Rabu 22 Jul 2020 10:21 WIB

Khamenei: Iran tak Lupakan Pembunuhan Soleimani oleh AS

Khamenei berjanji akan membalas pembunuhan Qasem Soleimani

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Christiyaningsih
Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei bertemu Perdana Menteri Irak Mustafa al-Kadhimi pada Selasa (21/7). Khamenei berjanji akan membalas pembunuhan Qasem Soleimani.
Foto: EPA
Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei bertemu Perdana Menteri Irak Mustafa al-Kadhimi pada Selasa (21/7). Khamenei berjanji akan membalas pembunuhan Qasem Soleimani.

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengatakan negaranya tidak akan pernah melupakan pembunuhan mantan komandan Pasukan Quds Mayor Jenderal Qasem Soleimani. Dia berjanji untuk membalas peristiwa tersebut.

"Iran tidak akan pernah melupakan pembunuhan AS terhadap Soleimani dan pasti akan memberikan pukulan balasan kepada Amerika," kata Khamenei selama melakukan pertemuan dengan Perdana Menteri Irak Mustafa al-Kadhimi pada Selasa (21/7) dikutip laman Al Arabiya.

Baca Juga

Pada kesempatan itu Khamenei mengatakan Iran tidak berkeinginan mencampuri hubungan Iran dengan AS. "Tapi berharap bahwa teman-teman Irak mengetahui bahwa kehadiran AS di negara mana pun adalah sumber korupsi dan kehancuran," ujarnya.

"Tentu saja, perluasan hubungan Iran-Irak memiliki lawan yang dipimpin oleh Amerika, tetapi kita tidak perlu takut kepada Amerika karena tidak dapat melakukan apa-apa," kata Khamenei.

Qasem Soleimani dibunuh di Bandara Internasional Baghdad, Irak pada 3 Januari lalu. Mobil yang ditumpanginya bersama rombongan ditembak pesawat nirawak AS. Perintah pembunuhan datang langsung dari Presiden AS Donald Trump. Menurut Trump, Soleimani dibunuh karena memiliki rencana yang membahayakan para diplomat dan pasukan AS, tak hanya di Irak, tapi juga di kawasan.

Soleimani merupakan tokoh militer Iran yang memiliki pengaruh besar di kawasan Timur Tengah. Ia dipercaya memimpin Pasukan Quds, sebuah divisi atau sayap dari Garda Revolusi Iran yang bertanggung jawab untuk operasi ekstrateritorial, termasuk kontra-intelijen di kawasan. Pembunuhan terhadapnya tak pelak membuat Iran berang.

Iran sempat melancarkan beberapa serangan udara yang membidik markas militer AS di Irak. Kala itu Irak menyampaikan kekhawatiran bahwa negaranya dapat menjadi medan konflik antara Teheran dan Washington.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement