Friday, 19 Rabiul Akhir 1442 / 04 December 2020

Friday, 19 Rabiul Akhir 1442 / 04 December 2020

Dokter: Seks Anal tidak Aman

Jumat 17 Jul 2020 23:09 WIB

Red: Reiny Dwinanda

Seks anal yang biasanya dilakukan oleh sesama laki-laki memiliki risiko penularan infeksi menular seksual yang tertinggi.  Ilustrasi.

Seks anal yang biasanya dilakukan oleh sesama laki-laki memiliki risiko penularan infeksi menular seksual yang tertinggi. Ilustrasi.

Di internet beredar kabar bohong yang menyebut seks anal aman.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pegiat Yayasan Peduli Sahabat dr Dewi Inong Irana SpKK menepis hoaks yang menyebut seks anal aman. Ia mengatakan, seks anal yang biasanya dilakukan oleh sesama laki-laki memiliki risiko penularan infeksi menular seksual yang tertinggi.

"Di internet dikatakan hubungan lelaki seks lelaki lewat saluran pembuangan manusia aman. Itu bohong," kata Dewi dalam bincang media yang diadakan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang diikuti secara virtual di Jakarta, Jumat.

Menurut Dewi, penularan infeksi menular seksual bukan hanya terjadi karena hubungan kelamin dengan kelamin saja, tetapi juga bisa antara kelamin dengan dubur, kelamin dengan mulut, kelamin dengan alat, dan kelamin dengan tangan. Dewi meminta masyarakat tidak sembarangan mencari informasi di internet karena bisa saja mendapatkan informasi yang salah atau bohong.

Bila memerlukan informasi, menurut Dewi, lebih baik tanyakan langsung kepada ahlinya. Ia mengatakan, Yayasan Peduli Sahabat memberikan pertolongan dan pendampingan secara gratis.

"Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski), yang saya juga menjadi anggotanya, juga bisa memberikan informasi yang benar dan akurat tentang infeksi menular seksual," tuturnya.

Dewi mengatakan, informasi yang benar tentang infeksi menular seksual dan HIV/AIDS perlu diberikan kepada anak-anak. Anak-anak juga harus dicegah dari paparan pornografi.

"Pengalaman kami di lapangan, anak-anak yang kecanduan perilaku seksual berisiko tinggi semuanya pernah terpapar atau menonton pornografi di media," katanya.

Menurut Dewi, pornografi di media merupakan hulu dari perilaku seks bebas dan berisiko tinggi yang bisa berakibat pada penularan infeksi menular seksual dan HIV/AIDS. Karena itu, orang tua dan pendidik memiliki peran penting untuk mencegah dan mendeteksi anak-anak dari paparan pornografi.

"Saya juga meminta kepada media untuk menghapus muatan-muatan pornografi dan aktif melakukan promosi, informasi, dan edukasi tentang bahaya perilaku seksual berisiko tinggi," katanya.

Baca Juga

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA