Tuesday, 21 Zulhijjah 1441 / 11 August 2020

Tuesday, 21 Zulhijjah 1441 / 11 August 2020

Ingin Terus Makan Manis? Sel Otak Ini Dalangnya

Rabu 15 Jul 2020 00:08 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Reiny Dwinanda

Ada kalanya orang ingin terus mengonsumsi makanan manis.

Ada kalanya orang ingin terus mengonsumsi makanan manis.

Foto: Republika
Ada kalanya orang ingin terus-menerus mengonsumsi sesuatu yang manis.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Makanan atau minuman yang manis tentu tidak baik bila dikonsumsi secara berlebihan. Akan tetapi, terkadang ada suatu kondisi di mana seseorang merasa ingin mengonsumsi sesuatu yang manis secara terus-menerus. Kondisi ini dikenal sebagai sugar craving.

Ternyata, ada mekanisme biologis yang memengaruhi kontrol asupan gula dan preferensi seseorang terhadap makanan manis. Hal ini diungkapkan dalam sebuah studi terbaru yang dimuat dalam jurnal Cell Metabolism.

Studi ini berfokus pada hormon yang bernama fibroblast growth factor 21 (FGF21). Hormon ini diketahui memainkan peran dalam kontrol berat badan, keseimbangan energi dan sensitivitas insulin.

"Ini merupakan studi pertama yang mengidentifikasi di mana hormon ini bertindak dalam otak," jelas salah satu ketua tim peneliti Matthew Potthoff PhD dari University of Iowa Carver College of Medicine, seperti dilansir Times Now News.

Potthoff dan timnya mengungkapkan bahwa FGF21 dibuat di hati sebagai responS dari peningkatan kadar gula. Hormon ini "beraktivitas" di otak untuk menekan asupan gula dan preferensi terhadap makanan manis.

Meski telah diketahui bahwa FGF21 bertindak di area otak, belum diketahui sel apa yang menjadi targetnya. Hal ini cukup sulit diketahui mengingat reseptor hormon ini terlihat pada level yang sangat rendah sehingga sulit untuk dipantau.

Dengan menggunakan beragam teknik, tim peneliti berhasil mengenali sel yang mengekspresikan reseptor untuk FGF21. Tim peneliti menyatakan bahwa FGF21 menyasar neuron glutamatergik di otak untuk menurunkan asupan gula dan preferensi rasa manis.

Tim peneliti juga mendapati bahwa FGF21 menurunkan asupan gula dengan cara meningkatkan sensitivitas neuron yang ada di hipotalamus ventromedial terhadap glukosa.

Saat ini, beberapa obat yang didasarkan pada bentuk modifikasi dari FGF21 telah diujicobakan sebagai terapi untuk obesitas dan diabetes. Temuan baru ini dapat membantu upaya pengembangan obat yang mungkin membantu upaya mengontrol asupan gula.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA