Saturday, 18 Zulhijjah 1441 / 08 August 2020

Saturday, 18 Zulhijjah 1441 / 08 August 2020

Kelestarian Alam dan Stigma dalam Gejolak Covid-19

Kamis 02 Jul 2020 20:52 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Agus Yulianto

Kerusakan hutan (ilustrasi)

Kerusakan hutan (ilustrasi)

Foto: Antara
Salah satu dampak dari kerusakan alam adalah timbulnya penyakit-penyakit baru. 

REPUBLIKA.CO.ID, Alam yang terjaga kelestariannya dapat menjadi tempat bernaung bagi berbagai makhluk hidup. Ketika alam dieksploitasi dan dirusak oleh manusia, semua makhluk hidup yang ada di dalamnya bisa ikut terdampak, termasuk manusia itu sendiri.

Salah satu dampak yang mungkin timbul dari kerusakan alam adalah timbulnya penyakit-penyakit baru. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mengungkapkan, bahwa tiga dari empat penyakit infeksi yang baru muncul berasal dari binatang. Beberapa di antarnaya adalah SARS, MERS, Ebola, flu burung hingga flu babi.

"Banyak orang tidak begitu sadar bahwa penyakit ini tiba di dunia karena kita tidak hidup seimbang dengan alam," ungkap Founder Alam Sehat Lestari (ASRI) dr Kinari Webb dalam webinar Covid-19: Kita dan Alam yang diselenggarakan oleh Yayasan ASRI.

Ketika alam dirusak, hewan-hewan yang ada di dalamnya bisa ikut terdampak. Hewan-hewan ini kemudian dibawa keluar hutan oleh manusia untuk dikonsumsi atau dijual kembali. Sebagian hewan ini dijual dalam kondisi hidup di pasar-pasar basah dan satwa liar bersama dengan hewan-hewan liar lainnya.

Situasi di pasar basah dan satwa liar yang tak kondusif dapat membuat hewan-hewan menjadi stres. Stres bisa berdampak pada kondisi kesehatan hewan tersebut. Ketika kondisi tubuh tak lagi prima, virus-virus yang mungkin ada di dalam tubuh hewan tersebut mulai muncul. Virus ini lalu bisa keluar melalui kotoran hewan atau ketika hewan tersebut dibunuh.

Kinari mengatakan, virus bisa saja menular antarhewan, atau menular dari hewan ke manusia. Ketika sudah menular ke manusia, virus ini bisa menyebar ke seluruh dunia.

"Begitu manusia mulai merusak (alam) dan mengambil binatang keluar (dari) hutan dan memakannya, kadang-kadang itu bisa menjadi masalah," tambah Kinari.

photo
Kelelawar buah yang terinfeksi menjadi salah satu penyebab penyebaran virus Nipah. - (EPA)

Hal ini pula yang mungkin terjadi pada Covid-19. Kinari mengatakan, virus penyebab Covid-19, yaitu SARS-CoV-2, memiliki kemiripan nukleutida sebesar 96 persen dengan virus corona pada kelelawar dan kemiripan 91 persen dengan virus corona pada trenggiling. Hewan liar ini dijual di pasar basah dan satwa liar Huanan, yang dicurigai menjadi tempat pertama munculnya Covid-19.

"Kalau kita merusak alam, penyakit seperti ini bisa datang dari alam dan datang ke manusia," tutur Kinari.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Senior Public Health Adviser ASRI drg Monica R Nirmala. Monica mengatakan, kehidupan manusia yang tidak seimbang dengan alam dapat berakibat buruk pada keselamatan manusia itu sendiri.

"Kenyataan ini sebetulnya tidak unik hanya pada Covid-19 atau (penyakit) zoonosis saja," kata Monica.

photo
Klinik Asri telah melayani 72 ribu pasien. - (priyantono oemar/republika)

Moica mengatakan, orang dahulu memiliki kepercayaan bahwa setiap kali hutan "dibabat" akan ada penyakit yang muncul seperti tulah. Kepercayaan ini mungkin tidak sepenuhnya salah. Studi pada 2017 mengungkapkan, bahwa 1 persen penurunan tutupan hutan meningkatkan 10 persen insiden malaria.

Studi pada 2018 juga mengungkapkan, adanya kerusakan hutan dengan risiko kematian pada anak. Berdasarkan studi ini, Bayi pertama dari ibu yang mengalami kerusakan hutan pada masa kehamilannya, memiliki risiko kematian akibat malaria yang lebih tinggi dibandingkan anak-anak berikutnya.

Masyarakat yang hidup diperkotaan juga tak lepas dari dampak lingkungan terhadap kesehatan. Seperti diketahui, Indonesia merupakan penghasil polusi plastik terbesar kedua di dunia.

Kondisi ini berimbas pada ditemukannya mikroplastik di mana-mana. Bahkan, mikroplastik juga ditemukan di air minum dan udara. Akumulasi mikroplastik di dalam tubuh manusia diketahui dapat memberi dampak buruk bagi kesehatan.

"Bicara mengenai wabah, jangan pikir wabah itu jauh dari jarak kilometernya. Di mana pun wabah terjadi, jaraknya hanya satu penerbangan dari tempat kita berada," tukas Monica.

Ketika manusia mulai menghargai dan melindungi alam, alam juga bisa membawa dampak yang besar bagi kesejahteraan hidup manusia. Praktik ini pula yang diterapkan di klinik ASRI yang terletak di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat.

Seperti diketahui, 80 persen pasien Covid-19 tidak bergejala atau hanya mengalami gejala ringan. Pasien-pasien ini umumnya tidak membutuhkan perawatan di rumah sakit. Akan tetapi, terkadang mereka tak bisa menjalani isolasi di rumah sendiri karena berbagai hal.

"Contohnya, isolasi tidak bisa dilaksanakan karena stigma dari masyarakat, kekurang tahuan masyarakat sehingag menjadi sangat takut (menerima pasien Covid-19)," ungkap Direktur Eksekutif ASRI Nur Febriani.

Oleh karena itu, klinik ASRI menyediakan fasilitas isolasi untuk pasien-pasien Covid-19 bergejala ringan yang tak membutuhkan perawatan di rumah sakit. Pasien 01 dan 02 di Kabupaten Kayong Utara juga menjalani masa-masa isolasi mereka di sini.

Pasien 01 menjalani isolasi mandiri dengan total waktu 90 hari setelah pulang dari perjalanan ke luar negeri. Sebagian masa isolasi pasien 01 dijalani di rumah sakit dan sisanya dijalani di Klinik ASRI.

Tentu bukan hal mudah bagi seorang pasien Covid-19 untuk menjalani masa isolasi yang begitu panjang. Terlebih, manusia merupakan makhluk sosial yang membutuhkan interaksi dan juga aktivitas.

Sebagai solusinya, fasilitas layanan isolasi di Klinik ASRI memberikan pendekatan yang sedikit berbeda dengan pasien tanpa mengabaikan protokol kesehatan. Pasien yang menjalani isolasi di Klinik ASRI diperbolehkan untuk berkegiatan seperti melakukan pembibitan di kebun organik yang ada di belakang fasilitas isolasi.

Di sana juga terdapat hutan yang bisa dikunjungi oleh pasien. Pasien bisa sedikit berjalan-jalan sambil berjemur, merasakan angin hinga melihat pepohonan. Febriani mengatakan hal ini aman dilakukan karena tidak ada akses bagi masyarakat umum untuk bisa memasuki hutan tersebut.

Selain itu, Klinik ASRI juga memastikan bahwa jaringan WiFi sampai ke fasilitas isolasi. Dengan begitu, pasien bisa menjalani hari-harinya dengan produktif seperti mengikuti meeting secara daring.

"Kita perlu layanan fasilitas isolasi yang emmanusiakan manusia, yang ada keleluasaan sedikit," ujar Febriani.

Tentu, pasien dan seluruh petugas di lingkungan Klinik ASRI telah mendapatkan edukasi yang baik mengenai protokol kesehatan yang harus dilakukan. Oleh karena itu, tak ada satu pun orang di lingkungan Klinik ASRI yang tertular Covid-19 dari pasien.

"Ada penelitian, kalau orang bisa melihat alam, mereka bisa merasa lebih tenang dan cepat lebih sehat," tambah Kinari.

Melawan Stigma

Tak dipungkiri bila sebagian masyarakat masih memiliki stigma yang negatif terhadap Covid-19. Tak hanya kepada pasien, stigma ini juga tak jarang dilekatkan pada staf-staf di fasilitas isolasi hingga tenaga kesehatan yang menangani kasus Covid-19.

Stigma umumnya timbul karena pemahaman yang kurang baik. Oleh karena itu, Klinik ASRI melakukan beragam bentuk edukasi untuk memberikan pengetahuan yang lebih baik kepada masyarakat sekitar mengenai Covid-19. Melalui edukasi-edukasi ini, diharapkan masyarakat bisa merasa waspada tanpa harus memiliki ketakutan yang berlebihan terhadap Covid-19.

"Sehingga teman-teman bisa waspada, tapi tidak takut berlebihan. Waspada, bukan ketakutan," ungkap Febriani. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA