Monday, 30 Sya'ban 1442 / 12 April 2021

Monday, 30 Sya'ban 1442 / 12 April 2021

Zee Zee Biasa ke Museum Dulu, Baru Baca Buku Sejarah

Jumat 03 Jul 2020 20:09 WIB

Rep: Farah Noersativa/ Red: Reiny Dwinanda

Artis Zee Zee Shahab mengaku terpantik untuk belajar sejarah setelah menyambangi museum

Artis Zee Zee Shahab mengaku terpantik untuk belajar sejarah setelah menyambangi museum

Foto: Republika/Mahmud Muhyidin
Zee Zee Shahab termudahkan belajar sejarah lewat konten yang tersebar di internet.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Figur publik Zee Zee Shahab mengaku sangat menggemari sejarah. Dia pun berbagi tip tentang cara mudah untuk belajar sejarah agar tak membosankan.

Menurut Zee Zee, salah satu cara mudah belajar sejarah adalah dengan mendatangi museum terlebih dahulu. "Kalau aku, jujur datang ke museum dulu, baru baca buku sejarah," ujar Zee Zee dalam program "Ngobs" live Instagram bersama Komunitas Historia Indonesia (KHI), Kamis (2/7) malam.

Pada saat mendatangi museum, Zee Zee merasa bisa melihat fisik, baik peninggalan benda bersejarah atau dokumentasi mengenai sebuah peristiwa sejarah. Baru setelahnya, dia ingin tahu kelanjutan cerita sejarahnya.

Zee Zee mengatakan, saat ini informasi dan pengetahuan bisa didapatkan dari berbagai kanal. Menurutnya, fasilitas yang tak terbatas itu bisa menjadi salah satu cara untuk belajar sejarah dengan mudah.

"Apalagi sekarang sudah ada Google juga, jadi bisa membantu sebelum baca buku. Tinggal search saja. Browsing aja, semuanya keluar," jelas dia.

Selain itu, Zee Zee juga terbantu dengan banyaknya orang yang membuat konten-konten menarik mengenai sejarah, termasuk di Youtube. Cerita sejarah pun sering dijumpai dengan kemasan animasi yang juga bisa dicari di berbagai kanal.

"Jadi sebenarnya cara belajar sejarah itu sangat banyak fasilitasnya," jelas dia.

Mendengar hal itu, pendiri KHI Asep Kambali mengatakan, para pengelola museum bisa lebih kreatif dalam mengelola museum. Terlebih, masih ada orang seperti Zee Zee yang merasa masih kurang puas dengan informasi yang ada ketika selesai mengunjungi museum. Selain itu, para pengelola museum juga dinilai harus kreatif agar pengunjung tetap ingin berkunjung lagi ke museum.

"Memang yang jadi berat itu pengunjung yang datang kembali. Kalau di Indonesia, pengalaman datang ke museum itu kebanyakan pada saat menjadi pelajar. Pada saat sudah punya anak, baru datang lagi," jelas dia.

Artinya, menurut Asep, itu memang menjadi tugas berat antara pengelola museum dan komunitas. Agar mereka dapat membuat museum menarik untuk masyarakat dan dapat meningkatkan kemauan belajar sejarah.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA