Saturday, 7 Rabiul Awwal 1442 / 24 October 2020

Saturday, 7 Rabiul Awwal 1442 / 24 October 2020

Turki Ingatkan Mesir Bahaya Kirim Militer ke Libya

Kamis 23 Jul 2020 19:15 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Teguh Firmansyah

Tentara menjaga Kota Tripoli, Libya. (ilustrasi)

Tentara menjaga Kota Tripoli, Libya. (ilustrasi)

Foto: EPA-EFE/STRINGER
Turki menilai langkah Mesir akan menerjunkan militer ke Libya kontraproduktif.

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA -- Pemerintah Turki memperingatkan Mesir tentang ancamannya mengerahkan pasukannya untuk berperang di Libya. Menurut Ankara, langkah tersebut kontraproduktif dan berbahaya.

"Pengumuman baru-baru ini oleh Pemerintah Mesir dan parlemen memberi perintah mandat, atau izin, untuk mengirim pasukan Mesir ke Libya sangat kontraproduktif. Ini akan menjadi petualangan militer yang berbahaya bagi Mesir," kata juru bicara kepresidenan Turki Ibrahim Kalin dalam diskusi virtual yang diselenggarakan European Policy Centre pada Kamis (23/7), dikutip laman BNN Bloomberg.

Pada Senin (20/7) lalu, parlemen Mesir telah menyetujui permintaan Presiden Abdul Fattah al-Sisi untuk mengirim pasukan ke Libya. Hal itu akan secara langsung membuat Mesir berhadapan dengan Turki. Sebab kedua negara itu mendukung pihak yang berseberangan dalam konflik sipil Libya.

Turki mendukung Government of National Accord (GNA), yakni pemerintahan Libya yang diakui PBB. Sementara Mesir menyokong Libyan National Army (LNA) yang dipimpin Jenderal Khalifa Haftar. Pada Kamis pekan lalu Sisi menyatakan negaranya dapat mempersenjatai suku-suku di Libya untuk melawan pemerintah yang diakui secara internasional.

“Mesir mampu mengubah kancah militer di Libya dan telah memiliki pasukan terkuat di dunia Arab serta Afrika. Jika pasukan Mesir memasuki Libya, Anda (para pemimpin suku) akan menjadi pemimpin pasukan dengan bendera Libya,” kata Sisi saat melakukan pertemuan dengan para pemimpin suku Libya di Kairo.

Bulan lalu Sisi telah memperingatkan agar pasukan GNA tidak melewati garis depan Sirte dan Al-Jufra. Kedua wilayah itu dianggap merupakan garis merah bagi Mesir. Saat ini Sirte masih dihuni pasukan LNA.

Selama setahun belakangan, LNA telah melancarkan serangan ke basis GNA di Tripoli. Namun beberapa pekan terakhir, GNA, dengan bantuan Turki berhasil memukul mundur pasukan LNA dan merebut kembali wilayah-wilayah yang sebelumnya dikuasai  LNA. Mereka bahkan berhasil menguasai Tarhuna, benteng terakhir Haftar di Libya barat. GNA terus mendesak LNA hingga ke kota pesisir Sirte.

Mesir selaku pendukung LNA sempat menyerukan gencatan senjata. Khalifa Haftar yang posisinya tengah terdesak segera menyetujuinya. Namun Turki dan GNA menolak seruan tersebut. Mereka menilai seruan itu hanya taktik setelah LNA mengalami kekalahan telak dalam pertempuran.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA