Tuesday, 3 Rabiul Awwal 1442 / 20 October 2020

Tuesday, 3 Rabiul Awwal 1442 / 20 October 2020

Studi: Vaksin TB Tekan Risiko Kematian Akibat Covid-19

Jumat 17 Jul 2020 14:37 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Reiny Dwinanda

Petugas kesehatan bersiap menyuntikan vaksin Bacille Calmette-Guerin (BCG) danpada bayi di Pukesmas Kuta Alam, Banda Aceh, Aceh, Senin (15/6/2020). Pelayanan imunisasi anak di Puskesmas tersebut kembali dibuka setelah sebelumnya sempat terhenti akibat wabah Covid-19.

Petugas kesehatan bersiap menyuntikan vaksin Bacille Calmette-Guerin (BCG) danpada bayi di Pukesmas Kuta Alam, Banda Aceh, Aceh, Senin (15/6/2020). Pelayanan imunisasi anak di Puskesmas tersebut kembali dibuka setelah sebelumnya sempat terhenti akibat wabah Covid-19.

Foto: ANTARA /Ampelsa
Negara dengan tingkat vaksinasi BCG tinggi, tingkat kematian Covid-19-nya rendah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Studi terbaru menunjukkan bahwa vaksin tuberkulosis (TB) dapat membantu mengurangi risiko kematian akibat infeksi virus corona jenis baru (Covid-19). Disebutkan bahwa negara-negara berkembang memiliki angka kematian lebih rendah dari yang diperkirakan, selama pandemi terjadi saat ini.

BCG, vaksin yang mengobati infeksi TB umum, secara rutin diberikan kepada anak-anak di negara-negara berkembang, yang rentan dengan penyakit ini. Sebaliknya, vaksin ini tidak banyak digunakan di negara seperti Amerika Serikat (AS).

"Dalam penelitian awal, kami menemukan bahwa negara-negara dengan tingkat vaksinasi BCG yang tinggi memiliki tingkat kematian yang lebih rendah," ujar Luis Escobar, asisten profesor di College of Natural Resources and Environment di Virginia Tech, dilansir Health 24, Jumat (17/7).

Tetapi, tiap negara berbeda. Escobar mencontohkan Guatemala yang memiliki populasi lebih muda dibanding Italia. Hal inilah yang membuat tim peneliti harus melakukan penyesuaian pada data untuk mengakomodasi itu.

Dalam penelitian tersebut, Escobar dan rekannya di National Health Institute AS mengumpulkan data kematian Covid-19 dari seluruh dunia. Mereka menyesuaikan variabel, seperti pendapatan, akses ke layanan pendidikan dan kesehatan, populasi, dan distribusi usia.

Dari semua variabel, ada hubungan yang terus-menerus antara tingkat vaksinasi BCG yang lebih tinggi dan tingkat kematian Covid-19 yang lebih rendah. Menurut Escobar, tujuan penggunaan vaksin BCG adalah merangsang kekebalan luas dan respons cepat dalam memberi perlindungan dari penyakit infeksi virus corona jenis baru.

Vaksin BCG telah terbukti memberikan perlindungan luas untuk beberapa penyakit pernapasan virus selain TBC. Escobar menegaskan bahwa temuan dalam studi ini tidak membuktikan sebab dan akibat, sehingga diperlukan lebih banyak lagi penelitian.

"Kami tidak mencari saran kebijakan dengan studi ini. Sebaliknya, panggilan untuk penelitian lebih lanjut, perlu dilihat apakah dapat mereplikasi ini dalam percobaan dan berpotensi untuk uji klinis,” jelas Escobar.

Escobar mengatakan, masih perlu untuk melihat kembali data, sehingga pemahaman mengenai pandemi Covid-19 dapat dievaluasi kembali. Sebelumnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, belum ada bukti kuat bahwa vaksin BCG dapat memberi perlindungan terhadap Covid-19 dan tidak merekomendasikan penggunaan untuk tujuan itu.

Uji klinis saat ini tengah dilakukan untuk menentukan apakah vaksinasi BCG pada orang dewasa memberikan perlindungan dari Covid-19 dengan gejala parah. Studi terbaru telah diterbitkan dalam jurnal Proceedings of National Academy of Sciences pada 9 Juli.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA