Selasa 07 Jul 2020 13:43 WIB

Rusia Larang Berburu Marmut untuk Cegah Wabah Pes

China telah melaporkan wabah pes yang bermula di Mongolia

Rep: Dwina Agustin/ Red: Nur Aini
Marmut bobak.
Foto: GBIF.org
Marmut bobak.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Rusia mengatakan telah meningkatkan patroli untuk menghentikan orang-orang berburu marmut di dekat perbatasannya dengan China dan Mongolia, Senin (6/7). Keputusan itu dilakukan setelah negara tetangga itu melaporkan kemungkinan kasus wabah pes yang dapat dibawa oleh hewan.

Pihak berwenang di Bayan Nur, sebuah kota di wilayah Mongolia Dalam, mengeluarkan peringatan setelah sebuah rumah sakit melaporkan dugaan kasus penyakit mematikan itu pada akhir pekan. Laporan yang diberikan menyatakan, dua kasus wabah pes terkait dengan orang yang makan daging marmut di provinsi Khovd barat pekan lalu.

Baca Juga

China pun langsung melarang perburuan dan makan tikus besar dan meminta masyarakat untuk melaporkan setiap kasus yang dicurigai, termasuk setiap marmut yang sakit atau mati. Kondisi itu pun diikuti oleh Rusia, dengan peringatan di wilayah Altai yang berbatasan dengan Kazakhstan, China, dan Mongolia.

Kantor berita TASS melaporkan, petugas wilayah Altai mengatakan, para pejabat berpatroli di daerah itu untuk memberlakukan larangan berburu marmut. Mereka juga memperingatkan orang-orang tentang bahaya dari mengonsumsi binatang tersebut.

Cabang lokal Rospotrebnadzor atau pengawas kesehatan konsumen, mengatakan kasus-kasus di seberang perbatasan tidak menimbulkan ancaman bagi orang-orang di Altai. Hanya saja, mereka harus berhati-hati mengambil langkah untuk mencegah penyebaran wabah pes.

Wabah pes atau yang dikenal sebagai Black Death pada Abad Pertengahan adalah penyakit yang sangat menular dan dibawa oleh tikus. Manusia yang terkena penyakit itu sering berakibat fatal seperti kematian.

Pes pernah menyebabkan sekitar 50 juta orang meninggal dunia di seluruh Afrika, Asia dan Eropa pada abad ke-14. Wabah terakhir yang menakutkan terjadi di London tahun 1665, menewaskan sekitar seperlima penduduk kota. Pada abad ke-19 terjadi wabah penyakit di China dan India, yang menewaskan lebih dari 12 juta. 

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement