Monday, 20 Zulhijjah 1441 / 10 August 2020

Monday, 20 Zulhijjah 1441 / 10 August 2020

Dampak PPDB, SMA Labschool Jakarta Akui Lonjakan Peminat

Ahad 05 Jul 2020 18:20 WIB

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Yudha Manggala P Putra

Panitia Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) memperlihatkan hasil seleksi zonasi. Ilustrasi

Panitia Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) memperlihatkan hasil seleksi zonasi. Ilustrasi

Foto: Edi Yusuf/Republika
Kebijakan PPDB dengan kriteria usia berdampak pada naiknya pendaftar sekolah swasta.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ini di DKI Jakarta menuai kritik karena menggunakan komponen umur sebagai salah satu kriteria. Dampaknya, calon siswa yang tertolak di SMA Negeri menyasar SMA swasta.

SMA Labschool Jakarta mengonfirmasi perihal naiknya jumlah peminat ketika Disdik DKI Jakarta mengumumkan penggunaan sistem umur. Para orang tua siswa diduga kelabakan mencari sekolah setelah anaknya gagal mendapat SMA negeri.

"Di Februari kenaikan enggak begitu drastis di angka 20 persen, tapi karena kebijakan baru menggunakan umur terjadi lonjakan luar biasa. Kalau (disdik) kebijakan lama, harusnya malah ada yang mundur," kata Kepala SMA Labschool Jakarta Suparno Sastro pada Republika.co.id, Ahad (5/7).

Tingginya minat calon siswa tahun ini akibat gagal ke SMA Negeri ternyata tak sebanding dengan kapasitas sekolah.

"Lonjakan peminat terjadi hampir dua kali lipat dari tahun lalu. Ini yang kita belum bisa tampung," tambah Suparno.

Suparno menjelaskan calon siswa wajib menjalani tes sekali sebelum masuk ke SMA Labschool. Kalau pun gagal, mereka bisa masuk kategori daftar tunggu. Mereka dapat mengisi kursi ketika ada calon siswa yang diterima tapi mengundurkan diri.

"Tahun ini belum ada yang mundur. Permintaan murid tinggi baik yang sudah maupun belum ikut tes. Yang diproses adalah yang sudah ikut tes, jadi kami sudah ada nilainya," ujar Suparno.

SMA Labschool Jakarta telah selesai proses penerimaan siswa baru pada februari. Saat ini pihak sekolah hanya membuka peluang untuk menggantikan calon siswa yang mundur. Namun terbatas hanya untuk yang pernah ikut tes di sana.

"Kapasitas penerimaan itu di tiap kelas maksimal 38 siswa. Padahal biasanya 32 siswa saja. Dan daftar waiting list juga sudah 140-an calon siswa, tak bisa kita tampung semua," ucap Suparno.

Diketahui, SMA Labschool Jakarta menyediakan lima kelas MIPA dan tiga kelas IPS. Jumlah kuota penerimaan siswa tahun ini sebanyak 304 orang. Adapun total biaya pendaftarannya 30 juta rupiah.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA