Jumat 10 Jul 2020 20:02 WIB

Mampukah Vitamin D Melawan Covid-19?

Belum ada penelitian yang mengkonfirmasi vitamin D bisa menyembuhkan penyakit.

Sinar matahari adalah sumber vitamin D terbaik (Foto: menikmati sinar matahari)
Foto: Needpix
Sinar matahari adalah sumber vitamin D terbaik (Foto: menikmati sinar matahari)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Vitamin D berperan penting dalam tubuh kita. Sebuah penelitian menyebutkan kekurangan vitamin D bisa memperburuk penyebaran COVID-19. Benarkah ini bisa terjadi?

Tidak ada yang tahu persis berapa banyak vitamin D yang sebenarnya dibutuhkan seseorang. Sebagai contoh, pada tahun 2019 sebuah penelitian menemukan bahwa vitamin D bertanggung jawab untuk menjaga fungsi kerangka tubuh dan berkaitan erat dengan penyakit kardiovaskular, diabetes tipe 2, dan berbagai jenis kanker

Baca Juga

Kadar vitamin D dalam tubuh bersifat dinamis tergantung dengan paparan sinar matahari. Jika sinar UV yang cukup mencapai kulit, tubuh mampu menghasilkan vitamin itu sendiri. Namun, tubuh manusia hanya memproduksi sekitar 10 hingga 20 persen kebutuhan vitamin D harian dari makanan.

Vitamin D dari sinar matahari atau makanan pada awalnya bersifat tidak aktif secara biologis. Sebelum ginjal dapat menghasilkan bentuk vitamin aktif secara biologis (kalsitriol) beberapa proses metabolisme harus dilakukan sebelumnya. Selain itu, banyak organ memiliki reseptor yang mengikat prekursor kalsitriol.

Dari prekursor ini, organ-organ kemudian menghasilkan kalsitriol sendiri, yang kemudian digunakan tubuh untuk proses-proses lain yang tak terhitung jumlahnya dalam tubuh. Bentuk vitamin D ini mengatur sekresi insulin, menghambat pertumbuhan tumor, dan mendorong pembentukan sel darah merah serta kelangsungan hidup, dan aktivitas makrofag yang penting bagi sistem kekebalan tubuh.

Vitamin D rendah, penyakit COVID-19 memburuk?

Sebuah penelitian yang dilakukan di Universitas Hohenheim telah menemukan hubungan antara kekurangan vitamin D, penyakit tertentu sebelumnya, dan kasus COVID-19 yang parah.

Menurut penelitian tersebut, ada banyak bukti bahwa beberapa penyakit tidak menular (tekanan darah tinggi, diabetes, penyakit kardiovaskular, sindrom metabolik) berhubungan dengan kadar plasma vitamin D yang rendah. Komorbiditas ini, bersama dengan vitamin D yang sering menyertai defisiensi, meningkatkan risiko terpapar COVID-19 yang parah.

"Pernyataan ini sepenuhnya benar," kata Martin Fassnacht, Kepala Endokrinologi di Rumah Sakit Universitas Würzburg.

Fassnacht sangat kritis terhadap tren seputar vitamin D, tetapi bukan karena ia menyangkal vitamin ini memiliki fungsi penting. Namun, penelitian pada manusia belum dapat menunjukkan bahwa vitamin D memiliki kekuatan penyembuhan penyakit.

"Jika Anda melihat lebih dekat, sejauh ini harapan terhadap pemberian vitamin D memiliki efek penyembuhan belum bisa dikonfirmasi," ucap dia.

Asosiasi versus studi intervensi

Banyak studi tentang vitamin adalah studi asosiasi atau observasi. "Menurut definisi, studi-studi ini tidak dapat membuktikan hubungan sebab akibat, tetapi hanya menunjukkan korelasi belaka," kata Fassnacht.

Dokter mencoba menggambarkan hal ini dengan sebuah contoh:

"Bayangkan dua kelompok orang berusia 80 tahun. Satu kelompok sigap, aktif, dan berolahraga. Jika Anda membandingkannya dengan kelompok lain yang tinggal di panti jompo, perbedaan kadar vitamin D akan terlihat dramatis. Harapan hidup juga akan sangat berbeda."

Tetapi untuk mencoba menjelaskan perbedaan kebugaran dengan status vitamin D saja terlalu sederhana. "Kadar vitamin D adalah ukuran yang baik tentang seberapa sakit seseorang. Tetapi tidak lebih," kata Fassnacht.

 

sumber: https://www.dw.com/id/mampukah-vitamin-d-melawan-covid-19/a-54118974

sumber : DW
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement