Sunday, 15 Rabiul Awwal 1442 / 01 November 2020

Sunday, 15 Rabiul Awwal 1442 / 01 November 2020

Ditekan Banyak Pihak, Erdogan: Hagia Sophia Kedaulatan Turki

Senin 06 Jul 2020 08:41 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Teguh Firmansyah

Presiden Recep Tayyip Erdogan. (Foto file-Anadolu Agency)

Presiden Recep Tayyip Erdogan. (Foto file-Anadolu Agency)

Foto: Anadolu Agency
Erdogan tetap mengusulkan perubahan status Hagia Sophia dari museum ke masjid.

REPUBLIKA.CO.ID, ISTANBUL -- Presiden Recep Tayyip Erdogan mengatakan, kecaman asing atas rencana perubahan status Hagia Sophia dari museum menjadi masjid merupakan serangan terhadap kedaulatan Turki. Berbicara pada upacara peletakan batu petama masjid di Istanbul, Ahad, Erdogan mengatakan, Turki akan selalu melindungi hak-hak Muslim dan minoritas yang tinggal di negara itu.

Erdogan mengatakan, terdapat 435 gereja dan sinagog di Turki yang digunakan bagi umat Kristen dan Yahudi untuk beribadah. Selama bertahun-tahun, Erdogan telah berulang kali menyarankan mengubah situs warisan dunia UNESCO menjadi masjid lagi.

Pengadilan Turki pada Kamis (2/6) lalu memutuskan untuk menunda keputusan mengubah status Hagia Sophia. Dewan Negara Turki akan membuat keputusan dalam 15 hari setelah sidang.

Sebelumnya, pejabat senior Gereja Orotodoks Rusia tidak terima bahwa status Hagia Sophia sebagai museum akan diubah menjadi masjid. Ketua Departemen Hubungan Eksternal Partriarkat Moskow, Metropolitan Hilarion mengatakan, Gereja Ortodoks Rusia tidak memahami alasan pemerintah Turki mengubah Hagia Sophia menjadi masjid.

Hilarion meyakini, rencana perubahan status Hagia Sophia menjadi masjid memiliki latar belakang politik. Dia menyebut, tindakan pemerintah Turki merupakan tindak pelanggaran terhadap kebebasan beragama.

"Kita hidup di dunia multipolar, kita hidup di dunia multi-pengakuan, dan kita perlu menghormati perasaan orang percaya. Kami percaya bahwa dalam kondisi saat ini tindakan ini merupakan pelanggaran terhadap kebebasan beragama yang tidak dapat diterima," ujar Hilarion, dilansir Aljazirah.

Patriark Ekumenis Bartholomew yang berbasis di Istanbul dan pemimpin spiritual sekitar 300 juta orang Kristen Ortodoks di seluruh dunia mengatakan, mengubah Hagia Sophia menjadi masjid akan mengecewakan umat Kristen. Perubahan tersebut juga akan memecah Timur dan Barat.

Hagia Sophia awalnya dibangun sebagai katedral Bizantium pada tahun 537, diubah menjadi masjid setelah penaklukan Ottoman di Istanbul pada 29 Mei 1453. Kemudian Hagia Sophia menjadi museum pada 1935 di bawah kepresidenan Mustafa Kemal Ataturk.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA