Monday, 20 Zulhijjah 1441 / 10 August 2020

Monday, 20 Zulhijjah 1441 / 10 August 2020

Bisakah Mengganti Utang Tidur pada Akhir Pekan?

Kamis 02 Jul 2020 14:53 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Qommarria Rostanti

Kurang tidur (ilustrasi).

Kurang tidur (ilustrasi).

Foto: www.freepik.com
Kurang tidur dapat membuat seseorang uring-uringan dan sulit konsentrasi.

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Tidur berkualitas yang dilakoni secara teratur memiliki berbagai manfaat. Mengendalikan kadar gula darah, pikiran lebih fokus, suasana hati membaik, jantung yang lebih sehat, dan prestasi atletik termasuk beberapa di antaranya.

Sebaliknya, kurang tidur dapat membuat seseorang menjadi uring-uringan dan sulit konsentrasi pada hari berikutnya. Padahal, ada berbagai kondisi di mana tidur larut malam, bahkan dini hari, tidak bisa dihindari.

Beberapa orang mungkin berpikir bahwa utang tidur ketika harus begadang pada hari kerja bisa dibayar dengan cara tidur lebih lama pada akhir pekan. Sayangnya, para peneliti Prancis melalui studi yang mereka gagas, mementahkan pendapat itu.

Penelitian melibatkan 12 ribu peserta dewasa yang hanya tidur enam jam atau kurang selama hari kerja. Waktu tersebut jauh lebih sedikit daripada waktu tidur ideal yang dibutuhkan, yaitu tujuh hingga delapan jam per malam.

Hampir seperempat dari peserta memiliki utang tidur dengan jumlah cukup banyak pada hari kerja, sedikitnya 90 menit. Jumlah rata-rata tidur harian peserta adalah enam jam dan 42 menit. Pada akhir pekan, waktunya meningkat menjadi tujuh jam dan 26 menit.

Sebanyak 18 persen peserta yang kurang tidur juga terkadang bisa menebus utang tidur pada hari kerja. Responden laki-laki bernasib lebih buruk terkait jam tidur. Hanya 15 persen dari mereka yang berhasil menyeimbangkan pola tidur

Sekitar 27 persen dari mereka sempat tidur siang setidaknya sekali selama sepekan, sementara sepertiga lainnya banyak tidur pada akhir pekan. Akan tetapi, setelah banyak tidur pada Sabtu dan Ahad, mereka tetap kelelahan dan merasa kurang tidur.

Penulis studi, Damien Leger, mengatakan utang tidur tidak dapat ditebus dan sebaiknya masyarakat mengatur pola tidur hariannya. Dia mencatat itu adalah masalah umum bagi warga di banyak negara, terutama di daerah perkotaan.

Sejumlah pemicunya adalah kerja malam, kerja shift, dan perjalanan panjang dari rumah ke tempat kerja. Penyebab lain kurang tidur yakni keterikatan berlebihan pada teknologi, seperti akses ponsel pintar dan komputer.

Kepala Pusat Tidur dan Kewaspadaan Hotel Dieu di Rumah Sakit Bantuan Publik Paris itu mengingatkan dampak buruk jika kurang tidur terus berlanjut. Efeknya termasuk diabetes tipe 2, penyakit jantung, depresi, dan cedera yang tidak disengaja.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) memperkirakan satu dari tiga orang AS tidur kurang dari tujuh jam per malam. Jumlah waktu tidur yang sangat kurang itu terus menurun selama beberapa dekade terakhir.

Kandidat doktor di bidang ilmu saraf kognitif Universitas California Berkeley, Adam Krause, yang tidak terlibat dengan studi, sepakat bahwa masalah itu sangat awam di Amerika. Dia mengingatkan bahwa kurang tidur adalah masalah tanpa obat.

Dia mengatakan kurang tidur adalah bentuk kuat dari stres seluruh tubuh. "Jadi, itu berdampak pada fungsi di setiap tingkat tubuh, dari DNA ke sel, ke organ, ke kinerja di tempat kerja atau performa olahraga," kata Krause, dikutip dari laman Science Times, Rabu (1/7) waktu setempat.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA