Monday, 20 Zulhijjah 1441 / 10 August 2020

Monday, 20 Zulhijjah 1441 / 10 August 2020

Virus Corona Bukan Cuma Bisa Rusak Paru

Senin 13 Jul 2020 20:15 WIB

Rep: Rizkyan Adiyudha/ Red: Reiny Dwinanda

Ilustrasi virus corona dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat. Virus corona tak cuma menyerang sistem pernapasan.

Ilustrasi virus corona dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat. Virus corona tak cuma menyerang sistem pernapasan.

Foto: CDC via AP, File
Virus corona bisa menyebabkan beragam manifestasi, termasuk pembekuan darah.

REPUBLIKA.CO.ID, BOSTON -- Para ilmuwan telah memberikan peninjauan pertama tentang efek virus SARS-CoV-2 alias Covid-19 pada organ tubuh selain paru. Mereka mengatakan, virus yang biasa menyerang sistem pernapasan itu juga bisa menyebabkan beragam manifestasi, termasuk pembekuan darah, gagal ginjal, hingga gejala neurologis seperti delirium.
 
"Saya berada di garis depan sejak awal dan mengamati bahwa darah pasien banyak yang menggumpal," kata rekan penulis studi dari Universitas Columbia di Amerika Serikat (AS) Aakriti Gupta seperti diwartakan Times Now News, Senin (13/7).

Gupta mengaku melihat para pasien memiliki gula darah tinggi, bahkan jika mereka tidak menderita diabetes. Dia mengatakan, tidak sedikit penderita juga mengalami cedera pada hati dan ginjalnya.

Menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Medicine, ilmuwan mendapati bahwa sebagian besar pasien Covid-19 menderita kerusakan ginjal, jantung, dan otak. Para ilmuwan merekomendasikan para tenaga medis untuk mengobati pasien dengan kondisi tersebut di samping menangani penyakit pernapasan.

"Dokter perlu menganggap Covid-19 sebagai penyakit multisistem," kata Gupta.

Para peneliti mendapati bahwa salah satu komplikasi non-pernapasan yang paling banyak dilaporkan oleh penelitian adalah pembekuan darah. Mereka mengatakan, komplikasi ini mungkin berasal dari serangan virus pada sel-sel yang melapisi pembuluh darah.

Ketika virus menyerang sel-sel pembuluh darah maka peradangan akan meningkat. Ketika hal itu terjadi maka darah mulai membentuk gumpalan besar dan kecil.

Baca Juga

Menurut penelitian, gumpalan darah ini dapat menyebar ke seluruh tubuh dan mendatangkan malapetaka pada organ-organ. Para peneliti mengungkapkan, pembentukan gumpalan tersebut juga dapat berujung pada serangan jantung.

Kendati demikian, mereka masih belum bisa menjelaskan secara rinci mekanisme pasti kerusakan jantung pada pasien Covid-19. Di lain sisi, mereka percaya hal itu terjadi karena kerusakan otot jantung akibat peradangan sistemik dan pelepasan molekul sistem kekebalan, sitokin. Mereka mengatakan arus sitokin biasanya membersihkan sel-sel yang terinfeksi dapat lepas kendali dalam kasus Covid-19 yang parah.

"Para ilmuwan di seluruh dunia bekerja pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk memahami bagaimana virus ini secara khusus membajak mekanisme pertahanan tubuh secara biologis," katanya.

Gupta mengatakan, temuan lainnya terkait virus Covid-19 adalah tingginya proporsi pasien di ruang gawat darurat dengan kerusakan ginjal akut. Dia mengungkapkan, 50 persen pasien Covid-19 yang menjalani perawatan ICU di New York, AS dilaporkan memiliki masalah tersebut.

Mereka mengatakan molekul reseptor ACE2 yang digunakan oleh virus untuk masuk ke dalam sel manusia ditemukan dalam konsentrasi tinggi di ginjal. Menurut GUpta, hal ini kemungkinan bertanggung jawab atas kerusakan yang terjadi pada organ tersebut.

Sementara, hanya sepertiga pasien penderita mengalami gejala neurologis infeksi virus Covid-19, semisal sakit kepala, pusing, kelelahan, dan kehilangan bau. Penelitian juga mendapat bahwa ada enam persen pasien mengalami stroke akibat pembekuan darah. Sedangkan sekitar delapan hingga sembilan persen kasus yang terjadi menyebabkan delirium atau gangguan mental serius yang menyebabkan kebingungan dan berkurangnya kesadaran terhadap lingkungan sekitar

"Kami berharap penelitian ini akan membantu dalam pengembangan pengobatan yang lebih efektif untuk Covid-19 dalam waktu dekat," kata rekan penulis studi dari Harvard Medical School, Kartik Sehgal.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA