Thursday, 23 Zulhijjah 1441 / 13 August 2020

Thursday, 23 Zulhijjah 1441 / 13 August 2020

Kemendikbud: Teknologi PJJ akan Diadopsi Secara Permanen

Senin 06 Jul 2020 22:30 WIB

Red: Andri Saubani

Inan, siswi SLTP 6 Sekayu, tetap mengikuti pelajaran dengan sistem pembelajaran jarak jauh ( PJJ).

Inan, siswi SLTP 6 Sekayu, tetap mengikuti pelajaran dengan sistem pembelajaran jarak jauh ( PJJ).

Foto: Diskominfo Kabupaten Muba
Kemendikbud akan memadukan teknologi pembelajaran daring dan luring.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Badan Penelitian, Pengembangan dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Totok Suprayitno mengatakan teknologi pembelajaran jarak jauh (PJJ) permanen diterapkan meskipun pandemi Covid-19 telah berakhir. Kemendikbud akan menggunakan pendekatan hibrid, yakni perpaduan pembelajaran daring dan luring.

"Bahwa permanen atau tidak, adopsi teknologi dipercepat dengan adanya pandemi. Adopsi teknologi tersebut akan permanen, jangan teknologi dipakai hanya pada saat pandemi saja," ujar Totok dalam taklimat media di Jakarta, Senin (6/7).

Totok menjelaskan, laporan dari Unesco menyebutkan bahwa teknologi mempercepat proses pembelajaran. Oleh karena itu, meski pandemi Covid-19 telah berakhir teknologi PJJ tetap digunakan.

"Adopsi teknologi dalam kultur belajar, diatur atau tidak diatur bisa terjadi dengan baik. Untuk menjalankan kultur belajar yang baik, maka area inovasi tidak tergantung pada aturannya," kata Totok.

Dia mengimbau para guru untuk tidak hanya sekedar menuntaskan kurikulum namun harus belajar dengan penuh pendalaman. Dalam pembelajaran guru harus berorientasi pada siswa.

Oleh karenanya, pada awal tahun ajaran baru guru harus melakukan asesmen terhadap siswa. Hal itu bertujuan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswa yang diperoleh saat PJJ.

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud, Iwan Syahril, mengatakan PJJ masih tetap digunakan. Namun tidak seolah-olah dilakukan seperti saat ini.

"Namanya pembelajaran hibrid atau pendekatan campuran antara luring dan daring. Ada yang daringnya 10 persen dan 90 persen lainnya adalah tatap muka atau luring. Itu semua tergantung gurunya," kata Iwan.

Iwan menambahkan bahwa penerapan pembelajaran campuran tersebut tergantung variasi yang diberikan oleh guru dan sekolah. Penggunaan teknologi tetap memiliki komponen PJJ, namun akan lebih banyak pembelajaran tatap muka.

Baca Juga

 

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA