Monday, 24 Rajab 1442 / 08 March 2021

Monday, 24 Rajab 1442 / 08 March 2021

tarekat

Tarekat dan Gerakan Perlawanan

Rabu 22 Jul 2020 04:31 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Jamaah tarekat (ilustasii).

Jamaah tarekat (ilustasii).

Foto: Fakhri Hermansyah
Bila dilihat dari sejarah tarekat dipakai sebagai sarana pembaruan.

REPUBLIKA.CO.ID, Tarekat dalam tasawuf berarti jalan menuju Allah SWT untuk meraih rida-Nya dengan menaati segala ajaran-Nya. Sebagai sebuah organisasi tempat berkumpulnya orang-orang yang berupaya untuk mengikuti kehidupan tasawuf, tarekat tak cuma menjalankan ritual-ritual kegiatan keagamaan semata. Kehadiran tarekat tak serta merta menjadikan salik (pengikutnya) meninggalkan kehidupan duniawi.
 
Tarekat-tarekat yang menjalankan tasawuf pun memiliki peran yang cukup besar dalam beragam kegiatan, seperti;  sosial, ekonomi, pendidikan hingga politik. Sebagai sebuah jejaring sosial yang mampu menjangkau wilayah yang begitu luas, tarekat pun tercatat telah melakukan gerakan perubahan sosial dalam kehidupan masyarakat Muslim.
 
Pada masa kolonial dulu,  tarekat pun tampil sebagai sebuah gerakan perlawanan untuk memerangi penjajah. Sejarah mencatat, ada sejumlah gerakan perlawanan besar yang dilakukan para tokoh tarekat dan pengikutnya di Nusantara terhadap Belanda. Menurut Prof Azyumardi Azra dalam Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, respons  Muslim pribumi terhadap penjajah Belanda terbagi menjadi dua.
 
‘’Ada yang melakukan perlawanan secara terbuka dan ada pula yang melakukan perlawanan secara diam-diam,’’ tutur Azyumardi.  Para ulama dan pengikutnya yang melakukan perlawanan secara diam melakukan uzlah atau menjauhkan diri dari pengasa kolonialis kafir. Uzlah para ulama itulah yang kemudian telah mendorong terjadinya radikalisasi tarekat dan tasawuf.
 
Gerakan Reformis Paderi di Minangkabau yang kemudian menjadi perang anti-kolonialisme, salah satunya dimotori tarekat tasawuf yang berkembang waktu itu. Menurut Azyumardi, gerakan radikalisasi tarekat terus mendapatkan momentum sepanjanjang abad ke-19. Peran tarekat dalam melakukan perlawanan terhadap penjajahan juga tampak menonjol dalam Perang Diponegoro (1825-1830).
 
Dalam pertempuran itu, Pangeran Diponegoro disokong para kiai, haji dan kalangan pesantren. Dalam perjuangan yang dilakukan Diponegoro, Kyai Maja pun tampil sebagai  pemimpin spiritual pemberontakan tersebut. Untuk menarik dukukang dari pondok pesantren, tokoh agama dan pengikut tarekat, Pangeran Diponegoro menyebut pemberontakannya sebagai perang suci atau perang sabil.
 
Tak heran, jika kemudian para pengikut tarekat dan umat Islam lainnya, pada waktu itu meyakini pemberontakan Diponegoro itu sebagai perang suci untuk mengembalikan pemerintahan Islam di Jawa. Perang itu pun digaungkan Diponegero untuk mengusir kolonial Belanda yang tak beriman dari tanah Jawa.
 
Martin van Bruinessen dalam tulisannnya //Tarekat dan Politik:Amalan untuk Dunia atau Akhirat?// juga mengungkapkan peran dan perjuangan  tokoh dan pengikut tarekat dalam melawan Belanda. Peran tarekat yang tak kalah pentingnya dalam perlawanan penjajah Belanda juga dilakukan tarekat Sammaniyah di Palembang dalam Perang Menteng. Perjuangan para tokoh dan pengikut tarekat itu berhasil mengalahkan gempuran pertama pasukan Belanda pada 1819.
 
Seorang penyair Melayu menggambarkan bagaimana kaum putihan atau haji mempersiapkan diri untuk berjihad fi sabillillah. Mereka membaca asma (al-Malik, al-Jabbar), berzikir dan beratib dengan suara keras sampai "fana". Dalam keadaan tak sadar ("mabuk zikir") mereka menyerang tentara Belanda. Mereka berani mati, mungkin juga merasa kebal lantaran amalan tadi, dan dibalut semangat dan keberanian mereka berhasil membuat Belanda kocar-kacir.
 
Menurut Bruinessen, tarekat Sammaniyah yang berkembang di Palembang dibawa dari tanah suci oleh murid-murid Abdussamad al-Palimbani pada penghujung abad ke-18.  Syaikh Abdussamad dikenal terutama sebagai pengarang Sair Al-Salikin dan Hidayat Al-Salikin, dua karya sastra tasawwuf Melayu yang penting. Dua karya ini berdasarkan Ihya dan Bidayat Al-Hidayah'nya Ghazali, dengan tambahan bahan dari berbagai kitab tasawwuf lainnya.
 
Syaikh Abdussamad, papar Bruinessen, adalah seorang sufi yang tidak mengabaikan urusan dunia, bahkan mungkin boleh disebut militan. Tidak mengherankan kalau murid-muridnya yang ahli tarekat juga siap untuk berjihad fisik. ‘’Meski begitu, Syaikh Abdussamad bukanlah ahli tarekat Indonesia pertama yang bersemangat jihad melawan penjajah non-Muslim,’’ tutur Bruinessen.
 
Satu abad sebelum tarekat Sammaniyah yang dipimpin Syaikh Abdussamad melakukan gerakan perlawanan terhadap Belanda, Syaikh Yusuf Makassar yang bergelar "al-Taj al-Khalwati" telah melakukan hal yang sama. Di Banten, Syekh Yusuf dengan memimpin 5.000 pasukan dan 1.000 diantaranya berasal dari Makassar telah mengobarkan  perang terhadap kolonial kafir.
 
Bahkan, ketika di buang ke Srilanka pun, Syekh Yusuf terus mengobarkan semangat perlawanan lewat karya-karyanya kepada para Sultan dan pengikutnya di Gowa dan Banten. Sebagai seorang sufi, Syekh Yusuf pun telah ikut terjun ke dunia politik saat itu, dengan menjadi penasehatn Sultan Ageng Tirtayasa.
 
Selain itu, sejarah juga mencatat banyak lagi gerakan pemberontakan melawan penjajah belanda yang dimotori tarekat, seperti pemberontakan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan (1859-1862), kasus Haji Rifa’I (Ripangi) dari Kalisasak (1859), Peristiwa Cianjur-Sukabumi (1885), Pemberontakan Petani Cilegon-Banten (1888), Gerakan Petani Samin (1890-1917) dan Peristiwa Garut (1919).
 
Pemberontakan di Banjarmasin dipimpin  tuan guru yang  mengajarkan amalan "beratif baamal",  suatu varian amalan tarekat Sammaniyah. Konon, orang berbondong-bondong datang dibai'at, mereka berzikir dan membaca ratib sampai tidak sadar lagi dan kemudian menyerang tentara kolonial  tanpa memperdulikan bahaya.
 
Gerakan Beratif Baamal ini meliputi hampir seluruh seluruh Banua Lima dan wilayah yang sekarang menjadi daerah Hulu Sungai Tengah dan Utara Kalimantan Selatan dengan pusat kegiatan di mesjid dan langgar. Pimpinan dari gerakan ini kaum ulama yang disebut dengan Tuan Guru.
 
Menurut Azyumardi, Tarekat yang paling ditakuti Belanda, saat itu, adalah Tarekat Qadariyah dan tarekat Naksyabandiah. Kekhawatiran Belanda terhadap gerakan yang dimotori tarekat memang sangat beralasan. Sebab, begitu banyak perlawanan dan gerakan menentang penjajahan yang dipimpin tokoh tarekat atau pengikut tarekat tertentu. ‘’Karena itulah, tarekat mendapatkan pengawasan khusus dari Belanda.’’
 
Lantas mengapa tarekat sangat ditakuti pra-penjajah pada masa kolonial dulu? Menurut Bruinessen, antara tasawuf dan tarekat memang terdapat dua persepsi yang bertolak belakang. ‘’Para pejabat jajahan Belanda, Perancis, Italia dan Inggeris lazim mencurigai tarekat karena - dalam pandangan mereka - fanatisme kepada guru dengan mudah berubah menjadi fanatisme politik.,’’ papar penulis buku-buku tentang tarekat itu.
 
Gerakan tarekat ternyata tak hanya cefektif untuk melawan penjajah belaka. Di Afrika, misalnya, gerakan tarekat bahkan mampu melahirkan Negara Libya. Tarekat Sanusiyah yang dipimpin Syaikh Muhammad al-Sanusi al-Kabir dan putranya al-Mahdi mampu menjadi jaring pemersatu hingga melahirkan sebuah negara yang kini dipimpin Moamar Gaddafi.
 
Ketika terjadi perlawanan terhadap penjajah Perancis dan Italia, guru-guru tarekatlah yang bisa mengkordinir dan mempersatukan semua suku Badui. Negara Libya modern merupakan hasil perjuangan tarekat Sanusiyah. Syaikh tarekat Sanusiyah yang keempat, Sayyid Muhammad Idris, menjadi raja pertama negara Libya.
 
Begitulah peran tarekat memainkan perannya dalam kehidupan sosial dan politik.
 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA