Wednesday, 15 Zulhijjah 1441 / 05 August 2020

Wednesday, 15 Zulhijjah 1441 / 05 August 2020

Erdogan dan Bung Karno: Mana Nasionalis Mana Islamis?

Rabu 15 Jul 2020 09:12 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Hagia Sophia kala menjadi masjid dan dipakai shalat.

Hagia Sophia kala menjadi masjid dan dipakai shalat.

Foto: google.com
Dulu Indonesia punya Sukarno, Turki sekarang punya Erdogan

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika.

Apakah Erdogan tidak nasionalis? Bila ada dalam konteks Indonesia ada yang bertanya soal ini, untuk menjawab kiranya dapat dijawab pula dengan pertanyaan balik: Apakah Soekarno tidak Islamis? Sebab, keduanya ternyata punya kesamaan dan sekaligus perbedaan.

Erdogan memang sejak menjadi wali kota Istanbul atau saat umur 28 tahun, dia pernah berucap akan mengembalikan Hagia Sophia menjadi masjid kembali sejak Kemal Ataturk menjadikannya sebagai museum. Soekarno (Bung Karno) pun sama. Semenjak jadi Presiden di tahun 1945 dengan dimentori Muh Yamin dia ingin mengembalikan kejayaan Majapahit dan Sriwijaya.

Bahkan kalau di runut lagi, glorifikasi  dan cinta menggebu kepada negaranya, pada sosok Erdogan setidaknya lebih purba. Ini karena usia ikon Haga Sofia jauh lebih tua dari kedua kerajaan itu. Bahkan, keberhasilan Turki melalui Sultan Muhammad Al Fatih membebaskan Hagia Sophia ternyata semasa dengan keberadaan Majapahit, terutama dalam masa akhir atau menjelang keruntuhannya. Sejarawan mengatakan keberadaan Majapahit sampai awal 1400-an masih eksis meski sudah terlantar. Atau tinggal sisa karena kini aura kekuasaannya beralih ke Demak.

Dan di sini, tak ada bedanya pula dengan Yamin dan Soekarno yang mengklaim kebesaran Majapahit dan Sriwijaya karena menguasai sedemikian luas wilayah -- terutama Majapahit yang wilayahnya dinyatakan berada atas dasar tulisan dalam buku yang ditulis Mpu Prapanca, Negara Kretagama.

Semua tahu, di kalangan sejarawan sampai kini tetap ada pendapat, Majapahit tak seluas itu wilayahnya -- misalnya sampai ke Pahang hingga Dompu, bahkan hingga Malaysia, Filipina, bahkan Asia Selatan. Mereka menyatakan hal itu juga dengan mengacu pada kisah Prapanca ketika menulis 'Negara Kretagama keliling Jawa Timur sembari mendirikan banyak candi makam bagi leluhurnya. Katanya, Majaphit sebenarnya ya hanya sebesar itu saja, sebesar wilayah provinsi Jawa Timur di masa sekarang.

Namun apa pun artinya, baik Erdogan dan Sukarno punya banyak persamaan. Mereka ingin melihat bangsanya besar, mandiri, dan dihormati. Kalau anak milenial menyatakan: bukan bangsa 'kaleng-kaleng' atau bahasa generasi 'kolonial' disebut bukan negara yang baru dibikin kemarin sore. Klaim masa lalu sebagai bangsa besar adalah syah.

Dan ini sama saja dengan kelakuan Inggris yang mengklaim diri sebagai negara yang bisa mengatur ombak lautan dan tidak pernah menjumpai terbenam matahari di wilayahnya karena ada di seluruh dunia, meski semua tahu  itu didapat dengan cara kolonialisasi atau kata kasarnya menjarah melalui peperangan. Atau, Amerika yang mengklaim diri sebagai bangsa padahal itu mereka hanya hanya terdiri dari para imigran dengan cara menyingkirkan dan membasmi penduduk asli yang berkulit merah yang mereka sebut secara pejoratif sebagai Indian.

Atau lagi, orang kulit putih di Australia dan Selandia Baru yang kadang nekad mengklaim itu tanahnya, padahal mereka hanyalah kaum pendatang yang cari tanah luas di belahan dunia bagian selatan karena di negaranya mereka sudah tak punya tanah lagi. Bahkan pada generasi awal, orang Eropa yang ke Australia adalah orang tahanan buangan pelaku kriminal. Alhasil, sekali lagi semua klaim masa lalu adalah syah. Biasa saja.

Persamaan lain antara Erdogan dan Sukarno yang juga pengagum Kemal Ataturk adalah pemahamannya soal Islam. Tidak ada orang Turki yang tak kagum pada Kemal, atau tak ada orang Indonesia yang meragukan Soekarno itu penganut Islam. Di dalam masa hidupnya Sukarno selalu shalat. Isterinya Fatmawati -- ibu negara RI yang oertama-- adalah putri Konsulat Muhammadiyah di Bengkulu. Putrinya yang kemudian sempat menjadi presiddn, Megawati Soekarno Putri hingga cucunya yang kini menjadi ketua DPR, Puan Maharani, secara terbuka berulangkali mengatakan bila dididik dalam keluarga dengan ajaran Islam ala Muhammadiyah. Jadi tak perlu meragukannya.

Kisah soal Sukarno mengaku Islam pun banyak sekali. Di depan rapat-rapat penting seperti BPUPKI misalnya, Soekarno secara terbuka mengatakan bahwa dirinya adalah orang Islam. Di masa muda dia adalah murid tokoh bapak bangsa dan Ketua Umum Sarekat Islam, HOS Cokroaminoto. Sejak masa itu hingga datangnya kemerdekaan Sukarno juga menuis dan berpolemik berbagi soal ke Islaman dengan ulama kondang, seperti A Hassan. Soekarno memang bukan lulusan sekolah agama sehingga tak terlalu paham bahasa Arab, tapi dia paham intisari dari ajaran Islam.

Begitu juga Erdogan. Sekilas dengan menjadikan Hagia Sophia menjadi masjid seakan menjadi bukti bahwa dia benar anti ajaran nasionalis Turki tinggalan Kemal Ataturk. Dengan keptusan itu, Erdogan kini malah menjadikan Turki sebagai Turki sejati, bukan Turki Eropa. Jadi dalam hal ini antara dia dan Kemal dalam cinta  kepada tanah air adalah soal tinkat gradasi nasionalis dan dasar ideologinya di mana yang satu Islamis dan yang satu sekular. Yang satu cinta masjid yang satunya tak suka masjid. Itu saja!

Maka, layaknya samurai atau  pedang bermata dua ini, baik oposan Erdogan dan juga Soekarno kala itu tak bisa banyak bicara. Di masa sekarang kaum Kemalis pun masih bereaksi samar-samar soal Hagia Sophia jadi masjid. Istilahnya dalam politik praktis, mereka masih 'cek ombak'. Mereka juga tahu bisa salah langkah bisa dituduh balik bila kelompoknya justru yang tak nasionalis atau hanya membebek pada kepentingan barat dan asiing saja. Kalau sampai begitu, mereka pasti akan kalah dalam pemilu lawan Erdogan nanti.

Dan manuver ini juga sama dengan yang dilakukan Sukarno pada puncak kejayaannya di akhir 1950-an hingga pertengahan tahun 1960-an. Dia bisa bungkam oposisinya, terutama kaum Islamis dan Sosialis seperti Masyumi pimpinan M Natsir  dan Partai Sosalis pimpinan Sutan Syahrir. Manuver anti komunis oleh Soekarno patahkan dengan koalisi 'Kaki Tiga' atau Nasakom.

Kelompok Islam yang tak suka padanya dia bungkam dengan cara menggandeng Nabdlatul Ulama. Agar makin kuat sekaligus menghadapi kebanalan PKI, dia gandeng tentara angkatan darat yang dipimpin Jendral AH Hasution. Jadi persis dengan Erdogan, Soekarno saat itu mampu berada di atas ombak, sebelum akhirnya tumbang karena berbagai sebab lain, yakni kepentingan politik global, kebangkrutan ekonomi negara, hingga perilaku dia yang ingin jadi diktator, misalnya dengan menjadi presiden seumur hidup.

Bahkan, sama dengan Erdogan juga kadang melakukan propaganda untuk melenyapkan derita kesulitan ekonomi yang membelit rakyatnya, apa yang pernah dilakukan Sukarno pun sama. Sejarah mencatat apa yang dilakukan Sukarno di masa muda atau sebelum jadi presiden, yakni semasa pendudukan Jepang. Kala itu dia dengan yakin menjadi sosok penggerak Romusha yang disebut sebagai organisasi penggerak rakyat di dalam melawan sekutu dalam perang Asia Timur Raya. Soekarno tak segan berpidato menggebu dengan mengenakan seragam Romusha. Tujuannya kala itu satu saja, atau bukan tak tahu derita rakyat, tapi dia ingin melihat Indonesia merdeka seperti yang berulangkali janjikan kolonilias Jepang kepadanya.

Bahkan dia tahun 1960-an hanya dengan pidato menggelegar seperti dalang dengan mencontoh gaya orasi HOS Cokroaminoto, dia berhasil membuai rakyat agar cinta kepada negaranya dan mau hidup berjuang meski dengan kondisi hidup serba pas-pasan. Soekarno menanamkan rasa cinta kepada tanah air yang baru, yakni Indonesia. Maka bergaunglah semboyan mulia  'Kemerdekaan Jalan Emas Menuju Bangsa Adil Makmur', Gantungkan Cita-Citamu Setinggi Langit, atau hingga jargon menggertak Amerika Ketika Setrika, Inggris Kita Linggis, hingga yang pejoratif 'Ganyang Malaysia', Bubarkan Negara Boneka Belanda di Papua' dan lainnya.

Dan itu sama dengan Erdogan, dia pun terus menggelorakan semangat cinta kepada tanah airnya. Bahkan tak segan dia tunjukan secara provokatif di dalam kunjungan ke negara Eropa yang kerap mengkritiknya.

Dan beda dengan Sukarno yang semasa berkuasa gagal membangkitkan ekonomi bangsa, Erdogan mampu membawa Turki kepada negara yang berpenghasilan lumayan. Bahkan tahun 2015 PDP Turki bisa sampai 21.000 dolar AS. Meski begitu dalam beberapa tahun terakhir kondisi ekonomi Turki menurun. PDP Turki di tahun 2019 hanya berkisar menjelang angka 10.000 dolar AS saja. Apalagi kini terjadi pandemi dunia karena wabah virus asal Wuhan Cina, Corona. Turki juga merasa ekonomi negaranya terancam.

Alhasil, efeknya pun sudah terasa kepada Erdogan. Dalam kurun 20 tahun terakhir untuk pertama kali partainya, yakni Partai Keadilan Islam, kalah dalam pemilihan wali kota  Istambul dan Ankara. Di luar wiayah itu partai Erdogan masih menang. Tapi tampaknya bagi Erdogan ini 'warning' yang serius. Kalau dia tak cermat maka dominasi partainya akan lewat. Generasi muda Turki yang tahunya negaranya makmur, bisa tak mau memilih dia. Ini beda dengan generasi yang lebih tua karena dia bisa membandingkan Turki sebelum partainya berkuasa dan ketika Turki di kuasai kelompok Kemalis. Dengan kata lain mereka punya referensi hidup nyata bahwa sejelek-jeleknya Turki di bawah Erdogan masih jauh lebih baik dari pada ketika Turki di bawah bayang kaum Kemalis.

Maka manuver baru seperti cara Soekarno membungkam oposisinya Erdogan lakukan. Bila Sukarno mengambil cara membuat koalisi kaki tiga, Erdogan kini memakai ikon Hagia Sophia. Melaui ini dia solah berpesan, ke dalam partainya Erdogan ingin lebih menyolidkan dukungan bahwa  akar Turki adalah Islam, kepada kaum Kemalis dia berpesan bahwa dirinyalah yang nasionalis sekarang karena menjadikan Turki sebagai Turki sejati, bukan Turki yang tunduk pada barat atau intervensi asing. Sedangkan kepada dunia inernasional dia berpesan bahwa Turki tidak bisa disetir. Untuk pakta militer Nato, Turki juga memberi peringatan agar jangan usik kalau mereka tak ingin Eropa punya masalah besar dalam bidang keamanan.

Dan khusus soal Hagia Sophia kepada umat beragama non Islam, Erdogan mengatakan bila tetap setiap orang bisa masuk ke Hagia Sophia meski sudah menjadi masjid asalkan dengan sikap yang penuh hormat. Bukan hanya itu, dia akan memberikan kesempatan kepada setiap orang agar gratis memasukinya. Katanya, soal Hagia Sophia hanya soal sikap suatu negara atas sebuah bangunan yang sudah berusia 1.500 tahun.''Kalau ingin Hagia Sophia menjadi museum, apakah barat juga mau bila kompleks Vatikan juga dijadikan museum?" kata Erdogan.

Ada keputusan tersebut, memang jelas banyak negara Eropa kelabakan. Erdogan tahu seperti apa nasib masjid di wliayah Ottoman saat lepas dari tangannya. Masjid jadi gereja, jadi gedung bisokop, teater, kantor dan lainnya. Ini terjadi di Spanyol, Yunani, hingga wilayah Balkan. Maka Erdogan cuek saja.

Erdogan tahu barat punya standar ganda. Yunani misalnya, bila kini bersikap ketus soal keputusan Hagia Sophia menjadi masjid, orang Turki tahu apa yang dilakukan tentara Yunani ketika memboneng Inggris masuk ke Konstantinopel pada awal tahun 1900-an. Sama dengan Belanda di Indonesia kala tahun 1945 yang masuk ke Indonesia dengan maksud ingin menjajah kembali sembari membonceng tentaa Inggris, hal serupa dilakukan Yunani. Di situlah kemudian lahir seorang Kemal Ataturk yang menjadi jendral Turki jempolan karena berhasil mengusir Yunani bersama sekutunya.

Perlu diingat pula, di Istambul atau di kalangan rakyat Turki juga sudah lama tersiar kabar, bahwa sebenarya pada tahun 1924 di kala Kemal Ataturk mau menandatangi perjanjian damai untuk mengakhiri perang dengan Inggris (Barat bersama sekutunya) ada semacam persetujuan lisan dari kedua belah pihak.

Konon, Kemal kala itu meminta syarat baru bersedia tanda tangan asalkan pihak barat mau berjanji menjadikan seluruh wilayah Ottoman di luar Turki sekarang, menjadi tanah wakaf di mana pihak penyewa adalah barat meski dengan tanpa bayar. Dan ini periodenya selama 100 tahun saja. Setelah itu tanah wakaf kembali ke pemilik aslinya. Jadi nasib ini mirip apa yang dialami China ketika kalah dalam perang Candu melawan Inggris. Hongkong kemudian dijadikan tanah sewa selama 100 tahun yang berakhir di era 1980-an.

Kabarnya syarat dari Kemal disetujui pihak Inggris dan sekutunya juga secara lisan. Maka perjanjian pun ditandatangani.Turki wilayahnya eksis seperti sekarang, sedangkan Barat membagi jarahan 'tanah wakaf' Ottoman di Afrika hingga kawasan Timur Tengah dan semenanjung Balkan menjadi puluhan negara yang seperti kita kenal sekarang. Ingat kala Ottoman berkuasa kesultanan ini sampai punya wilayah yang diistilahkan mencapai setengah dunia.

Maka, adanya hal itu jadi terbayang bila tahun 2020, yang berati sudah hampir 100 tahun lamanya dari perjanjian damai yang ditanda tangani Kemal Ataturk  pada 1924, pengusa Turki kembali menagih janjinya. Bayangkan saja, bila wilayah Ottoman yang luas dari Afrika Utara, Balkan, hingga Timur Tengah (termasuk Saudi Arabia) kembali ke tangan Turki seperti zaman Ottoman. Jadi kalau hanya Erdogan menjadikan Hagia Sophia sebagai kasih atau Sukarno hanya menjadikan Indonesia dan tak meneruskan niatnya mempunyai wilayah seluas Majapahit, itu 'mah' kecil: tak ada seujung kuku.

Harus kita akui Erdogan di masa kini di Turki, dan Sukarno di masa lalu di Indonesia, keduanya itu ternyata orang besar. Pemimpin besar dengan segala jasa dan kesalahannya. Dan itu manusiawi!

 

 

 

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA