Saturday, 14 Rabiul Awwal 1442 / 31 October 2020

Saturday, 14 Rabiul Awwal 1442 / 31 October 2020

Brasil Tambah Dua Menteri Positif Covid-19

Selasa 21 Jul 2020 06:14 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Dwi Murdaningsih

Petugas kesehatan mengambil sampel darah penduduk di lokasi pengujian COVID-19 di tengah pandemi coronavirus baru di Rio de Janeiro, Brasil, Jumat, 17 Juli 2020.

Petugas kesehatan mengambil sampel darah penduduk di lokasi pengujian COVID-19 di tengah pandemi coronavirus baru di Rio de Janeiro, Brasil, Jumat, 17 Juli 2020.

Foto: AP/Silvia Izquierdo
Sebanyak 80 ribu orang lebih meninggal dunia karena covid-19 di Brasil.

REPUBLIKA.CO.ID, BRASILIA -- Pemerintah melaporkan, dua menterinya telah mendapatkan hasil tes positif untuk virus corona, Senin (20/7). Menteri Kewarganegaraan, Onyx Lorenzoni, dan Menteri Pendidikan yang baru, Milton Ribeiro mengumumkan hasil diagnosis positif serta tindakan karantina di akun media sosial.

Lorenzoni, sekutu dekat Presiden Jair Bolsonaro, menyatakan, gejalanya relatif ringan setelah mengkonsumsi obat anti-malaria. "Saya sudah merasakan efek positifnya," ujarnya merujuk pada chloroquine, bersama dengan azithromycin dan ivermectin, sebagai pengobatan terhadap virus.

Selain dua nama tersebut, jajaran menteri Bolsonaro yang positif Covid-19 adalah penasihat keamanan nasional, Augusto Heleno, dan Menteri Pertambangan dan Energi, Bento Albuquerque. Presiden juga mengumumkan secara langsung terkena virus corona, setelah selama ini menyatakan bahwa penyakit ini hanya seperti flu biasa.

Bolsonaro sedang menjalani proses karantina dan mengonsumsi hydroxychloroquine. Obat tersebut dan chloroquine yang dikonsumsi menterinya digunakan untuk mengobati malaria. Bolsonaro telah menjadi pendukung penuh untuk menggunakannya untuk mengobati Covid-19, meskipun kurangnya bukti kuat bahwa obat tersebut bekerja melawan penyakit itu.

Data Kementerian Kesehatan menyatakan, lebih dari 80.000 orang telah meninggal karena Covid-19 di Brasil. Penyakit ini sudah dialami dari 2,1 juta kasus pada Senin (20/7). Para ahli mengatakan, angka sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi karena kurangnya pengujian yang meluas.

Virus ini telah melanda elit politik di sudut-sudut lain Amerika Latin, termasuk Bolivia. Negara ini juga melaporkan penyebaran di jajaran pemerintahan, termasuk presiden dan beberapa menteri.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA