Monday, 23 Zulhijjah 1442 / 02 August 2021

Monday, 23 Zulhijjah 1442 / 02 August 2021

PLTN Dinilai Jadi Solusi Energi Ramah Lingkungan

Jumat 10 Jul 2020 23:11 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Pembangkit listrik tenaga nuklir/PLTN (ilustrasi)

Pembangkit listrik tenaga nuklir/PLTN (ilustrasi)

Foto: EPA/Laurent Dubrule
Ada sekitar 440 PLTN yang beroperasi di seluruh dunia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Anhar Riza Antariksawan mengatakan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) bisa menjadi solusi ketahanan energi yang andal. Selain andal, menurut dia PLTN juga terjangkau dan ramah lingkungan di masa depan.

"Untuk menjaga lingkungan hidup, kemudian menjaga ketahanan energi, pasokan energi dalam jumlah besar, PLTN bisa digunakan meskipun tetap harus mempertimbangkan faktor keselamatan dan keamanan. Bagaimanapun Indonesia tetap mempertimbangkan PLTN menjadi salah satu alternatif," kata Anhar, awal pekan ini.

Anhar menuturkan PLTN menjadi salah satu pembangkit energi bersih yang tidak mengemisikarbon (CO2). Hal itu diakui dalam Kebijakan Energi Nasional (KEN).

"Di dalam KEN pun menyebutkan bahwa kalau kita memperhitungkan kelestarian lingkungan hidup, nuklir dipertimbangkan. Kita sekarang membutuhkan energi yang bersih sehingga harusnya PLTN itu dipertimbangkan dengan baik," tutur Anhar.

Anhar mengatakan PLTN merupakan salah satu pembangkit listrik yang saat ini di dunia berkontribusi sekitar 15 persen dari listrik dunia. Ada sekitar 440 PLTN yang beroperasi di seluruh dunia.

"Itu bisa diartikan juga bahwa PLTN sudah memberikan kontribusi pada pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di berbagai belahan dunia," ujar Anhar.

Dalam Kebijakan Energi Nasional (KEN) Indonesia, didorong pemakaian energi baru dan terbarukan agar meningkat terus. Di dalam KEN, energi nuklir merupakan opsi yang terakhir dalam upaya menghasilkan energi listrik untuk kebutuhan dalam negeri.

Saat ini, energi listrik di Indonesia masih didominasi pembangkit listrik berbahan bakar fosil seperti batu bara. Namun, dampak negatif dari penggunaan bahan bakar fosil adalah emisi karbon yang akan berkontribusi pada perubahan iklim dan pemanasan global.

Indonesia menargetkan agar pada 2025, energi baru dan terbarukan menempati porsi 23 persen dari bauran energi dalam negeri. Peningkatan energi baru dan terbarukan terus diupayakan untuk mengurangi ketergantungan pada energi berbahan bakar fosil yang melepaskan emisi karbon yang berbahaya bagi lingkungan.

Dalam laman resmi, Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA) menyatakan bahwa tenaga nuklir adalah kunci untuk masa depan rendah emisi karbon. IAEA tetap berkomitmen untuk membantu negara menggunakan tenaga nuklir untuk menghasilkan listrik rendah karbon dan melawan dampak perubahan iklim.

sumber : antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA