Sunday, 19 Zulhijjah 1441 / 09 August 2020

Sunday, 19 Zulhijjah 1441 / 09 August 2020

Para Musisi AS Ini Berseteru Soal Nama Panggung Lady A

Sabtu 11 Jul 2020 05:25 WIB

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Nidia Zuraya

Grup musik country Lady Antebellum kini menggunakan nama panggung Lady A.

Grup musik country Lady Antebellum kini menggunakan nama panggung Lady A.

Foto: Wikimedia
Perseteruan tersebut melibat penyanyi blues Anita White dan grup country Lady A.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Grup country Amerika Serikat (AS) Lady A menuntut penyanyi blues AS Anite White atas penggunaan nama yang sama. Grup Lady A yang sebelumnya memiliki nama panggung Lady Antebellum itu mengubah nama untuk melepaskan konotasi era perbudakan.

Ketika grup yang beranggotakan tiga orang itu pertama kali mengumumkan perubahan nama pada Juni lalu, mereka tidak menyadari bahwa Anita White telah tampil sebagai Lady A selama 20 tahun. Grup Lady A mengubah nama, karena menghormati orang Amerika kulit hitam.

“Ini hidupku,” kata White saat itu, seperti dilansir di laman The Guardian, Jumat (10/7).

Tak lama, kedua pihak berbagi panggilan obrolan di Zoom untuk membahas solusi positif bersama. Namun, pembicaraan itu gagal. Dalam sebuah pernyataan, grup vokal mengatakan perwakilan White menuntut pembayaran 7 juta dolar AS.

Grup itu tidak mencari ganti rugi finansial dari White, atau memintanya mengubah nama panggung, tetapi menuntut karena penggunaan merek dagang yang diklaim mereka telah dipertahankan selama bertahun-tahun dan menghindari litigasi lebih lanjut.

“Kami sedih membagikan bahwa harapan tulus kami untuk bergabung degan Anita White dalam kesepakatan dan tujuan bersama telah berakhir,” ujar kelompok itu dalam sebuah pernyataan. Mereka mengklaim selama ini telah berbagi cerita, saling mendengar, berdoa, dan menghabiskan waktu berjam-jam di telpon bersama White.

Dalam sebuah wawancara dengan Vulture, White mengatakan dia mengumpulkan 10 juta dolar AS untuk mengubah dan memasarkan citra dirinya, serta setengah dari pendapat itu untuk disumbangkan ke badan amal untuk mendukung seniman kulit hitam independen. Dia mengatakan merasa tindakan grup itu telah mencapnya sebagai wanita kulit hitam pemarah.

“Saya diam selama dua minggu karena saya berusaha percaya akan baik-baik saja dan mereka menyadari lebih mudah mengubah nama mereka, atau membayar untuk nama saya,” kata White.

Dia menganggap uang sebesar 5 juta dolar AS itu tak ada apa-apanya dibandingkan nilai dirinya, terlepas dari apa pemikiran grup itu. Dia mengatakan kontrak pertama yang dikirim grup itu membahas mengenai penggunaan bersama nama tidak memiliki substansi.

Baca Juga

Dalam panggilan Zoom, dia menceritakan kelompok itu mengatakan White dan grup Lady A bisa bersama-sama menggunakan nama sama. Mereka berjanji membantu White di platform media sosial, seperti Amazon, iTunes.

White merasa itu bukan solusi terbaik. Dia menyarankan grup itu menambahkan sesuatu pada nama kelompok mereka, seperti, Band Lady A, atau Lady A the band, sementara dirinya bersedia mengganti nama panggung menjadi Lady A the Artist. Namun, White mengatakan grup itu menolak sarannya.

Dia sudah merasakan dampak dari nama yang sama itu. Salah satunya, dia tak bisa mengunggah single dan tidak dapat memverifikasi namanya, Lady A selama beberapa hari.

Hillary Scott, Charles Kelley, dan Dave Haywood membentuk Lady Antebellum pada 2006. Mereka mengklaim tidak mengadopsi apapun, termasuk dari White saat mendaftarkan Lady A sebagai merek dagang pada 2010.

Band Lady A menjadikan masalah itu sebagai pembelajaran untuk diri sendiri dan musisi lainnya. Kelompok itu adalah dalah satu dari beberapa entitas industri musik yang mengubah namanya menyusul protes Black Live Matter baru-baru ini.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA