Rabu 22 Jul 2020 14:09 WIB

Mentan Sebut Eucalyptus Potensial untuk Diekspor

Saat ini seluruh dunia tengah menaruh fokus pada kesehatan akibat pandemi Covid-19

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Gita Amanda
Daun eucalyptus. Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo, menyebut tanaman eucalyptus dari Indonesia yang bisa diolah aromaterapi pencegah virus corona sangat berpeluang untuk bisa diekspor ke berbagai negara.
Foto: Wikipedia
Daun eucalyptus. Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo, menyebut tanaman eucalyptus dari Indonesia yang bisa diolah aromaterapi pencegah virus corona sangat berpeluang untuk bisa diekspor ke berbagai negara.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo, menyebut tanaman eucalyptus dari Indonesia yang bisa diolah aromaterapi pencegah virus corona sangat berpeluang untuk bisa diekspor ke berbagai negara. Saat ini seluruh dunia tengah menaruh fokus pada kesehatan akibat pandemi Covid-19.

"Orang butuh eucalyptus. Ini untuk pencegah, bukan obat-obatan. Pencegah yang kita juga butuhkan," kata Syahrul dalam webinar Forum Trade for Indonesia yang digelar secara virtual, Rabu (22/7).

Eucalyptus menjadi salah satu jenis komoditas tanaman rempah-rempah. Syahrul mengatakan, rempah-rempah asal Indonesia sudah diakui dunia dan dibutuhkan banyak negara sebagai bahan baku obat-obatan. Adapun, potensi jenis eucalyptus yang ditemukan Kementan bisa menjadi prototipe antivirus corona pun sudah melalui hasil uji lab.

Syahrul menyampaikan, Kementan memiliki laboratorium Balai Penelitian Veteriner terbesar di Indonesia. Kementan juga memiliki 340 profesor peneliti dan di antaranya menjadi ahli virus. Eucalyptus tersebut pun telah diolah dalam bentuk kalung aromaterapi, inhaler, dan roll on dan telah diuji ke pasien corona.

Hasil uji coba pun disebut bisa membantu melegakan pernafasan. Syahrul mengatakan, para peneliti telah memulai tahapan uji klinis dibantu para pakar dari Universitas Indonesia dan Universitas Hasanuddin.  

"Yang jelas, kita punya rempah-rempah untuk obat dan kemudian dibutuhkan oleh dunia. Siapa saja yang berminat ayo kita ajak (tawarkan)," kata dia.

Pihaknya percaya diri, bahwa dalam dua tahun ke depan pascapandemi Covid-19 hanya bisnis di sektor pertanian yang tetap mampu untuk unggul di pasar. Pasalnya, pasokan pagan terus dibutuhkan untuk konsumen dunia dan Indonesia menjadi salah satu negara yang menjadi produsen berbagai komoditas.

Syahrul mengatakan, para pelaku usaha harus memanfaatkan situasi saat ini untuk mencari celah pasar demi bisa melakukan ekspor pangan. Ia secara khusus meminta para pengusaha yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia untuk tetap optimistis meningkatkan ekspor.

"Selama pandemi Covid-19, hanya ekspor pertanian yang tumbuh. Menurut pikiran saya, dua tahun ke depan bisnis yang bisa jalan hanya pertanian," katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement