Jumat 10 Jul 2020 18:49 WIB

Kemenperin: Air Minum Kemasan Lokal Memenuhi Standar Mutu

industri AMDK memiliki pangsa pasar yang cukup besar dengan pangsa pasar 85 persen

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Hiru Muhammad
Pekerja memindahkan air minum dalam kemasan (AMDK) menggunakan forklift di pabrik air mineral kawasan Kalibata, Jakarta, Rabu (15/1).
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Pekerja memindahkan air minum dalam kemasan (AMDK) menggunakan forklift di pabrik air mineral kawasan Kalibata, Jakarta, Rabu (15/1).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan, produk Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) yang beredar di pasar domestik dan diproduksi oleh industri di Tanah Air telah memenuhi standar mutu yang ditetapkan. Hal ini mengacu pada Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 78 Tahun 2016 tentang Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) Air Mineral, Air Demineral, Air Mineral Alami, dan Air Minum Embun Secara Wajib.

“Produk AMDK yang berada di pasar dalam negeri sudah memenuhi SNI 3553:2015, SNI 6241:2015, SNI 6242:2015 dan SNI 7812:2013,” kata Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Abdul Rochim di Jakarta, pada Jumat, (10/7). Ia menjelaskan, penyusunan standar mutu AMDK tersebut disusun  komite teknis yang terdiri dari berbagai stakeholder, meliputi pemerintah, akademisi atau ahli di bidang keamanan pangan, masyarakat, dan produsen. 

Penyusunan SNI wajib untuk produk AMDK, kata dia, juga menggunakan beberapa referensi standar internasional dari Codex Alimentarius Committee dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Sekaligus aturan lain yang umum digunakan dalam penyusunan standar keamanan pangan di berbagai negara.

“Pengujian parameter SNI dilakukan oleh laboratorium yang telah ditunjuk. Kemudian telah mendapatkan akreditasi dari Komite Akreditasi Nasional (KAN) untuk metode pengujian dan peralatan pengujian yang digunakan,” jelas Rochim.

Bahkan demi memastikan kualitas produk AMDK, dilakukan pengawasan dan pengujian secara berkala terhadap air baku, proses produksi dan produk yang beredar sesuai Permenperin Nomor 4 Tahun 2018 tentang Tata Cara Pengawasan Pemberlakuan Standardisasi Industri Secara Wajib. “Kandungan besi merupakan salah satu parameter yang diuji sesuai SNI Air Mineral (SNI 3553:2015), dengan kadar maksimal tidak melebihi 0,1 mg per liter sehingga jika suatu produk air minum memiliki kandungan besi melebihi batas maksimum dipastikan tidak akan lolos uji SNI,” jelas Rochim.

Sehingga, lanjutnya, produk AMDK yang sudah memiliki Sertifikasi Produk Penggunaan Tanda (SPPT) SNI serta memiliki Izin Edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) dapat dipastikan kualitasnya memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan secara nasional (SNI) maupun internasional. “Jadi, produk AMDK di pasaran sudah lolos penilaian aspek keamanan, mutu, dan gizi produk pangan. Pengujian dilakukan agar AMDK aman dikonsumsi oleh masyarakat,” tuturnya. 

Rochim pun mengemukakan, industri AMDK memiliki pangsa pasar yang cukup besar dari kelompok industri minuman ringan, dengan pangsa pasar mencapai 85 persen. “Jumlah industri AMDK di Indonesia lebih dari 500 perusahaan, 90 persen di antaranya merupakan sektor industri kecil menengah (IKM),” katanya.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI) Adhi S Lukman menyampaikan, industri yang tergabung dalam asosiasi tersebut selalu mengikuti aturan yang diterapkan pemerintah. Menurutnya, produk AMDK tidak akan mendapat izin edar dari Badan POM bila memiliki kandungan cemaran melebihi batas yang ditentukan. “Kami berharap masyarakat bijak terhadap isu-isu mengenai AMDK yang beredar di masyarakat,” ujarnya.

Adhi juga menyampaikan, GAPMMI secara konsisten akan terus mendorong terciptanya iklim usaha  yang kondusif di tanah air, khususnya bagi pelaku industri makanan dan minuman. “Upaya ini kami wujudkan bersama dengan pihak pemerintah seperti Kemenperin dan Badan POM,” tuturnya.

Sementara, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan (Aspadin) Rachmat Hidayat mengungkapkan, utilitas industri AMDK menunjukkan perbaikan hingga 80 persen saat memasuki bulan keempat tahun ini, meski sebelumnya sempat anjlok ke level 50 persen di tengah kondisi pandemi Covid-19. “Kami menargetkan pertumbuhan produksi AMDK hingga akhir tahun menjadi maksimal lima persen atau sebesar 29,4 miliar liter,” ujarnya. 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement