Thursday, 16 Zulhijjah 1441 / 06 August 2020

Thursday, 16 Zulhijjah 1441 / 06 August 2020

Bank Dunia: Bansos dan Likuiditas Kunci Utama Hadapi Resesi

Kamis 16 Jul 2020 20:41 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Nidia Zuraya

Pertumbuhan ekonomi (ilustrasi). Resesi menjadi sesuatu yang tidak terelakkan bagi ekonomi Indonesia tahun ini.

Pertumbuhan ekonomi (ilustrasi). Resesi menjadi sesuatu yang tidak terelakkan bagi ekonomi Indonesia tahun ini.

Foto: Tim infografis Republika
Bank Dunia memperkirakan ekonomi Indonesia pada 2020 tumbuh pada level nol persen.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Indonesia Frederico Gil Sander menyebutkan, bantuan sosial dan dukungan ke sektor riil berupa likuiditas menjadi kunci utama pemerintah dalam melalui jalan berliku yang disebut resesi. Khususnya untuk memasuki tahap pemulihan ekonomi yang ditargetkan dimulai sejak tahun ini.

Beberapa perusahaan sudah bergulat dengan tekanan ekonomi yang berdampak pada penurunan penjualan sejak Mei dan Juni. Dampaknya, masyarakat sebagai pekerja maupun pemilik dunia usaha membutuhkan dukungan ekonomi lebih.

Upaya prioritas yang harus dilakukan pemerintah adalah menyediakan database secara dinamis. Frederico mengatakan, sering kali, sulit untuk mendapatkan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) terbaru dengan cepat.

Baca Juga

"Dilihatnya bukan hanya rumah tangga miskin, tapi juga yang memiliki lansia (lanjut usia) dan penyandang disabilitas serta pekerja informal," kata Frederico dalam rilis virtual Laporan Indonesia Economic Prospects (IEP) Juli 2020, Kamis (16/7).

Selain bantuan sosial ke masyarakat, bantuan likuiditas kepada dunia usaha juga harus dilakukan di tengah upaya pemulihan ekonomi. Frederico menjelaskan, stimulus ini agar mereka dapat bertahan di tengah tekanan ekonomi dan potensi pailit.

Likuiditas diharapkan mampu membantu dunia usaha untuk memulai kembali produksi atau melakukan ekspansi. Sekali lagi, Frederico menekankan, bantuan harus diberikan secara targeted.

"Karena beberapa perusahaan masih butuh interaksi tatap muka, sehingga mereka pasti lebih terdampak dibandingkan mereka yang tidak butuh banyak tatap muka," tuturnya.

Selanjutnya, Frederico menambahkan, mengurangi spillover dari sektor riil ke keuangan juga patut dilakukan. Upaya ini dapat dilakukan sejalan dengan peningkatan reformasi.

Ada beberapa hal penting yang dicatat Frederico. Pertama, mencoba memastikan kredit macet (Non Performing Loan) dikelola dengan baik, sehingga tekanan finansial di bidang korporasi dapat tertangani.

"Artinya, kita perlu update recovery dan perencanaan resolusi perbankan," ujarnya.

Terakhir, pemerintah perlu memastikan adanya manajemen risiko yang sangat kuat. Dengan begitu, sektor keuangan memiliki dasar atau kaki yang lebih kuat untuk berjalan ke arah pemulihan.

Sementara itu, Bank Dunia memperkirakan ekonomi Indonesia sepanjang 2020 tumbuh pada level nol persen atau tidak mengalami pertumbuhan sama sekali dibandingkan 2019. Tapi, proyeksi ini mungkin saja menyusut atau ekonomi Indonesia masuk dalam ranah pertumbuhan negatif dengan beberapa faktor, seperti gelombang kedua dan pembukaan aktivitas ekonomi.

Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor-Leste Satu Kahkonen mengatakan, ada tiga asumsi untuk mencapai proyeksi nol persen dan tidak jatuh ke ranah kontraksi. Salah satunya, potensi gelombang kedua dan bagaimana pemerintah dapat menanganinya.

Asumsi kedua, Satu menambahkan, ekonomi global yang diprediksi berada pada level minus 5,2 persen tidak mengalami kontraksi lebih dalam. Terakhir, aktivitas ekonomi Indonesia yang diperkirakan mulai dibuka kembali pada Agustus.

"Jika ketiga asumsi yang digunakan berubah, maka forecast pun berubah," tuturnya.


BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA