Friday, 24 Zulhijjah 1441 / 14 August 2020

Friday, 24 Zulhijjah 1441 / 14 August 2020

PTPN XI: Realisasi Tebu yang Digiling 646 Ribu Ton

Kamis 02 Jul 2020 20:56 WIB

Red: Nidia Zuraya

Proses produksi gula dalam pabrik (ilustrasi)

Proses produksi gula dalam pabrik (ilustrasi)

Foto: fxcuisine.com
Tahun ini PTPN XI menargetkan total produksi gula sebesar 346 ribu ton.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Direktur PTPN XI, Dwi Satriyo Annurogo mengatakan pelaksanaan giling tahun 2020 yang dimulai awal Juni 2020, hingga kini sudah terealisasi sebesar 646 ribu ton. Jumlah tersebut 15 persen dari target total bahan baku tebu sebanyak 4,2 juta ton, dan target produksi gula sebesar 346 ribu ton.

Dalam keterangan persnya di Surabaya, Kamis (2/7), Dwi mengatakan total kapasitas terpasang (KES) pabrik gula milik PTPN XI adalah 42.137 TCD (ton cane day), dengan luas lahan sendiri 10.591 hektare dan 45.247 hektare lahan milik petani.

"Sedangkan untuk jumlah petani tebu mitra, saat ini sekitar seribu lima ratusan petani tersebar di wilayah kerja PTPN XI," kata Dwi, kepada wartawan.

Ia mengakui, mulai Juni 2020 sudah banyak Pabrik Gula (PG) yang melaksanakan giling dan gula produksi tahun 2020 telah dilakukan beberapa kali pelelangan dengan harga pada lelang terakhir pada kisaran Rp10.500 per kilogramnya.

Namun, Dwi menyayangkan adanya kompetisi dalam perolehan Bahan Baku Tebu (BBT) antarpelaku industri gula, sebab pola kemitraan dan pembinaan yang selama ini terjalin antarpabrik gula dengan petani, sudah berubah mengarah kepada transaksional.

"Tebu ditebang dan dikirim ke pabrik gula yang berani membayar tinggi lebih tinggi, tanpa memperhitungkan tingkat kemasakan, area binaan serta jarak lahan tebang ke pabrik gula tujuan," tuturnya.

Hal tersebut, kata dia, menjadikan kondisi kurang optimal, mengingat tebang belum pada waktunya, jarak tempuh untuk transportasi tebu dari lahan tebang ke pabrik gula terlalu jauh, sehingga menyebabkan turunnya kualitas tebu saat digiling, dan pada akhirnya menurunkan produktivitas perolehan produk gula kristal putih.

Ia mengatakan, faktor utama dari kekurangan bahan baku yang berujung pada kompetisi harga tebu tersebut, adalah berkurangnya bahan baku tebu karena alih fungsi lahan tebu.

"Juga perlu disadari produktivitas lahan tebu yang ada saat ini cenderung menurun. Oleh karena itu perlu menjadi perhatian bersama, konsep tata ruang lahan pertanian, perbaikan budi daya sesuai baku teknis, serta perlu ditingkatkannya efisiensi pabrik gula yang akan membangkitkan minat petani untuk menanam tebu," katanya.


Baca Juga

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA