Sunday, 10 Jumadil Awwal 1444 / 04 December 2022

Mencari Rezeki tidak Lepas dari Ibadah pada Allah

Kamis 23 Jul 2020 06:24 WIB

Rep: Fuji E Permana/ Red: Ani Nursalikah

Mencari Rezeki tidak Lepas dari Ibadah pada Allah

Mencari Rezeki tidak Lepas dari Ibadah pada Allah

Foto: Wihdan Hidayat/ Republika
Alquran secara tegas memerintahkan Muslim sungguh-sungguh mencari rezeki.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Salah satu prinsip dasar Islam adalah keyakinan setiap tingkah laku Muslim adalah cerminan dan manifestasi ibadah kepada Allah SWT. Dengan demikian segala aktivitas Muslim tidak lepas dari hubungan vertikal dengan Allah SWT.

"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku." (QS Az-Zariyat: 56).

Baca Juga

Implikasi prinsip ini ialah kegiatan ekonomi tidak terlepas dari ibadah kepada Allah SWT. Dengan demikian kekayaan ekonomi haruslah digunakan untuk memenuhi segala kebutuhan hidup manusia supaya meningkatkan pengabdian manusia kepada Allah SWT.

Hal tersebut dijelaskan oleh Ustadzah Maharati Marfuah dalam buku Konsep Ekonomi dalam Alquran terbitan Rumah Fiqih Publishing. Ustadzah Maharati menerangkan, mencari, mengumpulkan dan memiliki harta kekayaan tidak dilarang selama ia diakui sebagai karunia dan amanah dari Allah SWT. Alquran tidak menentang kepemilikan harta sebanyak mungkin.

"Bahkan Alquran secara tegas dan berulang-ulang memerintahkan agar berupaya sungguh-sungguh dalam mencari rezeki yang diiistilahkan Alquran dengan Fadhl Allah atau limpahan karunia Allah," kata Ustadzah Maharati dalam bukunya.

Di ayat lain Alquran menyebut harta kekayaan dengan 'khayr' artinya kebaikan. Ini berarti harta dinilai sebagai sesuatu yang baik. Harta kekayaan juga disebut sebagai 'qiyam' artinya sandaran kehidupan.

"Bagi-Nya apa yang di langit dan di bumi, Dialah Maha Agung Maha Besar." (QS Asy-Syura: 4).

Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS Al-Baqarah: 29).

Menurut al-Syawkani, substansi ayat tersebut menjelaskan pemilik harta sesungguhnya adalah Allah. Allah yang mengadakan sekaligus meniadakannya sesuai dengan kehendak-Nya.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA