Wednesday, 4 Rabiul Awwal 1442 / 21 October 2020

Wednesday, 4 Rabiul Awwal 1442 / 21 October 2020

Ini Prioritas Sektor Konsumen Energi di Masa Pandemi

Sabtu 18 Jul 2020 07:41 WIB

Red: Friska Yolandha

Berbagai langkah terus ditempuh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam menjamin ketersediaan energi nasional di masa kriris kesehatan akibat pandemi Covid-19.

Berbagai langkah terus ditempuh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam menjamin ketersediaan energi nasional di masa kriris kesehatan akibat pandemi Covid-19.

Foto: MICK TSIKAS/EPA-EFE
Pada masa pandemi, suplai energi ke masyarakat harus tetap terjaga.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Berbagai langkah terus ditempuh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam menjamin ketersediaan energi nasional di masa kriris kesehatan akibat pandemi Covid-19. Sekretaris Dewan Energi Nasional (DEN) Djoko Siswanto mengungkapkan ada empat sektor yang jadi target utama pasokan energi pemerintah, yaitu transportasi, listrik, rumah tangga dan industri. 

"Di masa pandemi, jaminan akses suplai energi harus tetap terjaga, misalnya tranpostasi, listrik, dan rumah tangga seperti kebutuhan energi untuk memasak. Masyarakat harus bisa mendapatkan itu," kata Djoko, Jumat (17/7).

Selanjutnya, sektor industri juga menjadi perhatian utama pemerintah. Hal ini untuk menjamin keberlangsungan sektor yang mampu serap ribuan tenaga kerja. "Saya juga berharap semua industri tetap beroprasi, kami jamin terutama dari segi suplai energi," lanjut Djoko.

Djoko menjelaskan, sejak adanya kasus Covid-19 sejak diumumkan oleh Presiden Joko Widodo, Indonesia memiliki kelebihan suplai. "Dalam masa pandemi sejak Maret 2020 sudah hampir 6 bulan dari segi suplai kita berlimpah. Bahkan kita kelebihan solar misalnya. Karena orang semua di rumah tidak bekerja, kita (waktu itu) khawatir distribusinya," ungkap Djoko.

Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah melalui Badan Usaha (BU) yang ditunjuk tetap membuka layanan SPBU dan LPG. Konsep pelayanan bahkan dilakukan melalui online. "Saya pikir kebijakan ini dilakukan di seluruh di dunia, bahwa yang tetap buka adalah SPBU. Di Indonesia sendiri LPG juga tetap buka. Bahkan kita bisa masuk lewat layanan online, problem distribusi sudah bisa kita atasi," kata Djoko.

Djoko mengakui adanya pandemi Covid-19 malah membuat ketahanan energi Indonesia semakin membaik. "Kalau dilihat selama pandemi berlangsung, energi baik pasokan maupun distribusi bukan jadi masalah. Bahkan dari sisi ketahanan energi jadi lebih baik," ungkap Djoko.

Sementara itu, terkait penyediaan infrastruktur, pemerintah masih tetap memperioritaskan pembangunan infrastruktur energi. "Pengalihan anggaran untuk Covid-19 diperuntukan yang non fundamental. Sedangkan anggaran subsidi untuk energi tidak berubah. Yang kita fokus (dipotong) adalah rapat-rapat dan perjalanan dinas karena bisa diganti secara virtual," tutur Djoko.

Sebagai informasi, untuk menjamin ketersediaan energi, pemerintah telah memberikan bantuan keringanan tagihan listrik kepada pelangan Rumah Tangga dan Bisnis 450 VA dan sebagian 900 VA selama enam bulan. Sementara dari segi industri, Pemerintah telah memberikan stimulus dengan menetapkan harga gas industri di tujuh manufaktur berbasis gas maksimal sebesar 6 dolar AS per MMBTU.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA