Wednesday, 9 Ramadhan 1442 / 21 April 2021

Wednesday, 9 Ramadhan 1442 / 21 April 2021

Tanpa Digitalisasi, Bank akan Ditinggal Lari Nasabah

Kamis 23 Jul 2020 12:55 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Friska Yolandha

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menyebutkan, pilar arsitektur keuangan yang terpenting bagi perbankan saat ini adalah digital.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menyebutkan, pilar arsitektur keuangan yang terpenting bagi perbankan saat ini adalah digital.

Foto: dok. Bank Mandiri Syariah
Tidak hanya berdampak pada perbankan itu sendiri, digitalisasi terutama bantu nasabah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menyebutkan, pilar arsitektur keuangan yang terpenting bagi perbankan saat ini adalah digital. Tanpa memanfaatkan teknologi secara optimal, suatu bank tidak akan menjadi preferensi bagi nasabah sehingga sulit untuk berkembang.

Berbicara kompetisi, Wimboh menambahkan, pemanfaatan teknologi menjadi kunci utama. Oleh karena itu, pemerintah dan otoritas kini terus mendorong penggunaan teknologi kepada perbankan, baik besar maupun kecil. "Kalau nggak menerapkan teknologi, jangan harap bisa berkompetisi dengan baik dan nasabah bisa lari," ujarnya dalam acara webinar Kajian Tengah Tahun Institute for Development of Economic and Finance (INDEF), Kamis (23/7).

Saat ini, Wimboh menjelaskan, pihaknya sudah menyiapkan berbagai aturan agar bank di masa mendatang dapat terfasilitasi dengan layanan digital. Di antaranya terkait tingkat kesehatan bank, manajemen risiko hingga anti-fraud yang harus dibentuk perbankan guna mendeteksi kemungkinan penyalahgunaan transaksi digital seperti mobile banking.

Tidak hanya berdampak pada perbankan itu sendiri, Wimboh menuturkan, digitalisasi terutama akan membantu nasabah. Dengan menggunakan teknologi, perbankan dapat menjangkau pelaku usaha mikro dan ultra mikro di daerah-daerah secara lebih cepat.

"Ini akan cepat, murah dan coveragenya luas dalam waktu singkat, nggak perlu buka cabang," tuturnya.

Tapi, Wimboh mengakui, tidak mudah melakukan transformasi digital. Khususnya bank dengan kemampuan modal terbatas untuk membangun infrastruktur digital.

Oleh karena itu, ia menekankan, dalam menyiapkan infrastruktur teknologi dan layanan digital, bank tidak perlu bekerja sendiri. Mereka dapat bersinergi antar bank untuk menyiapkan platform yang lebih kokoh. "Tidak mesti tiap bank install semua infrastruktur sendiri, bisa kolaborasi," ujarnya.

Tidak hanya swasta, Wimboh juga mendorong Bank Pembangunan Daerah (BPD) seluruh Indonesia agar mempercepat integrasi informasi dan teknologi (IT). Percepatan ini diharapkan mampu membantu penyediaan layanan keuangan yang lebih kompetitif.

Wimboh memastikan, OJK berkomitmen memfasilitasi kebutuhan perbankan untuk melakukan digitalisasi. Khususnya dari sisi kebijakan yang mampu mempercepat proses digitalisasi tersebut. "Fasilitas apa yang diminta ke otoritas terkait digitalisasi, untuk percepatan, kami siap," katanya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA