Thursday, 11 Rabiul Akhir 1442 / 26 November 2020

Thursday, 11 Rabiul Akhir 1442 / 26 November 2020

Dosa-dosa Besar Manusia (3-Habis)

Jumat 24 Jul 2020 02:40 WIB

Rep: Syahruddin El Fikri/ Red: Muhammad Hafil

Dosa-dosa Besar Manusia . Foto: Kesadaran akan hadirnya Allah dalam setiap helaan nafasnya inilah yang menyelamatkan para hamba dari berbuat maksiat.

Dosa-dosa Besar Manusia . Foto: Kesadaran akan hadirnya Allah dalam setiap helaan nafasnya inilah yang menyelamatkan para hamba dari berbuat maksiat.

Foto: Brainchildmag.com/ca
Sedikitnya, ada 70 dosa besar yang sering dilakukan manusia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Syirik ditempatkan sebagai dosa yang paling besar karena itu pelakunya akan ditempatkan di neraka dan ia kekal di dalamnya. Menurut (Alm) Nurcholis Madjid, dalam bukunya Islam Agama Peradaban, syirik merupakan perbuatan dosa besar karena seseorang telah menduakan Tuhan dan menafikan keberadaannya. Padahal, kata Cak Nur, dalam persaksian dalam syahadat, 'Tidak ada tuhan selain Allah' (Laa ilaha Illa Allah), mengandung konsep negasi afirmasi (an-Nafy wa al-itsbat).

''Konsep negasi afirmasi menunjukkan kemustahilan seseorang mencapai iman yang benar, kecuali jika ia telah melewati proses pembebasan dirinya dari kepercayaan yang ada. Sebab, sesungguhnya persoalan umat manusia--yang dengan mudah dapat dibuktikan secara empirik--bukanlah bahwa mereka tak percaya pada satu 'tuhan'. Justru sebaliknya. Nurani primordial manusia ialah percaya kepada Tuhan. Namun, karena tidak terbimbing dengan benar, naluri itu tumbuh dan berkembang secara sesat dan tersalurkan ke arah kepercayaan kepada Tuhan secara berlebihan, yaitu politeisme atau syirik. Padahal, politeisme atau syirik terbukti merupakan gejala mitologi yang merenggut kebebasan manusia dan membuatnya terbelenggu sehingga tak mampu melihat alam dan kehidupan sekelilingnya secara benar sesuai dengan desain atau sunah Allah. Maka, persoalan manusia yang paling pokok ialah bagaimana membebaskan mereka dari kepercayaan kepada 'tuhan-tuhan' yang hampir semuanya bersifat mitologis itu.'' (Hlm 129-130).



BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA