Thursday, 23 Zulhijjah 1441 / 13 August 2020

Thursday, 23 Zulhijjah 1441 / 13 August 2020

MUI Bakal Inventarisasi Seniman di Berbagai Daerah

Ahad 12 Jul 2020 01:26 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Muhammad Hafil

MUI Bakal Inventarisasi Seniman di Berbagai Daerah. Foto: Penulis Habiburahman El Shirazy

MUI Bakal Inventarisasi Seniman di Berbagai Daerah. Foto: Penulis Habiburahman El Shirazy

Foto: Republika/Wilda Fizriyani
Seniman berbagai daerah akan diinventarisasi MUI.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Komisi Pembinaan Seni Budaya Islam (KPSBI) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Habiburrahman El Shirazy, menyampaikan pentingnya menginventarisasi berbagai hal terkait seni dan budaya. Tidak hanya karya seni dan budaya, tetapi juga meliputi seniman-seniman yang berada di daerah.

"Kita inventarisasi seni budaya, dan juga seniman-seniman di daerah. Ini menjadi keinginan kita bersama di pusat," kata pria yang akrab disapa Kang Abik itu, dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) KPSBI yang digelar secara daring pada Sabtu (11/7).

Kang Abik mengatakan, KPSBI MUI harus memiliki semacam bank data yang berisi mulai karya seni, hingga seniman-senimannya. Menurutnya, ini perlu dilakukan untuk mengetahui sumber daya di bidang seni budaya di seluruh wilayah Indonesia.

"Sumber daya seniman-seniman di daerah itu kita punya siapa saja. Misal di Jawa Tengah itu ada komunitas kaligrafer. Kemudian di Kudus itu ada sekolah kaligrafi yang semacam pesantren kaligrafi. (Orang yang mendirikannya) ternyata masih muda banget dan dia juara nasional," tutur dia.

Selain itu, lanjut Kang Abik, ada pula Robert Nasrullah, yang saat ini menjadi Imam Besar Masjid UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dia juga seorang kaligrafer nasional, sekaligus qori dan hafiz.

"Di Yogyakarta, itu saya bertemu dengan Pak Kiai Robert Nasrullah yang juga imam di masjid UIN Yogyakarta. Beliau juga kaligrafer nasional. Ini artinya sumber daya kita juga memang perlu untuk kita inventarisasi sehingga menjadi kekuatan," jelasnya.

Dalam Rakornas itu, turut dihadiri Rektor AMIKOM Yogayakarta sekaligus produser film The Battle of Surabaya, Prof Dr Muhammad Suyanto. Dia menyampaikan soal proses sinematografi pada beberapa film yang telah diciptakan, dengan tajuk "Strategi Memasukkan Nilai Islam dalam Karya Film dan Menembus Pasar Internasional".

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA