Monday, 20 Zulhijjah 1441 / 10 August 2020

Monday, 20 Zulhijjah 1441 / 10 August 2020

Dua Pasang Jenderal Kembar Gemparkan Akmil

Kamis 16 Jul 2020 05:37 WIB

Red: Erik Purnama Putra

Sekretaris Kemenko Polhukam, Letjen Yoedhi Swastono di Mabes TNI Cilangkap.

Sekretaris Kemenko Polhukam, Letjen Yoedhi Swastono di Mabes TNI Cilangkap.

Foto: Puspen TNI
Yoedhi Swastanto dan Yoedhi Swastono sama-sama pensiun dengan pangkat Letjen TNI.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Selamat Ginting/Wartawan Senior Republika

Saat ini para perwira remaja abituren (lulusan) Akademi Militer (Akmil), Akademi Angkatan Laut (AAL), Akademi Angkatan Udara (AAU) maupun Akademi Kepolisian (Akpol) sedang menikmati euforia. Euforia setelah Selasa (14/7) lalu resmi dilantik Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi perwira pertama (pama). Pekan sebelumnya diwisuda menjadi sarjana terapan pertahanan bagi TNI dan sarjana terapan kepolisian bagi Polri.

Tentu sebuah perjalanan panjang untuk bisa mencapai golongan perwira tinggi (pati). Mereka harus berjuang minimal selama 27 tahun, baru bisa memperoleh pangkat Brigadir Jenderal TNI, Laksamana Pertama TNI, Marsekal Pertama TNI, maupun Brigadir Jenderal Polisi. Artinya pada 2047 mereka baru bisa memperoleh pangkat jenderal bintang satu.

Itu pun biasanya paling banyak hanya sekitar tiga orang saja dari masing-masing matra. Mereka ini yang disebut sebagai penjuru. Barulah setelah itu rekan-rekannya akan menyusul, utamanya setalah 30-32 tahun pengabdian sebagai perwira. 

Hanya bagi yang berhasil menjadi pati, mereka akan diwisuda kembali di akademi almamaternya, baik Akmil, AAL, AAU, maupun Akpol. Itulah yang disebut sebagai wisuda purnawira pati. Tentu semua harus bersaing untuk bisa mendapatkan pangkat jenderal. Yang menarik jika ada saudara kembar berhasil menjadi jenderal. Sangat jarang dan menggemparkan.

Gemparkan Akmil
Gempar! Saudara kembar berhasil menjadi jenderal bintang tiga Angkatan Darat (AD). Pertama di dunia. Dan itu adanya di Akmil Indonesia. Abituren Akmil Magelang 1983, Letnan Jenderal (Letjen) TNI Yoedhi Swastanto dan Letjen TNI Yoedhi Swastono. Keduanya sama-sama berasal dari korps Infanteri.

Swastanto terakhir sebagai Rektor Universitas Pertahanan (Unhan). Sedangkan Swastono, terakhir sebagai Sekretaris Kementerian Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Kemenko Polhukam). Keduanya lahir di Madiun, Jawa Timur, 1 Juli 1960; usianya saat ini 60 tahun.

“Kami tidak pikirkan pangkat dan jabatan. Kerja saja, orang lain yang menilai,” kata Letjen TNI (Purnawirawan) Yoedhi Swastono di kantor Kemenko Polhukan usai acara serah terima jabatan dengan Letjen TNI Agus Surya Bakti, akhir 2018 lalu.

Si kembar ini sama-sama pernah menjadi Atase Pertahanan (Athan). Swastono, antara lain pernah menjadi Athan KBRI di Berlin, Jerman (2003-2006), Pamen Ahli Golongan IV Pusintelad Bidang Hubungan Luar Negeri (2012), Kepala BIN Daerah (Kabinda) Jawa Barat (2012-2013), dan Kabinda DKI Jakarta (2013-2014).

Dari jabatan itu, terungkap, ia adalah orang intelijen. Kemudian menjadi Deputi Bidang Koordinasi Politik Dalam Negeri Kemenko Polhukam (2014-2017). Terakhir sebagai Sesmenko Polhukam (2017-Juli 2018).

Jika saudara kembarnya menjadi atase di Berlin, maka Swastanto menjadi Athan RI di Beijing, RRC. Kemudian Paban Utama G-2 Direktorat ”G” Badan Intelijen Strategis (Bais), selanjutnya Koordinator Sekretaris Pribadi (Koorspri) Panglima TNI. Dari situ menjadi Danrem 163/WS Kodam Udayana.

Lalu, Pamen Ahli KSAD Bidang Ideologi dan Politik. Barulah kemudian ia menjadi orang pendidikan. Dimulai dari Kapusdiklat Bahasa Badiklat Kementerian Pertahanan (Kemenhan) RI (2012). Geser dulu sebagai Dirjakstra Ditjen Strategi Pertahanan (Strahan) Kemenhan. Selanjutnya fokus sebagai Warek III Bidang Kerja sama Kelembagaan Unhan, dan Kepala Satuan Pengawas Unhan (2014).

Menduduki jabatan strategis Dirjen Strahan Kemhan RI (2014). Kembali lagi ke kampus sebagai Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Unhan (2018). Puncaknya sebagai Rektor Unhan (2018). Ia menyandang gelar doktor.

Akmil Bandung
Mereka bukan yang pertama, jenderal kembar lulusan Akmil. Pada 1987 dua jenderal kembar juga diwisuda purnawira di Akmil Magelang. Mereka adalah Mayor Jenderal (Mayjen) TNI Sarwono dan Mayjen TNI Sarwoko. Keduanya lulusan Akmil Bandung, dulu disebut Akademi Zeni Angkatan Darat, tahun 1957. Tentu saja keduanya dari Korps Zeni.

Sarwono terakhir dikaryakan sebagai Sekjen Kementerian Sosial. Sedangkan Sarwoko sebagai Irjen Kementerian Pertanian. Mereka dikaryakan atau alih fungsi sebagai pegawai negeri sipil golongan IV-E, hingga usia 60 tahun. Saat itu usia pensiun TNI/Polri masih 55 tahun. Di Kemenhan maupun Mabes TNI, jabatan Sekjen maupun Irjen setara dengan Letnan Jenderal TNI. Keduanya kelahiran tahun 1932 dan sudah wafat. Sarwoko memiliki NRP atau Nomor Registrasi Pusat 18344. Sarwono memiliki NRP 18348.

Mereka pun sama-sama lulus Kursus Lanjutan Perwira Zeni. Kemudian Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) 1970-1971 hingga Sesko Gabungan (TNI). Sarwoko antara lain pernah menjadi Direktur Kajian di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas). Sedangkan Sarwono pernah menjadi Pangdam 17 Agustus di Sumatra Barat. Juga Asisten Teritorial (Aster) di Mabes ABRI.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

 

BERITA LAINNYA