Friday, 24 Zulhijjah 1441 / 14 August 2020

Friday, 24 Zulhijjah 1441 / 14 August 2020

Klepon Mampu Tembus Sekat Sosial, Agama, dan Budaya

Selasa 21 Jul 2020 21:49 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Reiny Dwinanda

Klepon biasa disajikan sebagai teman minuman hangat bagi masyarakat Jawa.

Klepon biasa disajikan sebagai teman minuman hangat bagi masyarakat Jawa.

Foto: Republika/Honesty
Klepon bisa menunjukan betapa kesederhanaan mampu lewati zaman.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Belakangan klepon ramai jadi perbincangan di media sosial. Terlepas pro dan kontranya, camilan yang umumnya berbahan kelapa, tepung beras, pandan wangi dan gula aren ini memang sudah melegenda di Indonesia.

Baca Juga

Sejarawan kuliner Heri Priyatmoko mengatakan, ketika dilacak, klepon sudah disebutkan dalam catatan-catatan Serat Centhini. Artinya, sebelum era Serat Centhini sendiri dibuat sekitar 1814-1823, klepon sudah dikenal masyarakat.

"Di Serat Centhini itu sudah disebutkan klepon, itu sebagai catatan bukti sejarah. Tapi, sebelum itu saya yakin sudah ada, karena itu sudah menyatu dalam tradisi kuliner orang Jawa," kata Heri kepada Republika.co.id, Selasa (21/7).

Heri menjelaskan, klepon bisa dikatakan camilan bagi orang Jawa. Posisinya sebagai makanan ringan biasa dihadirkan sebagai teman minum teh yang dalam konsep Jawa disebut adu wedang atau kawan untuk minuman hangat.

Sebagai kuliner, keberadaannya yang kuat di seluruh Pulau Jawa tidak lain dipengaruhi bahan-bahan klepon itu sendiri. Sebab, lahirnya suatu kuliner memang akan selalu mengacu kepada bahan-bahan yang tersedia di daerah itu.

Heri menjelaskan, dalam tradisi pawon atau dapur orang Jawa memang sudah terbiasa membuat klepon. Uniknya, klepon bisa masuk ke hampir semua daerah yang ada di Pulau Jawa, tidak cuma orang Jawa, tapi Sunda, bahkan Betawi.

"Karena, klepon makanan ringan yang biasa dijual di pasar tradisional. Jadi, orang membawa itu, merantau dengan keterampilan memasak, (klepon) itu mudah dibuat selagi tempat itu ada bahan-bahannya, itu saja syaratnya," ujar Heri.

Hebatnya, menurut Heri, klepon mampu menembus sekat-sekat sosial, budaya maupun agama. Sebab, klepon terbukti mampu menyentuh lidah berbagai macam kelas, tanpa gengsi sosial, yang membuatnya menjadi konsumsi semua kalangan.

"Jadi, klepon ini boleh dikatakan melibas sekat sosial, sekat agama, entah itu kaya entah itu miskin, entah itu perempuan atau laki-laki, entah itu nenek, kakek, atau bocah-bocah semua bisa makan klepon itu," kata Heri.

Menurut Heri, harga klepon yang terjangkau membuatnya cocok menjadi teman minuman hangat. Karenanya, ketika tidak ada kudapan-kudapan lain, masyarakat di Pulau Jawa terbiasa menjadikan klepon sebagai pilihan.

Menariknya lagi, lanjut Heri, klepon ketika dimakan tidak cuma soal perut atau soal rasa, tapi ada kenangan. Sebab, orang saat memakan klepon seperti dibawa lagi kepada kenangan masa kecilnya atau kenangan kampung halamannya.

"Ada perasaan kangen di situ, jadi makanan di sini bisa melimpahkan imaji pengunyahnya terhadap kenangan masa lalunya, ini yang saya sebut kerinduan, sekalipun murah meriah, makanya mampu diterima berbagai kalangan," ujar Heri.

Heri melihat, klepon memang tidak pernah jadi makanan yang begitu populer. Tapi, ia melihat, klepon menjadi salah satu kuliner yang bisa mengikuti zaman, memiliki daya tahan yang cukup kuat apapun perkembangan zamannya.

Terlebih, klepon tidak pernah tersekat terhadap satu etnis ataupun satu agama tertentu. Justru, klepon mampu melewati atau melampaui zamannya, bahkan kini tidak cuma di pasar tradisional tapi sudah di pasar modern.

"Klepon bisa menunjukan betapa kesederhanaan mampu lewati zaman. Klepon yang apa adanya, yang polos, yang lugu, yang tidak ada tambahan, ternyata mampu lestari, menunjukkan sesuatu tidak harus direkayasa untuk bisa bertahan," kata Heri.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA