Sunday, 3 Safar 1442 / 20 September 2020

Sunday, 3 Safar 1442 / 20 September 2020

IHSG Tembus ke Level 5.000 di Awal Pekan

Senin 06 Jul 2020 09:34 WIB

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Nidia Zuraya

Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), ilustrasi.

Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), ilustrasi.

Foto: Antara/M Risyal Hidayat
Pada pekan lalu, IHSG juga ditutup menguat sebesar 0,14 persen.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali pekan ini dengan bergerak di zona positif. Indeks saham menguat 0,54 persen dan berhasil menembus ke level 5.000. Pada pekan lalu, IHSG juga ditutup menguat sebesar 0,14 persen.

Direktur Anugerah Mega Investama, Hans Kwee mengatakan pergerakan IHSG mendapat pengaruh dari pergerakan saham global. Indeks Dow Jones, S&P 500  dan Nasdaq  menutup kuartal kedua 2020 dengan kenaikan.

"Kenaikan Wall Street tersebut memecahkan rekor ditengah pandemi Covid-19 yang masih terus naik," kata Hans.

Sentimen lainnya yang mendorong pergerakan pasar saham yaitu perbaikan data tenaga kerja di Amerika Serikat (AS) seiring pelonggaran lockdown yang dilakukan. Namun, di sisi lain pelaku pasar mulai khawatir kenaikan kasus Covid-19 di AS dapat menghapus kenaikan lapangan kerja pada musim panas ini.

Menurut Hans, lonjakan kasus Covid-19 masih akan membayangi pembukaan ekonomi. Hans mengatakan, pelaku pasar perlu memperhatikan pernyataan Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, yang menyebut bahwa pandemi Covid-19 belum mencapai kondisi terburuk.

Beberapa Negara bagian AS melakukan penundaan pembukaan ekonomi akibat kenaikan kasus covid 19 yang meningkat. Hans Melihat hal tersebut dapat menimbulkan kekawatiran gangguan ekonomi. Meski demikian, perkembangan penemuan vaksin akan menjadi sentimen positif bagi pasar.

Pelaku Pasar juga akan memperhatikan potensi perang dagang AS dan China. Hal tersebut menyusul desakan anggota Kongres kepada Presiden Donald Trump untuk mengambil keputusan resmi terhadap China akibat kekejaman yang terjadi atas kaum Muslim Uighur.

"Langkah Trump dan respons pemerintah China akan mempengaruhi pergerakan pasar," terang Hans.

Dari dalam negeri, menurut Hans, pasar Indonesia diwarnai sentimen positif data ekonomi. Namun, Hans melihat, perpanjangan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi masih mengindikasi bawah Indonesia belum mampu memenuhi aturan WHO untuk pelonggaran PSBB seperti di negara lain.

"Masalah kesehatan menjadi kendala utama ekonomi Indonesia," tutur Hans.

Dengan berbagai sentimen tersebut, Hans pun memperkirakan IHSG berpeluang konsolidasi melemah dengan support di level 4885 sampai 4712 dan resistance di level 5000 sampai 5139.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA