Wednesday, 15 Zulhijjah 1441 / 05 August 2020

Wednesday, 15 Zulhijjah 1441 / 05 August 2020

Gedung Teater Inggris Kembali Dibuka

Kamis 02 Jul 2020 15:24 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Qommarria Rostanti

Gedung kesenian (ilustrai).

Gedung kesenian (ilustrai).

Foto: www.freepik.com
Teater dirancang ulang seperti bioskop untuk pemutaran film.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Gedung kesenian dan teater Inggris akan kembali dibuka mulai 4 Juli 2020, menyusul pelonggaran aturan oleh pemerintah. Guna mencegah penyebaran pandemi, tempat berkesenian itu hanya boleh dipergunakan untuk kegiatan terbatas.

Pedoman pemerintah setempat menyatakan, gedung teater belum diperbolehkan menampilkan pertunjukan langsung. Alih-alih menyimak aksi para pemeran watak di panggung, warga bisa menikmati berbagai hiburan lain di gedung teater dan kesenian.

Direktur Artistik Gedung Teater Storyhouse di Chester, Alex Clifton, menyambut kembali kedatangan pengunjung akhir pekan ini. Teater dirancang ulang seperti bioskop untuk pemutaran film, dengan tempat duduk yang diatur berjauhan sesuai aturan.

Perpustakaan dan restoran di gedung teater juga akan buka. Menurut Clifton, sebenarnya tetap menutup gedung teater lebih menghemat biaya operasional. Akan tetapi, sudah menjadi tugas gedung teaternya untuk tersedia bagi masyarakat.

Menurut dia, orang-orang sangat membutuhkan kontak satu sama lain, kembali ke ruang komunitas, di mana mereka merasa aman dan terhubung. "Menampilkan pertunjukan bukan misi kami, tapi melayani adalah misi kami," ujar Clifton, dilansir di the Guardian, Rabu (1/7).

Selama lockdown, aktivitas Storyhouse tetap berlangsung secara daring. Ada proyek khusus generasi muda, grup pertemanan, dan jaringan dukungan lain. Setelah gedung teater tutup pertengahan Maret, kafe tetap buka selama 10 hari untuk dapur umum.

Gedung teater lain di Manchester, Home, juga akan kembali dibuka untuk pemutaran film, bar, dan restoran, pada 4 September 2020. Galeri untuk pameran dan area teater akan dioperasikan kemudian setelah pemerintah sudah memberikan persetujuan.

Sebagai persiapan, tim manajemen Home merancang agar ruang pertunjukan utama berkapasitas 500 kursi bisa menerapkan aturan jarak fisik. Caranya, dengan mengurangi kapasitas hingga tiga per empat dan merencanakan penjualan tiket tanpa kontak.

Tempat penjualan tiket juga akan dipasangkan layar pelindung. "Kami memiliki tanggung jawab untuk segera membuka fasilitas sebanyak yang kami bisa, untuk membawa kehidupan kembali ke kota ini," kata CEO dan Direktur Home, Dave Moutrey.

Kegiatan terbatas juga segera diselenggarakan di Gedung Teater ARC di Kota Stockton-on-Tees. ARC berencana kembali mengadakan berbagai kelas, program, lokakarya, kegiatan pembelajaran kreatif, serta pameran.

Direktur Artistik ARC, Annabel Turpin, mengatakan tutupnya gedung seni itu berdampak besar terhadap komunitas. Perusahaan teater difabel, Full Circle, dan sejumlah organisasi maupun individu profesional mendesak teater kembali buka.

"Banyak seniman menggunakan gedung kami untuk membuat berbagai karyanya," kata Turpin. ARC berencana menggunakan cadangan keuangannya untuk buka pada September.

Direktur Artistik Teater Derby, Sarah Brigham, setuju bahwa seni dapat memainkan peran penting membantu menyembuhkan luka nasional akibat pandemi corona. Bagaimanapun, keindahan seni yang menghibur bisa menjadi obat tersendiri.

Brigham mengatakan teaternya tidak pernah benar-benar tutup selama pandemi. Ada sejumlah aksi sosial yang dilakukan, salah satunya pembagian paket makanan. Brigham merencanakan dua inisiatif besar menyambut kembali dibukanya gedung teater Inggris.

Inisiatif pertama adalah "Ghost Light", di mana pengunjung mengikuti tur khusus untuk menyaksikan beberapa karya baru para aktor dan mengeksplorasi karya dan riwayat teater. Tujuannya adalah untuk melibatkan penonton membentuk masa depan venue.

Teater Derby juga merencanakan acara pembuatan roti "Derby Rises" di pasar kota, di mana para peserta mengaduk adonan secara massal. Brigham mengatakan itu akan menjadi semacam ritual, dengan selingan sejumlah pertunjukan.

Brigham mengingat bagaimana pada hari-hari awal lockdown, orang-orang menimbun roti dan meninggalkan rak kosong. "Sekarang, mereka dapat membuatnya secara berdampingan. Sebuah perayaan simbolis sebelum mereka dapat kembali ke toko," ujarnya.


BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA