Saturday, 18 Zulhijjah 1441 / 08 August 2020

Saturday, 18 Zulhijjah 1441 / 08 August 2020

Mengenali Hadits Dhaif Lewat Teknik Mirip Jurnalistik

Jumat 03 Jul 2020 13:50 WIB

Rep: Imas Damayanti/ Red: A.Syalaby Ichsan

Koleksi Pusat Kajian Hadis Jakarta

Koleksi Pusat Kajian Hadis Jakarta

Foto: ROL/ Damanhuri Zuhri
Banyak orang yang tidak bisa membedakan antara dhaif dengan hadis palsu

REPUBLIKA.CO.ID, Hadis dhaif (lemah) bukan berarti hadis palsu. Untuk mengenalinya lebih jauh apa itu hadis dhaif, terdapat kaidah yang mirip dengan kaidah teknis jurnalistik yaitu pertanyaan mengenai apa (what), siapa (who), di mana (where), kapan (when), dan mengapa (why).

Dalam buku 'Jika Dhaif Suatu Hadits, Lantas Apa?' karya Hanif Luthfi dijelaskan, ketika ingin mengupas lebih jauh apa itu hadis dhaif memang diperlukan mengenali teknik ini. Pertanyaan seputar hadis akan meliputi what, yakni pertanyaan pertama yang diajukan ketika kita bertanya apa itu hadis dhaif.

Menurut dia, banyak orang yang tidak bisa membedakan antara dhaif dengan hadis palsu (maudhu). Padahal hadis dhaif itu sangat beragam modelnya. Karena itu, pertanyaan mengenai apa itu hadis dhaif pun perlu digali lebih jauh.

Kemudian who, yakni pertanyaan tentang siapa yang men-dhaifkan hadisnya. Hadis dhaif itu merupakan hasil ijtihad ulama, di mana pastinya kita harus mengetahui dulu siapa ulama yang menilai hadis tersebut lemah, bagaimana posisi ulama itu dalam ranah ilmu hadis, serta bagaimana kebiasaan ulama itu. Kita mesti mencari dari siapa hadis tersebut, di mana dan di kitab apa ulama tersebut men-dhaifkan hadis.

Kemudian ada where, yakni di mana ulama tersebut men-dhaifkan suatu hadis. Pertanyaan di mana ini sangat penting, karena dari situ kita akan tahu alasan kenapa beliau mend-dhaifkan suatu hadis.Belum lagi ada beberapa ulama yang kadang berbeda pendapat dalam menilai suatu hadis. Misalnya di kitab A beliau mengatakan dhaif, di kitab B beliau mengatakan shahih.

Kemudian ada when, yakni kapan ulama yang men-dhaifkan suatu hadis itu hidup. Apakah ulama tersebut termasuk dari ulama salaf atau khalaf. Termasuk juga kapan hadis itu dianggap dhaif.Karena kadang terdapat juga ulama yang di satu waktu mengatakan hadis A dhaif, di waktu yang lain dia sendiri bilang hadis A shahih.

Faktor lainnya adalah why, yakni alasan kenapa hadis itu dhaif.Jadi ketika dikatakan bahwa hadisnya dhaif, maka tinggal ditanyakan atau dicari tahu saja alasan mengapa hadis tersebut dhaif. Pertanyaan itu penting bagi orang ingin ber-taklid namun hendak ber-ittiba’. 

Termasuk dalam bab ijtihad penetapan dhaif tidaknya suatu hadis. Maka itu kita perlu tahu siapa yang men-dhaifkan dan di mana di-dhaifkan agar kita juga bisa mengetahui alasannya mengapa hadis tersebut dianggap dhaif. Sebab, alasan mengapa hadis dhaif itu sangatlah beragam.

Catatan untuk para pendakwah

Tak sedikit pendakwah yang mengutip hadis dhaif dalam dakwahnya. Jika ditawarkan hendak memilih hadis yang shahih atau yang dhaif, tentu saja kita sebagai Muslim menginginkan hadis yang shahih. Sebab hadis shahih merupakan salah satu modal dalam penetapan suatu hukum Islam.

Semangat memurnikan ajaran Islam tentu sangatlah baik, terlebih ketika umat Islam sudah begitu jauh dari zaman kenabian. Namun terkadang semangat tersebut tidak dibarengi dengan keilmuan yang mumpuni. 

Misalnya, saat ini tak sedikit dari jamaah suatu majelis yang lebih kritis dalam mendengarkan dakwah. Mereka terkadang kerap bertanya ketika seorang pendakwah melafalkan suatu hadis dengan berkata: “Bukankah itu hadisnya dhaif?”.

Meski harusnya gembira dengan pertanyaan tersebut sebab umat Islam sudah tidak lagi taklid tapi sudah berusaha untuk menjadi mutta’i', sayangnya ada beberapa hal penting yang kurang dipahami terkait hadis dhaif tersebut. Seolah terdapat kesan jika suatu hadis sudah dhaif, maka hadis tersebut langsung dibuang saja.

Padahal, proses sampai menjadi penilaian hadis menjadi shahih ataupun dhaif itu tidaklah sederhana. Penetapan hadis menjadi dhaif dan tidak juga bukan hal yang selalu disepakati ulama. Hadis shahih atau dhaif bukanlah konsumsi dari orang awam yang bersifat end user.

Melainkan, penetapan penilaian hadis shahih dan dhaif merupakan suatu hasil dari sebuah usaha ijtihad. Produk ijtihad bisa jadi benar dan mungkin saja salah. Namun karena sifatnya ijtihadi, maka bisa jadi hasil ijtihad seorang mujtahid itu berbeda dengan hasil ijtihad mujtahid yang lain. Itulah mengapa banyak kita temui mengenai perbedaan pendapat dalam menentukan shahih dan dhaif suatu hadis.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA