Sunday, 26 Zulhijjah 1441 / 16 August 2020

Sunday, 26 Zulhijjah 1441 / 16 August 2020

Flu Babi tidak Mengarah Pandemi, Kota Beijing Diperlonggar

Sabtu 04 Jul 2020 13:35 WIB

Red: Nidia Zuraya

Flu Babi (Ilustrasi)

Flu Babi (Ilustrasi)

Otoritas kesehatan China menyatakan risiko pandemi flu babi tidak bertambah.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Virus flu babi yang mengandung genotipe 4 (G4) tidak mengarah pada pandemi. Karenanya otoritas Kota Beijing mulai melonggarkan pengamanan terkait kemunculan gelombang kedua Covid-19, seiring dengan makin menurunnya angka kasus baru.

Dari hasil penelitian terbaru Pusat Penanggulangan dan Pencegahan Penyakit Menular China (CCDC) yang dipublikasikan pada Jumat (3/7) terungkap bahwa risiko pandemi flu babi, yang disebabkan oleh virus G4, tidak bertambah.

Menurut CCDC, flu Eurasia seperti flu babi tipe H1N1 yang mengandung virus G4 memang dapat menginfeksi manusia, namun belum cukup kuat menular dari manusia ke manusia.

"Kemungkinan masyarakat umum terinfeksi flu babi sangat rendah, namun yang perlu diperhatikan adalah tetap menjaga kebersihan individu dan lingkungan dalam kehidupan sehari-hari serta menghindari kontak langsung dengan binatang ternak, unggas, dan binatang liar," kata CCDC.

Ada temuan bahwa virus G4 dapat dikaitkan dengan reseptor virus influenza pada manusia melalui saluran pernapasan atas dan dapat menular melalui titik air dari virus melalui batuk atau bersin (droplet) seperti halnya Covid-19.

Sementara itu, warga yang tinggal di wilayah berisiko rendah di Beijing sudah tidak lagi memerlukan hasil negatif tes asam nukleat jika hendak meninggalkan ibu kota setelah gelombang kedua Covid-19 sudah berhasil dikendalikan. Kebijakan itu berlaku mulai hari ini, Sabtu (4/7).

Beijing hanya mendapati dua kasus baru pada Kamis (2/7), atau tinggal satu digit dibandingkan awal gelombang kedua yang mewabah mulai 11 Juni dengan 36 kasus, sehingga sampai saat ini jumlahnya menjadi 331 kasus positif.

Pada 16 Juni, Pemerintah Kota Beijing menaikkan peringatan kewaspadaan dari level III ke level II, setelah munculklaster baru dari Pasar Induk Xinfadi, karena terdapat 100 kasus baru hanya dalam jangka waktu lima hari sejak 11 Juni.

Sehari kemudian, warga yang tinggal di kawasan risiko tinggi dan menengah, termasuk yang pernah mengunjungi Pasar Xinfadi, dilarang meninggalkan Beijing.

Pada saat itu, warga yang tinggal di area berisiko rendah juga harus menunjukkan hasil negatif tes asam nukleat yang berlaku tidak lebih dari tujuh hari, demikian rangkuman dari sejumlah media resmi China.

Baca Juga

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA