen saja (alami gangguan mental) padahal jumlah anak hingga remaja di Indonesia sekitar 80 juta, berarti kan sekitar 8 juta jiwa (remaja alami gangguan mental emosional)," katanya.

Padahal, dia melanjutkan, kesehatan mental pada masa dewasa sebenarnya bersumber dari masa anak-anak dan remaja.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA