Saturday, 25 Zulhijjah 1441 / 15 August 2020

Saturday, 25 Zulhijjah 1441 / 15 August 2020

Kisah Cinta Terlarang di Balik Istilah Pria Hidung Belang

Jumat 17 Jul 2020 06:13 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Gubernur Jenderal Batavia, Jan Pieterszoon Coen. Istilah hidung belang saat Coen menghukum mati serdadu Pieter Contenhoef yang meniduri putri angkatnya, Saartje Specx.

Gubernur Jenderal Batavia, Jan Pieterszoon Coen. Istilah hidung belang saat Coen menghukum mati serdadu Pieter Contenhoef yang meniduri putri angkatnya, Saartje Specx.

Foto: Tangkapan Layar
Asal usul istilah pria hidung belang lahir di masa Gubernur Jenderal JP Coen.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Karta Raharja Ucu (Instagram: @kartaraharjaucu)

Pernah mendengar istilah lelaki hidung belang? Istilah ini populer di masyarakat kita untuk menggambarkan pria nakal yang sering menggoda perempuan. Namun dari mana istilah itu didapat?

Asal usul istilah hidung belang terjadi pada abad ke-17 tepatnya 19 Juni 1629 di Kota Batavia, Hindia Belanda. Saat itu, Batavia dipimpin seorang Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen.

Di masa pemerintahan Coen, hukuman mati tidak pandang bulu, terutama kepada para penjahat. Salah satu cerita hukuman mati yang diperintahkan Coen dan melegenda di bumi persada kita hingga kini adalah, dipenggalnya seorang prajurit Belanda bernama Pieter Contenhoef.

photo
Istana Jenderal JP Coen di Pasar Ikan. Di tempat ini hubungan terlarang antara Pieter Contenhoef dengan Saartje Specx terjadi.- (Arsip Nasional)

Saat didatangkan ke Batavia, para prajurit kompeni dilarang membawa istri. Namun, mereka diperbolehkan mempersunting atau mengencani perempuan Eropa atau pribumi. Peraturan itu pula yang membuat banyak perempuan pribumi dijadikan pasangan pria Belanda, baik resmi atau pun tidak resmi (biasa disebut nyai atau gundik).

Baca Juga: Misteri Kematian JP Coen

Pieter Contenhoef saat itu bertugas sebagai pengawal kastil Batavia sehingga sering keluar masuk rumah sang gubernur jenderal. Penjaga kastil (dalam bahasa Belanda disebut De Vaandrig Van de Kasteelwacht) yang saat itu berusia 17 tahun tersebut ternyata bernyali besar. Ia berani mengencani Saartje Specx (atau Sara Specx), putri angkat Coen yang ketika itu baru berusia 12 tahun. Cinta Pieter Contenhoef tak bertepuk sebelah tangan karena Saartje juga tergila-gila dengan ketampanan sang serdadu muda yang dilihatnya saban hari.

Saartje adalah putri dari Jacquees Specx, Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-7 (pengganti Coen) yang dititipkan kepada Coen di Batavia. Saartje adalah putri Jacquees dari selirnya, perempuan asal Jepang. Saartje lahir di basis perdagangan Belanda di Pulau Hirado. Berdasarkan peraturan VOC, Saartje yang berdarah Asia dari ibunya, tidak berhak tinggal di Belanda, sehingga Saartje dititipkan ayahnya ke Coen di Batavia.



Dalam buku berjudul Sara Specx yang ditulis Tjoa Piet Bak dan diterbitkan pertama kali di Bandung pada 1926 diceritakan, saat tinggal bersama Coen, Saartje yang masih belia jatuh hati kepada Pieter Contenhoef seorang serdadu muda yang disebut memiliki wajah rupawan. Syahdah, dua insan yang belum menikah namun sedang dimabuk cinta itu melakukan hubungan badan.

Tak tanggung-tanggung Pieter Contenhoef tertangkap basah sedang meniduri Saartje di dalam kamar di rumah Coen. Celakanya kisah percintaan terlarang lantaran beda kasta itu terbongkar.

Kabar percintaan dua remaja itu pun sampai ke telinga Coen yang disebut orang Betawi sebagai Si Tuan Jangkung. Ketika itu, Coen yang sedang dipusingkan dengan penyerangan pasukan Kesultanan Mataram, disebut marah besar hingga membuat kursi dan meja kerjanya bergetar hebat saat tahu putri angkatnya ditiduri seorang prajurit rendahan.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA