Rabu 15 Jul 2020 17:41 WIB

Kebaikan Harus Dipertahankan, Termasuk 5 Perkara Berikut

Islam menekankan kebaikan harus tetap dipelihara dengan baik.

Islam menekankan kebaikan harus tetap dipelihara dengan baik. Ilustrasi kekayaan
Foto: ANTARA
Islam menekankan kebaikan harus tetap dipelihara dengan baik. Ilustrasi kekayaan

REPUBLIKA.CO.ID, Perkara baik tidak akan tetap baik kecuali bila ditunjang dengan perkara baik lainnya. 

Dalam konteks ini, Imam An Nawawi mengemukakan sepuluh perkara baik. Lima di antaranya: akal (kecerdasan), kemenangan/kesuksesan, kekuasaan, kekayaan, dan kemiskinan.

Baca Juga

Lima perkara tersebut berdasar pada sabda Rasulullah SAW semuanya baik. Namun, kelima perkara tersebut tidak akan baik tanpa dilengkapi perkara baik lainnya. Maka, siapa pun yang memiliki lima perkara tersebut, dianjurkan untuk melengkapinya dengan memiliki perkara baik lainnya.

Pertama, akal (kecerdasan). Tidak diragukan lagi orang yang memiliki kecerdasan adalah orang yang beruntung. Lebih-lebih, bila kecerdasan yang dimilikinya itu digunakan untuk mendalami al-Islam. Rasulullah SAW bersabda:

العَقلُ نورٌ فِي القَلبِ، يُفَرِّقُ بِهِ بَينَ الحَقِّ والباطِلِ

"Kecerdasan itu adalah cahaya di dalam hati/kalbu yang dapat membedakan antara yang benar dan yang salah."

Tetapi, memiliki kecerdasan itu bisa juga membuat pemiliknya salah kaprah. Oleh sebab itu, yang bersangkutan sangat dianjurkan untuk melengkapinya dengan sifat wara'. Dengan sifat inilah, yang bersangkutan dinilai aman dari kemungkinan salah kaprah dalam mengaplikasikan kecerdasan yang dimilikinya.

Kedua, kemenangan/kesuksesan. Orang yang meraih kemenangan/kesuksesan dapat dikatakan orang yang mujur. Tetapi, kemenangan/kesuksesan yang tidak diikuti syukur dan takut kepada Allah justru akan menjerumuskannya ke neraka.

Maka, orang yang meraih kemenangan/kesuksesan dianjurkan untuk syukur dan takut kepada Allah. Rasulullah SAW bersabda:  

حرمت النار على ثلاثة أعين: عين بكت من خشية الله

"Tidak akan masuk neraka tiga mata manusia yaitu (antara lain) orang yang menangis lantaran takut kepada Allah."

Ketiga, kekuasaan atau jabatan. Kekuasaan atau jabatan adalah amanah yang wajib ditunaikan dengan sebaik-baiknya. Bila tidak demikian, kekuasaan atau jabatan itu justru akan mendatangkan murka Allah. Dengan begitu, orang yang memiliki kekuasaan atau jabatan wajib mengembannya dengan tanggung jawab. Rasulullah SAW bersabda: 

إِنَّ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ يَوْمَ القِيَامَةِ وَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ عَادِلٌ ، وَأَبْغَضَ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ وَأَبْعَدَهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ جَائِرٌ

"Manusia yang paling dicintai Allah dan yang paling dekat dari-Nya pada hari kiamat nanti adalah pemimpin yang adil. Manusia yang paling dibenci Allah dan yang paling jauh dari-Nya pada hari kiamat nanti adalah pemimpin yang zalim."

Keempat, kekayaan. Memiliki kekayaan adalah baik. Tetapi, kekayaan tidak akan manfaat jika tidak didermakan di jalan Allah. Rasulullah SAW bersabda: 

السَّخِيُّ قَرِيبٌ مِنْ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنْ الْجَنَّةِ قَرِيبٌ مِنْ النَّاسِ بَعِيدٌ مِنْ النَّارِ وَالْبَخِيلُ بَعِيدٌ مِنْ اللَّهِ بَعِيدٌ مِنْ الْجَنَّةِ بَعِيدٌ مِنْ النَّاسِ قَرِيبٌ مِنْ النَّارِ

"Orang yang dermawan itu dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dekat dengan surga, dan jauh dari neraka. (Sebaliknya) orang yang kikir itu jauh dari Allah, jauh dari manusia, jauh dari surga, dan dekat dengan neraka."

Kelima, kemiskinan. Sejatinya, kemiskinan itu baik. Abdullah bin Mubarak berkata, "Merasa kaya saat berada dalam kemiskinan lebih baik dari kemiskinan itu sendiri." Tetapi, kemiskinan itu dapat berubah menjadi kemudaratan bagi yang bersangkutan. Misalnya, ketika yang bersangkutan tidak menyikapinya secara qanaah. Rasulullah SAW bersabda: 

كن قنعًا تكن أشكرَ الناسِ "Jadilah kamu orang yang qana'ah niscaya kamu akan menjadi orang yang paling bersyukur."  

 

sumber : Harian Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement