Saturday, 3 Syawwal 1442 / 15 May 2021

Saturday, 3 Syawwal 1442 / 15 May 2021

Astronom Temukan Cara Temukan Lagi Planet yang Hilang

Rabu 22 Jul 2020 12:25 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Dwi Murdaningsih

Astronom mendeteksi eksoplanet termuda.  ilustrasi

Astronom mendeteksi eksoplanet termuda. ilustrasi

Foto: reuters
Menemukan kembali planet yang hilang bermanfaat untuk mencari planet-planet baru.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Para astronom University of Warwick memelopori metode baru untuk melacak sebuah planet yang hilang. Metode ini dinilai dapat membuka jalan bagi deteksi dunia di dalam 'zona Goldilocks' yang dapat dihuni di tata surya nan jauh.

Zona Goldilocks mengacu pada serangkaian orbit yang memungkinkan planet mendukung air cair. Kini, astronom menemukan cara untuk mencari planet bernama NGTS-11b

Planet ini, memiliki ukuran dan massa seperti Saturnus dengan orbit tiga puluh lima hari. Planet ini adalah satu di antara ratusan dunia yang "hilang".

Dilaporkan dalam Astrophysical Journal Letters, planet bernama NGTS-11b mengorbit bintang dengan jarak 620 tahun cahaya dari Bumi. Planet ini terletak lima kali lebih dekat dibandingkan jarak matahari ke Bumi.

Dilansir di Phys.org, Rabu (22/7) dijelaskan, planet ini awalnya ditemukan dalam pencarian planet pada tahun 2018. Planet ditemukan oleh tim yang dipimpin Warwick menggunakan data dari teleskop TESS NASA menggunakan metode transit.

Namun, TESS hanya memindai sebagian besar langit selama 27 hari. Ini berarti banyak planet periode panjang hanya transit sekali dalam data TESS. Dan tanpa pengamatan kedua, planet ini hilang secara efektif.

Baca Juga

Berganti teleskop
Tim pimpinan University of Warwick menindaklanjuti salah satu planet 'hilang' ini menggunakan teleskop di Next-Generation Transit Survey (NGTS) di Chili dan mengamati bintang selama tujuh puluh sembilan malam. Akhirnya teleskop ini menangkap planet yang transit untuk kedua kalinya hampir setahun setelah transit pertama yang terdeteksi.

Dr. Samuel Gill dari Departemen Fisika di University of Warwick mengatakan bahwa dengan mengejar transit kedua ke bawah, timnya telah menemukan planet periode yang lebih panjang.

"Penemuan ini jarang terjadi tetapi  penting, karena mereka memungkinkan kita untuk menemukan planet dengan periode yang lebih panjang daripada yang ditemukan oleh astronom lainnya," kata Dr. Gill.

Planet dengan periode yang lebih lama lebih dingin, lebih seperti planet di tata surya kita sendiri. NGTS-11b memiliki suhu hanya 160 derajat Celcius, lebih dingin daripada Merkurius dan Venus.

Meskipun ini masih terlalu panas untuk mendukung kehidupan seperti yang kita tahu, kata Dr. Gill, planet ini lebih dekat ke zona Goldilocks daripada banyak planet yang ditemukan sebelumnya yang biasanya memiliki suhu di atas 1000 derajat Celcius.

Rekan penulis Dr. Daniel Bayliss dari University of Warwick mengatakan bahwa planet ini berada di orbit tiga puluh lima hari. Ini merupakan periode yang jauh lebih lama daripada yang biasanya ditemukan. "Sangat menyenangkan melihat zona Goldilocks dalam pemandangan kita." kata Dr. Bayliss.

Ia menjelaskan, transit asli muncul hanya sekali dalam data TESS, dan itu adalah pekerjaan yang melelahkan untuk menemukannya lagi setahun kemudian dengan NGTS. NGTS memiliki dua belas bagian teleskop canggih, yang berarti bahwa peneliti dapat memonitor banyak bintang selama berbulan-bulan, mencari planet yang hilang.

Kemiringan cahaya dari transit hanya 1 persen dalam dan terjadi hanya setiap 35 hari sekali, membuatnya keluar dari  jangkauan teleskop lain.

Dr. Gill menambahkan bahwa ada ratusan transit tunggal yang terdeteksi oleh TESS yang akan timnya pantau menggunakan metode ini. Ini akan memungkinkan peneliti menemukan planet ekstrasurya yang lebih dingin dari semua ukuran, termasuk planet yang lebih mirip dengan yang ada di tata surya kita sendiri.

"Beberapa di antaranya akan menjadi planet berbatu kecil di zona Goldilocks yang cukup dingin untuk menampung lautan air cair dan berpotensi kehidupan di luar bumi." kata Dr. Gill.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 

BERITA TERKAIT

 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA