Tuesday, 21 Zulhijjah 1441 / 11 August 2020

Tuesday, 21 Zulhijjah 1441 / 11 August 2020

Anak Punya Kekasih Beda Agama, Orang Tua Harus Apa?

Sabtu 04 Jul 2020 05:05 WIB

Rep: Ratna Ajeng Tejomukti/ Red: Ani Nursalikah

Anak Punya Kekasih Beda Agama, Orang Tua Harus Apa?

Anak Punya Kekasih Beda Agama, Orang Tua Harus Apa?

Foto: Pxhere
Orang tua harus bisa membangun kepercayaan anak agar terbuka ruang komunikasi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Seorang ibu menemukan foto dalam ponsel putrinya yang kini menginjak usia 16 tahun. Dia terlihat bersama seorang pria dengan segelas bir.

Baca Juga

Pria itu sepertinya bukan Muslim, namun dia adalah teman sekelas putrinya. Sejak mengetahui ini, dia terkejut dan bimbang bagaimana harus bersikap.

Dia merasa telah membesarkan anaknya dengan akhlak yang baik. Hingga saat ini dia belum membahas masalah ini bersama anaknya.

Aisha Mohammad seorang psikolog asal New York memberikan beberapa saran cara menghadapi remaja putri. Sebenarnya sedari awal dengan mengetahui hal tersebut dari foto saja telah menjadi hal yang disesalkan. Karena sejak awal anak tidak memberitahukan kepada orang tuanya.

Namun rasa terkejut pasti ada apalagi dia berfoto dengan seorang laki-laki. "Saya yakin Anda membesarkannya di rumah secara Islami dan saya yakin Anda mengajari dia perilaku dan moral yang baik. Namun, seperti yang Anda tahu, usia 16 tahun adalah waktu yang sangat sulit dalam hal mengelola emosi dan reaksi," ujar dia dalam About Islam.

Pada usia ini juga merupakan saat di mana dorongan seksual tinggi, ada keinginan untuk disukai oleh lawan jenis, serta mencoba menyesuaikan dengan komunitas temannya. Ketika orang tua telah mengajari moral yang baik, seharusnya juga mengajari mengenai cara menghindari jatuh ke dalam perbuatan haram. Orang tua harus mengajarkan bagaimana anak bisa terbuka berbicara tentang apa pun.

Keterampilan menghadapi godaan yang salah juga penting. Terkadang dalam upaya menjaga anak-anak kita di jalan yang benar, kita sering membangun tembok dengan kata-kata "jangan lakukan ini atau yang lain" alih-alih mengatakan kalimat yang menjembatani seperti "Jika Anda ingin berbicara, saya ada di sini untuk Anda".

Sebagian besar orang tua melakukan ini pada satu waktu. Orang tua sering lupa komunikasi yang terbuka, aman dan penuh kasih dengan anak-anak remaja akan jauh lebih baik daripada mengatakan mana yang harus dan tidak boleh dilakukan.

Kembali dengan kasus remaja putri tadi, sebaiknya orang tua tidak berasumsi. Bisa saja foto tersebut bukan seperti apa yang dibayangkan orang tuanya. Bisa jadi dia bukan pacarnya, tetapi hanya anak laki-laki di sekolah yang dia kenal.

Dia bisa jadi seorang Muslim yang belum memiliki akhlak sesuai tuntunan Islam. Dengan tidak berasumsi, orang tua tidak akan memiliki keraguan untuk memulai pembicaraan. Namun, jika tuduhan telah diajukan diawal maka akan semakin sulit berkomunikasi dengan anak tersebut.

Usahakan bersikap santai dan hanya membahas masalah ini berdua saja. Bisa mengajaknya makan malam atau makan siang atau sekadar menikmati secangkir teh.

"Walaupun ini mungkin sulit karena emosinya sedang meninggi karena Anda baru saja melihat fotonya, idenya adalah membuatnya percaya kepada Anda, membuka diri, dan memandang Anda bukan hanya ibunya tetapi sebagai sahabatnya," kata Aisha.

Ketika membesarkan anak berusia 16 tahun tentu seorang ibu memiliki hubungan dengan level yang berbeda. Orang tua dapat memberitahu anaknya pengalaman hidup mereka saat seusianya. Terutama terkait kegagalan dan keberhasilan termasuk menyikapi rasa suka terhadap lawan jenis dan menanggapi mereka.

Ceritakan juga mengenai hubungan ibu dengan neneknya baik itu pengalaman yang dapat ditiru atau tidak. Seorang ibu dapat meminta umpan balik dari kisah remajanya dahulu. Tujuannya adalah membangun kepercayaan antara anak dan orang tua dan membuka ruang komunikasi.

Menurut Islam, pada saat anak Anda berusia sekitar 14 tahun, peran Anda dalam kehidupan anak masih menjadi mentor, pendidik, dan sekarang seorang teman. Mendengarkan perspektifnya dan mengurangi otoritas dalam berbicara dan bertindak diperlukan untuk membangun jembatan cinta selama masa remaja yang penuh gejolak ini.

Insya Allah, ia pada akhirnya akan merespons upaya seorang ibu dengan mengungkapkan kekhawatiran dan kebutuhan serta mencari nasihat kepada orang tuanya. "Saya juga menyarankan agar mengingatkan putri Anda bahwa Anda mencintainya dan percaya dia akan membuat keputusan yang baik dan meyakinkannya Anda ada di sana sebagai teman untuk berbicara tentang apa saja dan Anda menghargai dia sebagai putri dan sebagai wanita muda," kata dia.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA