Rabu 22 Jul 2020 12:13 WIB

BTN Prediksi Potensi Restrukturisasi Kredit Rp 68 Triliun 

Mayoritas restrukturisasi BTN berasal dari segmen kredit konsumer.

Rep: Novita Intan/ Red: Friska Yolandha
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk memperkirakan restrukturisasi kredit sebesar Rp 68,03 triliun dari 399.173 debitur hingga akhir tahun ini. Adapun mayoritas restrukturisasi perseroan berasal dari segmen kredit konsumer.
Foto: Republika/Edwin Dwi Putranto
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk memperkirakan restrukturisasi kredit sebesar Rp 68,03 triliun dari 399.173 debitur hingga akhir tahun ini. Adapun mayoritas restrukturisasi perseroan berasal dari segmen kredit konsumer.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk memperkirakan restrukturisasi kredit sebesar Rp 68,03 triliun dari 399.173 debitur hingga akhir tahun ini. Adapun mayoritas restrukturisasi perseroan berasal dari segmen kredit konsumer.

Direktur Finance, Planning, and Treasury BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan, saat ini perseroan telah merestrukturisasi kredit sebanyak 220 ribu debitur. 

Baca Juga

“Tren restrukturisasi kredit perseroan mulai mengalami penurunan pada Juni sampai akhir tahun ini, diharapkan restrukturisasi semakin menurun seiring aktivitas ekonomi yang mulai berjalan,” ujarnya saat acara Pelatihan UMKM Akurat dengan tema ‘Strategi Bisnis UMKM Tetap Berjaya di Era New Normal’ secara virtual, Rabu (22/7).

Menurutnya, estimasi restrukturisasi kredit sebesar Rp 68,03 triliun sejak Juni 2020 dengan rincian dalam tiga bulan antara lain Juni hingga Agustus Rp 37,55 triliun dari 210.262 debitur. Jika dirinci, segmen konsumer konvesional sebesar 193.265 debitur dengan baki debet sebesar Rp 24,59 triliun, segmen konsumer syariah sebesar Rp 1,81 triliun dari 16.345 debitur.

Kemudian segmen UKM terdapat 305 debitur dengan nilai kredit Rp 135 miliar, segmen korporasi hanya dua debitur dengan baki debet Rp 4 triliun. Bagi segmen komersial konvensional sebanyak 214 debitur dengan estimasi plafon Rp 6,50 triliun, segmen komersial syariah sebanyak 132 debitur dengan baki debet Rp 298 miliar.

Selanjutnya, BTN mencatat potensi restrukturisasi empat bulan berikutnya sejak September hingga akhir Desember 2020 sebanyak 188.911 debitur dengan baki debet sebesar Rp 30,48 triliun. Adapun mayoritas dari segmen konsumer konvensional sebesar Rp 22,54 triliun dari 177.159 debitur.

Nixon menyebut, dari 220 ribu debitur yang telah direstrukturisasi perseroan hingga saat ini, paling banyak dari debitur Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Pola restrukturisasi yang banyak diminta adalah penundaan pembayaran dengan tenor dari enam bulan hingga 12 bulan. 

"Kurang lebih ada 200 ribu dari nasabah KPR, kemudian 5.000 nasabah dari pengusaha UMKM dan juga korporasi," ucapnya.

Dari sisi lain, Nixon juga menyatakan, BTN masih menyalurkan kredit di tengah pandemi Covid-19 karena masih terdapat permintaan kredit, khususnya KPR subsidi. Sebab rumah merupakan kebutuhan primer masyarakat, terlebih di masa pandemi semuanya bekerja dari rumah sehingga kebutuhan akan memiliki rumah masih tinggi, khususnya untuk rumah pertama. 

"Ada pengajuan kredit, dari Maret-April yang paling terdampak pandemi saja ada pengajuan KPR. Sampai Juni kami bukukan KPR subsidi Rp 800 miliar- Rp 900 miliar, nonsubsidi Rp 400 miliar, jadi masih ada pengajuan Rp 1,3 triliun sampai Rp 1,5 triliun. Meskipun angkanya sangat jauh dari kondisi normal, tapi orang tetap beli rumah karena semuanya stay at home, work from home," jelasnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement