Sunday, 14 Rabiul Akhir 1442 / 29 November 2020

Sunday, 14 Rabiul Akhir 1442 / 29 November 2020

Islam

Syair Sunur: Rindu-Dendam Seorang Ulama Minangkabau Abad 19

Sabtu 04 Jul 2020 10:14 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Kaum perempuan dan anak-anak di Minangkabau tahun 1880.

Kaum perempuan dan anak-anak di Minangkabau tahun 1880.

Foto: gahetna.nl
Syair Sunur: Tentng duka dan Rindu-Dendam Seorang Ulama Melayu -Minangkabau Abad 19

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: DR Suryadi, Dosen dan Peneliti di Department of South and Southeast Asian Studies, Leiden University, the Netherlands*

Syair Sunur (SSn) adalah sebuah naskah Melayu-Minangkabau klasik yang belum banyak dikenal oleh filolog Indonesia, khususnya yang berasal dari Sumatra Barat. Ini misalnya dapat dikesan dari pembicaraan Hasanuddin WS tentang filologi Minangkabau dalam buletin kebudayaan Suratkabar (Edisi 03/April 2002:12-13), yang tidak menyebut SSn dalam daftar judul-judul naskah Minang yang disenaraikannya. Leni Nora dari Fakultas Sastra Universitas Andalas pernah membicarakan SSn berdasarkan satu fotokopi salinan tercetaknya yang tersimpan di Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM) Padang Panjang (lihat Leni Nora: SyairSunur: Transliterasi dan Tinjauan Isi [Skripsi Fak. Sastra Universitas Andalas, 2000).

Kajian yang cukup komprehensif mengenai SSn sudah saya lakukan untuk meraih gelar MA di Universitas Leiden (2002). Penelitian itu menelusuri salinan-salainan SSn yang masih ada sampai sekarang (manuskrip/tulisan tangan maupun tercetak), konteks sosial, dan pengarangnya. Tesis itu telah terbit dalam bentuk buku, berjudul: Syair Sunur: Teks dan Konteks Otobiografi Seorang Ulama Minangkabau Abad ke-19 (Padang: YDIKM & Yayasan Citra Budaya, 2004; lihat: http://www.ranah-minang.com). Khusus mengenai pengarang SSn, sudah saya bahas dalam sebuah paper berjudul Shaikh Daud of Sunur: Conflict between Reformists and The Shattriyyah Sf Order in Rantau Pariaman in the First Half of the Nineteenth Century, Jurnal Studia Islamika, Vol. 8, No. 3 (2001):57-124.

SSn dikarang oleh Syekh Daud, seorang ulama yang berasal dari Sunur, sebuah desa pantai yang terletak antara Ulakan dan Pariaman, Sumatra Barat. Beliau lahir di Koto Gadis (satu dari 15 jorong dalam nagari Sunur) kira-kira antara tahun 1785 dan 1790 dan wafat di Singkil, pantai barat Aceh, sekitar tahun 1855. Kenapa dia mengarang SSn? Kita dapat mengetahuinya berkat informasi dari seorang indo asal Padang yang bernama Arnold Snackey (ca.1850-1896) yang di akhir abad ke-19 menulis satu buku kecil mengenai SSn berjudul: Sair Soenoer, Ditoeroenkan dari ABC Melajoe-Arab (Betawi: Albrecht & Co.,1888). Bedasarkan informasi Snackey yang diperkaya dengan sumber-sumber eksternal, maka saya dapat merekonstruksi kisah hidup Syekh Daud sebagai berikut.

Syair Sunur_Bataviaasch Nieuwsblaad 05-05-1871

Di tahun-tahun awal gerakan Paderi di Padangsche Bovenlanden (dicetuskan tahun 1803), seorang santri dari pantai barat, Daud anak Syekh Badaruddin dari Sunur pergi belajar agama ke sebuah surau terkenal di darek, kemungkinan ke Cangking. Agak aneh bahwa sang ayah tidak menyekolahkan anaknya ke Ulakan yang dekat dengan kampungnya. Mungkin otak Syekh Badaruddin, sang ayah, punya bibit pikiran reformis.

Di awal tahun 1830-an Daud muda sudah khatam Quran dan tamat kaji. Ia yang sudah mendapat pencerahan pikiran dan terpengaruh oleh ide kaum Paderi kembali ke kampungnya di Sunur yang waktu itu masih kuat diselimuti oleh tradisi tarekat Syattariyah Ulakan yang ortodoks. Ulama muda yang bersemangat itu langsung mengadakan pembaruan dan pemurnian agama di kampungnya, memberantas bidah dan sinkretisme yang selama ini dipraktekkan oleh Agama Ulakan.

Dengan kata lain: Daud ingin mengembangkan ajaran Paderi (paham Wahabi) di Sunur. Ia segera mendapat pengikut dan kini bergelar syekh. Tapi tak sedikit pula yang menentangnya.

Tindakan Syekh Daud itu tentu saja ibarat kambing yang berlagak jago di sarang macan. Kaum adat di kampungnya, khususnya para datuk (yang waktu itu suka berbini banyak) merasa terancam oleh aktivitas Syekh Daud. Demikian juga halnya kaum ulama ortodoks yang berkiblat ke Ulakan. Salah seorang yang menentang dengan keras ide dan aktivitas Syekh Daud di Sunur adalah Tuanku Syekh Lubuk Ipuh, seorang ulama kharismatik dari desa tetangganya, Lubuk Ipuh (sekarang masuk wilayah Kurai Taji). Ulama ini adalah seorang pendukung fanatik Ordo Ulakan (sampai sekarang penduduk Lubuk Ipuh di bawah pimpinan Ungku Kali, keturunan Tuanku Syekh Lubuk Ipuh, masih tetap berkiblat ke Ulakan dan dikenal sebagai orang puasa kemudian).

Keduanya lalu berdebat di depan publik di Sunur, yang menurut Snackey terjadi sebelum tahun 1838. Syekh Daud kalah dalam perdebatan itu. Ternyata Tuanku Lubuk Ipuh lebih tinggi ilmunya. Syekh Daud malu hati, tak tahan tinggal di kampungnya, dan akhirnya melarikan diri ke Mekah untuk memperdalam ilmu. Ia tinggal beberapa tahun di Mekah dan disana Syekh Daud menulis satu syair yang berjudul 'Syair Rukun Haji' (SRH) yang menggambarkan prosesi ibadah haji, pemandangan di kota Mekah dan Madinah, dan gerakan pembaruan Islam yang sedang terjadi di Semenanjung Arabia.

Tidak lama kemudian naskah SRH sampai ke pantai barat Sumatra, mungkin dibawa oleh jemaah haji Melayu/Minangkabau yang pulang dari Mekah. Nama Syekh Daud jadi harum karenanya. Merasa sudah terkenal ia kembali ke Pariaman. Tapi rupanya di Sunur Tuanku Lubuk Ipuh masih berkuasa dan malah, hebatnya, berhasil mengawini Umi Salamah, anak perempuan tunggal sibiran tulang Syekh Daud.

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA