Tuesday, 18 Muharram 1444 / 16 August 2022

Khawatir Corona, China Tangguhkan Impor Daging Babi Brasil

Senin 06 Jul 2020 08:27 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Teguh Firmansyah

Ilustrasi virus corona dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat.

Ilustrasi virus corona dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat.

Foto: CDC via AP, File
Brasil negara kedua paling terdampak Corona setelah Amerika Serikat.

REPUBLIKA.CO.ID,  SAOPAULO -- China menangguhkan impor dari dua pabrik pengolahan daging babi Brasil. Berdasarkan badan bea cukai China larangan sementara impor produk JBS SA dan BRF SA. Hal itu disebabkan kekhawatiran mengenai virus Corona.

Pada Senin (6/7) banda bea cukai China, General Administration of Customs China (GACC) mengunggah pengumuman dalam situs resmi mereka. Impor dari pabrik BRF di Lajeado dan pabrik JBS di Tres Passos dihentikan sementara.

Baca Juga

Keduanya berada di selatan negara bagian  Rio Grande do Sul. Unggahan tersebut hanya mengidentifikasi nomor registrasi pabrik dan tidak menyebutkan alasan penangguhan. 

Saat ini Brasil adalah negara kedua yang paling terdampak virus korona setelah Amerika Serikat (AS). Adapun China pembeli terbesar daging babi, sapi dan ayam Brasil. China sudah meminta eksportir daging seluruh dunia untuk mencantumkan sertifikat bebas virus Corona pada produk mereka. BRF, JBS dan pabrik pengolahan daging di Brasil sudah melakukan itu.

Sejak wabah virus Corona menulari ratusan pegawai penjagalan di Brasil, China sudah menangguhkan impor dari enam pabrik di negara Amerika Latin tersebut.

BRF mengatakan tidak diberitahu mengenai larangan impor sementara itu. Hal ini pun baru mereka ketahui melalui situs GACC. Tapi perusahaan tersebut mengatakan sudah bekerja sama dengan pihak berwenang Brasil dan China untuk mengembalikan ekspor seperti semula secepatnya.

Dalam pernyataanya JBS mengatakan mereka tidak akan mengomentari keputusan tersebut. Namun sudah mengambil berbagai langkah untuk memastikan kualitas produk dan melindungi karyawan mereka. 

sumber : Reuters
Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA