Thursday, 23 Zulhijjah 1441 / 13 August 2020

Thursday, 23 Zulhijjah 1441 / 13 August 2020

AS Campuri Urusan Hagia Sophia, Turki Terkejut

Kamis 02 Jul 2020 12:52 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Teguh Firmansyah

Hagia Sophia, Istanbul, Turki.

Hagia Sophia, Istanbul, Turki.

Foto: Wikimedia
Ankara menegaskan Hagia Sophia adalah milik Turki, AS tak berhak ikut campur.

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA -- Pemerintah Turki mengkritik pernyataan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo yang mendesak Ankarra agar tak mengubah Hagia Sophia menjadi masjid. Menurut Turki, Pompeo atau AS tak memiliki hak untuk melayangkan pernyataan demikian.

“Kami terkejut dengan pernyataan yang dibuat oleh Departemen Luar Negeri AS tentang Hagia Sophia,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Turki Hami Askoy pada Rabu (1/7), dikutip laman Anadolu Agency.

Dia menegaskan bahwa Hagia Sophia adalah milik Turki, seperti semua aset budaya lainnya. Pemerintah Turki menjaga dan merawat mereka tanpa diskriminasi dalam kerangka tradisi toleransi dari budaya serta sejarah.

Askoy mengatakan setiap masalah yang berkaitan dengan Hagia Sophia menjadi urusan internal Turki sebagai bagian dari hak kedaulatannya. “Secara alami setiap orang bebas mengekspresikan pendapatnya sendiri. Namun tidak semua orang bisa bicara tentang hak kedaulatan kami dalam gaya ‘kami mendesak’, ‘kami menuntut’,” ujarnya.

Pompeo mendesak Turki tidak mengubah Hagia Sophia menjadi masjid. Menurutnya bangunan bekas katedral itu harus tetap terbuka untuk umum.

"Kami mendesak Pemerintah Turki untuk terus mempertahankan Hagia Sophia sebagai museum, sebagai contoh komitmennya menghormati tradisi agama dan ragam sejarah yang berkontribusi pada Republik Turki serta memastikannya tetap dapat diakses oleh semua orang," kata Pompeo pada Rabu lalu.

Pompeo menilai perubahan status Hagia Sophia dapat mengurangi warisan bangunan yang luar biasa tersebut. "Sangat jarang di dunia modern untuk melayani umat manusia sebagai jembatan yang sangat dibutuhkan antara mereka yang berbeda agama, tradisi, dan budaya," ucapnya.

Dia berharap AS dapat mempertahankan dialog dengan Turki mengenai pelestarian situs-situs keagamaan dan budaya. Hagia Sophia awalnya merupakan gereja. Ia dibangun pada abad keenam di bawah Kekaisaran Bizantium sebagai pusat dari Kontantinopel yang kini dikenal dengan nama Istanbul.

Setelah Kesultanan Ottoman menaklukkan Konstantinopel, Hagia Sopia diubah menjadi masjid. Pada masa pemerintahan Mustafa Kemal Ataturk, Hagia Sopia dialih fungsikan menjadi museum.  Tahun lalu Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mempertimbangkan untuk mengubah kembali Hagia Sopia menjadi masjid.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA