Rabu 22 Jul 2020 07:00 WIB

Sektor Pertanian Berpotensi Jadi Penopang Ekonomi Tahun Ini

Kondisi iklim dan harga komoditas mendukung sekror pertanian.

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Dwi Murdaningsih
Petani menyiram tanaman cabai di lahan pertanian pesisir Bantul, Yogyakarta, Selasa (30/6). Warga pesisir Selatan Bantul berhasil mengembangkan pertanian pesisir. Komoditas seperti cabai, bawang merah, dan sayuran menjadi pilihan utama petani di sana.
Foto: Wihdan Hidayat / Republika
Petani menyiram tanaman cabai di lahan pertanian pesisir Bantul, Yogyakarta, Selasa (30/6). Warga pesisir Selatan Bantul berhasil mengembangkan pertanian pesisir. Komoditas seperti cabai, bawang merah, dan sayuran menjadi pilihan utama petani di sana.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Associate Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Dwi Andreas menyebutkan, sektor pertanian dapat menjadi penopang pertumbuhan ekonomi pada tahun ini. Perbaikan harga komoditas dan kondisi iklim yang mendukung menjadi faktor pendorongnya.

Dwi menjelaskan, kinerja sektor pertanian pada musim gadu yang biasa terjadi pada Maret sampai Juli semula diprediksi mengalami sedikit kontraksi. Khususnya untuk komoditas padi yang menjadi penyumbang terbesar pada sektor pertanian. Diperkirakan, pertumbuhannya akan menyusut 4,7 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. 

Baca Juga

Namun, seiring dengan munculnya kemarau basah, prediksi tersebut kini bergeser menjadi harapan. Dwi mengatakan, proyeksi kontraksi terjadi dalam kondisi normal atau ketika curah hujan pada musim kemarau relatif sangat kecil.

"Melihat tren yang relatif positif pada iklim, kemungkinan besar sektor pertanian masih tumbuh," ucapnya dalam konferensi pers CORE Mid Year Review secara virtual, Rabu (21/7).

Di sisi lain, Dwi menambahkan, harga komoditas pertanian terus menunjukkan perbaikan di skala global. Situasi ini akan mendongkrak kinerja ekspor produk pertanian domestik yang tentu berdampak pada pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Optimisme juga disampaikan Dwi terkait potensi krisis pangan dunia pada masa pandemi yang diprediksi Badan Pangan dan Pertanian PBB (FAO). Menurut Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) tersebut, krisis pangan belum tentu terjadi meski wabah pandemi Covid-19 masih berlangsung di banyak negara.

Krisis pangan sendiri dipengaruhi dua faktor utama, yakni penurunan produksi pertanian dan peningkatan harga pangan. Situasi ini sempat terjadi pada 2007 yang kemudian kembali terjadi pada 2011 atau ketika Arab Spring.

Dwi menuturkan, situasi berbeda terjadi saat ini. Sejak tahun lalu, produksi pangan justru dalam tingkat tertinggi yang diiringi dengan penurunan indeks harga pangan. Artinya, dua faktor pemicu krisis pangan tidak terlihat dan justru terjadi kebalikan.

Bahkan, Dwi menjelaskan, indikator ketersediaan bahan pangan atau nisbah stock-to-use juga mencapai titik tertinggi yakni 30,9 persen. Biasanya, pada Maret, stock-to-use hanya berada pada level 15 hingga 20 persen. "Jadi, krisis pangan dunia ini tidak akan terjadi," ujarnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement